LOGO & BRAND DI INDONESIA, GOOD VALUE ONLY WITH CORRUPTION?

April 24th, 2007

Pernah bermimpi brand atau logo yang kita buat atau designer Indonesia bikin diapresiasi senilai 80 Milyar? Hmm, barangkali iya ya… Dan apa dengan segala daya upaya kita bisa atau mampu membuatnya begitu? Hmm, no idea….

Tapi bila kita kepilih dan mau ber-KKN ternyata memang bisa dan ada peluang. Kepengen bukti? Ruar Biasa memang. Baca berita koran tentang dugaan korupsi logo Bulog sampe 40 milyar. Tepatnya pergantian logo Bulog tahun 2003 lalu memakan biaya 80 milyar. 40 milyar costnya dan 40 milyar mark upnya.

To be honest saya rela jika yang mengerjakan logo tersebut dengan seksama dan baik adalah anak bangsa ini, designer Indonesia betulan. Sangat membanggakan. Artinya bangsa kita mampu mencetak nilai. Tapi ternyata nilai besar itu hanya mark up dan buat keperluan sendiri. Wah… our value only equal with corruption ya… What do you think Bro… Lihat juga logonya…nih. But forgive me.. Ini baru dugaan katanya.

1933842200ptn.jpgKorupsi Logo Bulog Rp 40 M

Jakarta (Bali Post) -
Kasus lain dugaan korupsi yang kembali melibatkan mantan Perum Bulog Widjanarko Puspoyo mulai terkuak. Ternyata tersangka dua kasus Bulog itu dituding ikut berperan dalam dugaan korupsi proyek perubahan logo Bulog pada 2003. Nilai kerugian negara mencapai Rp 40 milyar.

Pernyataan ini disampaikan Direktur Penyidikan Pidsus Kejaksaan Agung Muhammad Salim kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/4) kemarin. Diungkapkan, kasus ini merupakan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada 2005. Hasil audit menemukan dugaan mark up (penggelembungan) nilai proyek untuk mengganti logo, stampel dan kop surat Bulog.

”Perubahan itu memakan dana Rp 80 milyar. Diduga ada mark up dalam proyek tersebut. Tetapi BPK masih melakukan audit investigasi. Kejaksaan Agung juga belum sampai (memeriksa) ke situ. Tim penyidik masih konsentrasi penanganan kasus sapi impor dan beras impor,” jelas Salim.

Untuk kasus ini, pekan lalu Kejaksaan Agung telah memeriksa sejumlah saksi dari Perum Bulog yang diduga mengetahui kasus ini. Pemeriksaan itu untuk klarifikasi hasil temuan dalam penggeledahan di gedung Bulog beberapa waktu lalu. Hasil temuan tersebut merupakan barang bukti yang signifikan terkait kasus ini.

Dalam kasus ini, berawal pada 2003 ketika Bulog melakukan perubahan logo, seiring pergantian jabatan dari pimpinan Bulog dari kepala menjadi direktur utama. Dana yang dihabiskan mencapai Rp 80 milyar. Dana Rp 40 milyar digunakan untuk mengganti logo, stempel dan kop surat. Sedangkan Rp 40 milyar diduga merupakan mark up dari proyek tersebut.

Sementara itu, tim penyidik gagal memeriksa teman dekat tersangka Widjanarko yang berinisial ERN. Saksi tidak hadir di gedung bundar tanpa ada alasan. Padahal, penyidik perlu memeriksanya untuk mengetahui aliran dana lain dari kasus penerimaan hadiah (grtifikasi) terhadap Widjanarko atas pengadaan impor beras asal Vietnam pada 2001-2003.

ERN alias Elly ini tahu banyak mengenai kegiatan Widjanarko, sehingga perlu diklarifikasi lebih lanjut. ”Kami akan melakukan pemanggilan kembali. Tetapi belum ditetapkan jadwalnya. Sedangkan tersangka Widjanarko kami akan periksa lagi pekan depan,” ujar Salim.

Pemanggilan kembali juga akan dilakukan terhadap putri Widjanarko, Winda Nindya Puspoyo. Ia juga mangkir dengan alasan sakit livernya kambuh. Tetapi tim penyidik telah menjadwalkan pemeriksaannya lagi Rabu (18/4) besok. Winda dimintai klarifikasinya atas pengakuan menerima uang dari Widjokongko yang dianggap sebagai pinjaman. Tetapi tidak dijelaskan pinjaman itu untuk apa. (kmb3) Bali Post

Adgi PUNYA KOMANDAN BARU

April 20th, 2007

Adgi, Asosiasi Designer Professional Indonesia baru saja merampungkan kongresnya di Jakarta 20 April 2007 dan telah berhasil memilih komandannya Danton Sihombing MFA dari Inkara Design, Jakarta yang juga dijuluki “master tipografi Indonesia.”

Dalam emailnya, sang komandan baru adgi menyampaikan ‘PROGRAM LOKOMOTIF Adgi 2007-2010′ yang dipresentasikannya merupakan sebuah arsitektur pemikiran untuk membangun basis-basis pengembangan produk Adgi yang selaras dengan visi Adgi yaitu menjadi sebuah organisasi profesional desainer yang kredibel dan bereputasi yang mampu melayani, melindungi dan memajukan karir dan usaha para anggotanya. (untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Majalah Concept edisi mendatang serta akan di upload di www. adgi.or.id—60 hari kerja terhitung sejak tanggal 19 April 2007).
Selamat Pak Danton. Jangan lupa wilayah kekuasaan Bapak bukan hanya Jakarta tapi seluruh Indonesia. Kita sangat berharap pada kepemimpinan Adgi yang sekarang kemajuan yang dicapai akan lebih nyata dan berarti. Viva Adgi.

LAUNCHING INVITATION WORLD MUSIC ALBUM

April 18th, 2007

Salam budaya, Apa yang telah digagas oleh Gung Alit lewat karya musikalnya, seakan telah membawa Bali ke dunia yang berbeda. Ini jelas berkat kegigihan Gung Alit sendiri di dalam menangkap fenomena musik secara utuh, kemudian dengan kekuatan imajinasi dan kreativitasnya dikemas kembali dengan instrument yang berbeda, tentu pula dengan arangement versi Gung Alit. Hasilnya cukup luar biasa. Nuansa Bali masih kuat di dalam rangkaian melodi musiknya ….. halus, lembut. Secara umum yang saya tangkap dari musik karya Gung Alit adalah bahwa dia ingin membuat sesuatu yang baru, yang kontemporer dengan tidak berusaha lari dari elemen-elemen tradisional Bali sebagai dasarnya. Ini sangat sejalan dengan pendapat Prof. Dr. I Wayan Dibia mantan Rektor Isi Denpasar yang mengatakan bahwa elemen tradisional Bali adalah akar dari kesenian modern yang lahir kemudian. (Agung Rai, Founder Agung Rai Museum Of Art)

Terlahir dari keluarga seniman, ia meneruskan darah sang ayah, I Gusti Gede Rai, maestro tari kecak yang dikenal dekat dengan penulis juga seniman Walter Spies. Berawal dari tradisi Bali yang begitu kental, sejak umur 10 tahun sudah aktif berkiprah didunia seni, menciptakan alat-alat musik yang sangat sederhana sekaligus mengenal dan mempelajarai karakter dari alat-alat musik diluar budaya Bali.Gung Alit dituding melakoni kreasi musik yang tidak wajar bagi aura telinga orang Bali. Diapun seakan tak sanggup menjadi ahli waris dari kelebat seni ayahnya, I Gusti Gede Rai yang maestro seni cak dan pragina topeng mumpuni. Sebaliknya, orang jarang tahu kegilaan Gung Alit sebagai sebuah bentuk pemberontakan dirinya terhadap monotonitas dan plagiasi (peniruan) gaya bermusik sebelumnya. Baginya konsep dalam bermusik sangat sederhana; mencium bunyi alam dan meramu kepekaan imajinatif yang estestis. Itu diterjemahkannya dalam kiblat menangkap segala bunyi yang menggoda relung hatinya. Sampai akhirnya hasil penciumannya diterjemahkan dalam dua buah album “Kishi-kishi Whisper” yang dirilis tahun 2002, dan “Kishi-kishi Whispering” yang diluncurkan pada:

Hari/tgl : Sabtu, 21 April 2007
Jam : 19.00 wita
Tempat : Open Stage, ARMA museum and resort Pengosekan, Ubud Gianyar.

Bagi teman-teman pers, kami akan mengadakan Jumpa Pers pada:
Hari/tgl : Kamis, 19 April 2007
Jam : 09.00wita
Tempat : Sanggar Bona Alit Banjar Bona Kelod, Desa Bona, Gianyar

producer: I Gst. Lanang Alit Adnyana, executive producer: Ufi, line producer: Ocha, program director: Kristiawan, director: A. Alit, talent coordinator: Agung Rai, artistik&videoart: Yonas, stage sett: Tupai, Ngurah Sidemen, areal manager: Arso, Sound&lighting: Rama Sound, light man: Deden Bulqiny, video clip: palang hitam & mouse attack.