SELF PORTRAITS

May 23rd, 2007

KK Self Portrait

My son Kharis (KK), 5 years old in next July he just knows how to use my digital camera and excited about that. So many abstract shoot during his new exploration with the camera but once I found some his self portraits on the camera. Modern time always surprised to me. I just imagine when I was his age maybe I still cry when camera shot over me. How about you? When was your first self portrait made?

HERITAGE by IKA MARDIANA di JAKARTA FASHION & FOOD FESTIVAL 2007

May 14th, 2007

Ayip-Ika@JFFF 2007Sangat beruntung bisa hadir di JFFF 2007 melihat langsung koleksi HERITAGE Ika Mardiana di catwalk pada hari Minggu 12 Mei 2007 di La Piazza Kelapa Gading, karena sebelumnya hanya mendengar cerita Ika mengenai show HERITAGE ini di Hong Kong tahun lalu.

Lebih dari 30-an koleksi Ika pada fashion show HERITAGE diperagakan oleh model-model ibukota. Karya fashion yang diinspirasi dari masa kecil seorang Ika di Sumatera dan Betawi dengan nuansa pecinan yang klasik. Keindahan masa kecil dan perjalanan indah seorang Ika menjadi gagasan rancangan yang didominasi warna sephia serta warna alam dan warna merah dalam komposisi potongan, ornamen dan penuangan khas ala Ika; bordir, rajut, patchwork yang eksploratif bahkan eksperimental. Saya dan beberapa teman memandang signature style nya ini memiliki kharisma dan cenderung beyond fashion. Sebuah artwork layaknya karya seorang seniman. Inilah sesungguhnya yang membedakan Ika dengan karya designer lainnya. Eksplorasi kreatifnya ini barangkali juga didukung cita-cita nya dulu menjadi seorang pelukis.

Coba simak puisi Ika yang menggambarkan gagasannya tentang HERITAGE:

Selintas kenangan indah
Menjelajahi akar
Sumatera Utara
Masa Kecil di Pematang Siantar
Gaun Cheong Sam Mama
Alunan lagu Wang Bu Liao
Gambar gambar, naga, merak, phoenix, Merah, hijau, biru, sephia
Aroma kopi yang baru diseduh. Hutan karet
Inang-inang. Pasar. Godang Batak.
Remaja ibukota Jakarta, melting pot Indonesia. Siluet kebaya.
Minoritas. Tanah airku. Warga Negara Indonesia di dunia global.
Renungan identitas.
Satu, meskipun berbeda-beda.

IKA

Tidak hanya eksplorasi kreatif dalam fashion namun dalam kemasan pementasannya. Ia kerapkali menghadirkan seniman lain. Seperti yang Ia lakukan di JFFF 2007 dengan menampilkan koreografer dan penari kontemporer I Nyoman Sura dan juga Niki, seorang DJ muda dari Bali.

Sebuah fashion show dipandangnya sebagai sebuah pertunjukan seni sehingga seluruh aspeknya sangat diperhatikan. Tidak heran jika para pemirsa malam itu kerapkali bertepuk tangan ketika muncul model-model yang membawakan karya Ika dengan desain yang mengagumkan. Bahkan ketika show usai dan Ika dipanggil untuk tampil, sekitar 10 karangan bunga diberikan kepada Ika oleh tetamu khusus malam itu semisal Poppy Dharsono, Dewi Motik dan beberapa istri pejabat negara juga icon di dunia fashion. Ucapan selamat layak diberikan bagi Ika dengan semangatnya yang tak kenal lelah menginspirasi banyak desainer muda Indonesia, seperti kedatangannya untuk show ke Jakarta saat itu. Sehari sebelumnya, ketika para jurnalis fashion ibukota memintanya untuk interview dengan senyum ia mengatakan, „Silakan interview yang lain saja…“ Begitulah perjalanan membawa dan membentuk seseorang. Seorang desainer….

RAMA SURYA ART EXHIBITION

May 11th, 2007

Rama Surya yang fotografer itu tanggal 10 Mei 2007 lalu melangsungkan pembukaan pameran seni tunggalnya yang pertama di Salim Gallery Jalan Oberoi Seminyak. Di Galeri berukuran sedang ini dipamerkan foto dan lukisan karya Rama Surya. Foto-fotonya tidak diragukan lagi. Dengan hitam putihnya pada beberapa koleksi karyanya termasuk hasil perjalananya ke China dua bulan lalu. Masih menyambung kreasinya terhadap tema nude dari pameran sebelumnya (http://somebali2love.blogspot.com)

Lukisan yang dipamerkan Rama bersama foto-fotonya adalah statement pertama Rama dalam sebuah pameran. Tentunya ini merupakan hal bersejarah bagi dirinya. Apakah Rama menganggap medium fotografi sudah tidak dapat lagi mengekspresikan kreatifitasnya sehingga dia memerlukan medium baru atau persinggungannya dengan banyak pelukis membuatnya tertarik bermain pada bidang kanvas?

Yang jelas beberapa tahun lalu ketika dia memulainya sempat saya diajak ke studionya untuk melihat lukisan-lukisannya yang sebagian besar belum selesai bahkan ada lukisan besar yang tergantung di studio pelukis Budhiana. Ketika diminta mengomentarinya saya merasa ragu. Bukan pada karya-karya yang baru dimulainya. Tapi pada kesungguhan pilihannya untuk melukis secara serius sebagaimana seorang seniman lukis melakukannya. Atau barangkali saya terlalu narrow membentuk pemikiran bahwa seseorang melukis itu selalu hanya untuk tujuan yang sama atau tunggal.

Hanya Rama Surya yang tahu dan saya akan senantiasa menantikannya. Menantikan hari-harinya menapaki waktu dengan kamera dan kanvasnya. Akankah satu diantaranya tewas, atau keduanya hidup berdampingan dengan bahagia? Harus kita sediakan ruang dalam diri kita bagi perubahan yang terjadi atas orang-orang sekitar. Less or more, adalah milik semua orang. Dan posisi seseorang begitu strategis untuk menjadi kawan atau lawan. Seperti kekaguman saya pada beberapa lukisannya yang saya takutkan membuatnya segera puas. Hmm, berkesenian…. apakah akan selalu menjadi dilema?