SUPERMAN IS DEAD & KUTA IS ALIVE
Kuta Beach on sunset time. Sunday 25 Nov 2007. SID interviewed
by Bali Now! Rama Surya photographed using old skool Hasselblad.
Kuta Rock City…bgt! Go SID Go…
APA TEMA DESKTOP BERIKUTNYA?
Desktop theme di laptop saya harus sudah berubah. Ya, desktop buat saya adalah sebuah ekspresi waktu. Thema Bali Fashion Week yang baru saja usai menandai masa berakhirnya desktop itu. Lalu apa yang terbaru? Malam ini masih sedang bertimbang, apakah climate change yang desainnya baru saja jadi minggu lalu atau salah satu project yang hampir deadline. Tapi, 3 project ini deadline jangka pendeknya sama. Ketiganya harus selesai sebelum Climate Change Conference dimulai karena semua turut dalam program itu. Wah, lumayan bingung juga jadinya. Sempat terpikir untuk pasang sebuah project social campaign yang batal tampil saja. Tentang Indigenous People yang merupakan integrated campaign untuk Climate Change Conference juga. Strateginya pake street campaign dan art performance segala. Tapi sayang urung tampil karena hal teknis. Padahal pengerjaannya enjoy banget. Pada visual campaignnya ada foto-foto Poriaman Sitanggang ketika merekam Papua dan menggambarkan kemegahan sosok Papua dalam tubuh tanpa latar belakang. Si Bung Por yang ketika memotret harus memanggul peralatannya sampai di kedalaman Papua telah menemukan kesejatian orang Papua dalam gambarnya. Dalam campaign Agus Waworuntu menambahkan headline ARE WAITING (tanpa question mark). Hmm.. Kita (maunya) mengarahkan perhatian para peserta Climate Change Conference kepada para indigenous people dengan sisa tanah dan hutan yang mereka punya. Ditengah hiruk pikuk agenda konferensi, apakah mereka menunggu hasilnya? Atau mereka boleh hadir disana dengan sebuah sapaan?Â
Kembali kepada kebingungan macam ini, saya hanya dapat bertanya kepada suatu waktu dimana saya meinkmati kesendirian. Biasanya ada “petunjuk†yang melegakan. Saat ini, badan masih penat dan pikiran masih padat mengurai ketegangan selama Bali Fashion Week. Atau ada ide mana yang harus saya pilih? Barangkali saya harus menggunakan penilaian orang lain yang lebih berjarak dengan pekerjaan saya. Please help, Sebab membiarkan desktop kosong adalah perbuatan tercela.
Filed under My Work | Comments (2)
THE MAN BEHIND THE CREATORS
Disela perhelatan fashion show malam pertama di 07 Bali Fashion Week di Pantai Kuta, saya ngopi di sebuah cafe ditemani Rudy AO dan Nelly. Rudy AO yang namanya telah sering saya dengar dan ternyata beberapa kali pernah jumpa ini ternyata baru sekitar 2 minggu lalu declare bahwa kita pernah ketemuan sebelumnya tapi “meneketehe” kalo Rudy yang sudah jumpa ini adalah Rudy AO yang illustrator itu.
AO, begitu dia biasanya dipanggil adalah seorang Sunda yang juga sama dengan saya kini menjadi orang Bali. Ketika bertemu gaya dan bahasanya masih “sunda pisan”. Membuat saya teringat tanah priangan. Kita ngobrol soal seni dan pekerjaan (yang notabene seni juga). Rudy AO yang seorang arsitek ini mengkhusus pada illustrasi architectural, landscape dan interior juga termasuk di dalamnya. Pertamakali karya dan namanya diperkenalkan oleh Yoka Sara ketika memperlihatkan salahsatu pekerjaannya di Canggu yang digambarkan oleh illustrasi Rudy AO. Dan malam itu saya diperlihatkan portfolio selengkapnya atas assignment beberapa biro arsitek maupun lanscape dan interior terkemuka. Ketekunannya dengan garis dan bidang yang dibuat pencil, watercolour, cat minyak maupun digital media membuat karya-karya yang dibuatnya sangat khas dan “hidup”. Itu barangkali mengapa jasanya sangat diminati oleh para kreator dalam memvisualkan rancangannya.
Dari sana saya nyeletuk kenapa ngga “berkesenian” saja. Maksudnya mengapa talentanya ini tidak dikembangkan juga di sisi yang lain menjadi semacam ekspresi “visual art” saja. Dan ternyata pancingan ini “mengena. Saya diperlihatkan juga “personal project”nya beberapa karya di atas bidang kanvas dengan tema wayang. Ini menjadi future visionnya juga untuk berekspresi. Seperti halnya realisme dalam seni lukis yang mudah untuk dinikmati oleh orang kebanyakan, karya Rudy AO berpotensi meramaikan khazanah seni lukis realis Indonesia. Bahkan, dengan jaringan yang telah dimilikinya sangat mungkin menyeberang ke negara lain pula. Hmm.. apakah saya sangat pretensius atau hanya “kompor gas” belaka ?
Malam itu kita berhenti bicara gara-gara “diusir” karena jam kerja kafe sudah selesai. Well, menarik bertemu dengan seorang kreator yang ada dibalik beberapa kreator. I hope soon will see his studio in Sanur. Gambar diatas adalah petikan dari komik yang juga dibuatnya. Wanna see more of his works? www.aoillustration.com
Filed under Friends | Comment (0)









