“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA
Tiba tiba malam ini saya membayangkan mentalitas macam apa yang dimiliki “vintage” friend saya Jeffrey Polnaja atawa kang Jeje atau JJ yang berkeliling dunia naik motor dan sendirian. Apakah kebanyakan orang akan berpikir “euweuh gawe” alias kagak ada kerjaan atau sebaliknya ?
Jangan keburu berpikiran macam macam, misi dia dengan aktifitas ini adalah „Ride for Peace“ misinya didefinisikan sebagai : “dedicated mission for Worldwide Peace. The road to recovery through the virtue of strengthening people to people ties between Indonesia and the world; touching the hearts and minds of the world societies.” Ia secara resmi menjadi duta Indonesia bagi perdamaian demikian Adhyaksa Dault ketika melepas anak muda asal Bandung ini pada 23 April 2006 di Jakarta. Saya memang merasa bersalah. Selepas start yang dilakukannya di Jakarta itu saya bilang saya akan menulisnya sebagai rasa simpati. Tapi entah kenapa hingga Oktober 2007 saya baru diingatkan lagi ketika serombongan teman dari Bandung datang bercerita tentang dia dan saat itu berusaha menelpon Kang Jeje lewat selularnya namun tidak aktif. Lalu saya pun tak ingat lagi selepas itu.
Kang Jeje saya kenal di klub VW sepuluh tahun lalu dan merupakan salah satu senior di klubnya Volkswagen Club Bandung. Jeje atau JJ yang menjadi nickname-nya adalah singkatan dari “Jurig Jalanan” atau “Phantom of the Road”, jiwa adventurnya memang sangat kental melekat pada dirinya. Jika kita bertemu muka dengannya segera kita akan tau karakter “ngoboy”-nya. Jauh sebelum menjalani “ride for Peace” ini ia telah mengalami banyak petualangan baik yang dilakukannya secara grup maupun sendiri dengan naik motor. Solo tripnya yang pertama dengan motor dilakukannya tahun 1978 dengan menggunakan motor CB 100 dari Bandung ke Bali return. Ia aktif dan berprestasi di olahraga berkuda dan bermotor mewakili Bandung dan Indonesia. Tahun 1996 terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Mantila Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.
Dengan menggunakan Motor BMW R1150GS `Adventure` bernomor polisi D 5010 JJ yang diberi nama Mahesa (bahasa Jawa yang artinya “kerbau”) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc dapat „digeber“ dengan kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram. Rute yang dilalui Kang Jeje terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Diprakirakan petualangan perdamaiannya ini akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.
![]()
![]()
![]()
Sekelumit kisahnya dapat kita lihat di situs resmi “Ride for Peace”. Dalam emailnya dia menulis: “Banyak yang menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” bahkan pernah nginap gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam yang menanggung adalah seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.
Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Kang Jeje yang ramah, gampang
bergaul, dan komunikatif. Walau hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, ia biasa menggunakan bahasa “tarzan”. Dan ternyata bisa dipahami. Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Kang Jeje adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Kang Jeje berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Kang Jeje lewat. Hebring Euy…
Makna misi perdamaian Kang Jeje makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Kang Jeje tak mengalami masalah.
![]()
![]()
![]()
Semua kisah dalam perjalanannya dituangkan dalam diary termasuk merasakan dingin menunggang Mahesa di wilayah pegunungan Himalaya dengan suhu minus 18 derajat celcius. Dalam perjalanannya yang edan ini Kang Jeje telah merekam lebih dari 30.000 gambar dan merusakkan 4 kamera. Kelak, katanya jika sudah usai perjalanan ini akan membagi pengalamannya yang lengkap dalam sebuah buku, agar banyak anak bangsa terinspirasi oleh perjalanannya.
Lalu dimanakah saat ini dia berada? Melihat update info di situs “Ride for Peace” sekarang ia berada di Rumania dan masih panjang perjalanannya untuk kembali ke negeri tercinta ini. Apa benar misinya ini efektif sebagai misi perdamaian dunia sekaligus duta pariwisata Indonesia? Kalo tidak percaya ketik namanya di search engine dan lihat satu persatu komentar dan berita tentangnya di Negara-negara yang dilaluinya. Yang ia lakukan menurut saya sesungguhnya adalah bagian dari program “Branding Indonesia” ke mancanegara yang dilakukan secara independent alias inisiatif sendiri. Bukan hanya untuk kebanggaan tapi juga untuk menunjukkan ketangguhan bangsa. Maka marilah kita doakan Kang Jeje semoga misinya tercapai, perjalanannya lancar dan kembali ke Indonesia dengan selamat. Dan semangatnya mampu memotivasi kita untuk berkarya menjadi duta Indonesia. Buat Kang Jeje, whatever people said, you are the one! Perahu dibuat bukan untuk ditambat di pelabuhan, Ia harus mengarungi samudera dan hanya singgah di pelabuhan….
Sabtu 15 Maret 2008
Diolah dari berbagai informasi
PAWAI OGOH OGOH (DIYAKINI) SEBAGAI STREET FESTIVAL TERBESAR DI INDONESIA
Sekurangnya telah 10 kali saya menonton pawai ogoh ogoh di kota Denpasar setiap sebelum perayaan Nyepi dan alangkah luar biasa pada tahun ini menyadari betapa acara ini sangat besar dan megah. Bayangkan, tiap warga banjar membuat sekurangnya dua ogoh ogoh dengan biaya swadaya atau sponsor lalu jalanan menjadi prioritas bagi pawai ogoh ogoh. Tanpa ijin keramaian, tanpa biaya keamanan sebagaimana layaknya sebuah acara toh polisi dikerahkan di segala penjuru kota untuk mengamankan acara ini. Tahun ini media melansir ada sekitar 4000 ogoh ogoh dibuat dan diarak di masing-masing lingkungannya. Sebagai gambaran saya yang menonton di jalan Veteran Denpasar dari jam 6 sore baru benar-benar bisa pulang sekitar jam 12 tengah malam ketika pawai ogoh ogoh usai. Belum ada yang mengklaim tapi saya yakin inilah festival jalanan terbesar di Indonesia.
Yang menarik adalah keterlibatan tim dari tiap banjar mempersiapkan segala sesuatu sebelum pawai berlangsung. Dari mulai membuat tokoh ogoh ogoh di banjar masing-masing dengan kreatifitas dan ukuran beragam, mempersiapkan atribut tim berupa kaos dan spanduk serta kelengkapan lain. Jika dulu ogoh ogoh betul-betul digotong oleh sekelompok orang kini telah disediakan sebuah pengangkut dengan roda sehingga menjadi lebih mudah dan ringan ketika dibawa. Tidak jarang kini ogoh-ogoh dibuat dengan menggunakan mekanis sederhana sehingga dapat berputar atau bergerak sesuai dengan gayanya. Tata cahaya dan tata suara pun ditambahkan sehingga menjadi lebih “hidup” dan modern. Inilah pesta rakyat dengan biaya swadaya terbesar. Jika ingin kalkulasi yang sederhana mengenai biaya yang dikeluarkan maka untuk mudahnya kita ambil biaya rata rata pembuatan per ogoh ogoh adalah dua juta rupiah maka untuk empat ribu ogoh ogoh diperlukan biaya sebesar delapan ratus juta rupiah. Ditambah biaya atribut, aksesori dan konsumsi maka angkanya secara total dapat mendekati 2 M. Luar biasa!
Pawai ogoh-ogoh yang berlangsung tiap tahun ini memang bukan bagian ritual dari perayaan Nyepi namun lebih menjadi bagian kreatifitas dan budaya manusia Bali. Pawai ogoh-ogoh dilakukan untuk memeriahkan pengerupukan pada malam menjelang Nyepi. Budaya membuat dan pawai ogoh-ogoh telah dimulai sejak tahun 1980-an, setelah diarak berkeliling oleh warga kemudian ogoh-ogoh dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini merupakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat. Namun tidak demikian dengan yang terjadi saat ini. Tokoh ogoh-ogoh yang dibuat tidak lagi sebagai golongan Bhuta Kala. Budaya pop dan kekinian telah menginspirasi tokoh-tokoh baru baik koruptor, tokoh film anak, punk rock, bahkan tokoh idola. Tak jarang diantaranya bernuansa porno dengan mengekspos “daerah terlarang”. Tidak jelas pakah penokohan ini merupakan sebuah kesadaran menterjemahkan simbol Bhuta Kala dalam format modern yang harus diwaspadai atau hanya kreatifitas semata. Namun pembakaran ogoh-ogoh seperti yang dilakukan sebelumnya jarang terjadi. Yang ada bahkan banyak ogoh-ogoh berserak di beberapa bagian jalan setelah pawai usai. Pembenahan lain tentunya pada kedisiplinan tidak mengotori jalanan dengan sampah bekas minuman, minuman keras dan petasan juga harus ditertibkan demi menjaga keamanan dan kesempurnaan makna Nyepi.
Jika pawai ogoh-ogoh ini sedemikian besarnya maka apakah ada potensi untuk membuatnya menjadi sebuah peristiwa budaya yang dikelola lebih baik lagi? Pariwisata budaya yang telah menjadi predikat Bali tentu akan bertambah seru jika mengagendakan pawai ogoh-ogoh sebagai festival jalanan yang layak diapresiasi oleh wisatawan. Apalagi setelahnya ada Hari Raya Nyepi dimana para wisatawan dapat diajak untuk hening dan melakukan kontemplasi di pulau Dewata ini. Karnaval jalanan di Pasadena atau di Rio yang sohor itu barangkali tidak lebih besar dari pawai ogoh-ogoh di Bali. Selamat Tahun Baru Caka 1930.
Filed under events | Comment (0)









