SURPRISE! ORGANIC FOOD FROM THE VILLAGES OF BALI

May 26th, 2008




Minggu, 24 Mei 2008 sangat beruntung saya mendapat kesempatan menyaksikan kesibukan masyarakat desa Sibetan-Karangasem, Tenganan-Karangasem, Plaga-Badung dan Nusa Ceningan mengolah makanan dan minuman khas desa mereka di Loloan Restaurant Seminyak. Para perwakilan masyarakat 4 desa tersebut tengah menguji dan membuat presentasi resep masakan khas desa masing-masing dengan dibantu chef dari Loloan restaurant untuk nantinya disajikan pada acara peringatan 6 tahun perjalanan program Jaringan Ekowisata Desa pada tanggal 4 Juni 2008 mendatang. Keempat desa tersebut adalah anggota Jaringan Ekowisata Desa Bali bersama Yayasan Wisnu sebagai fasilitatornya.

Jaringan Ekowisata Desa (JED) adalah program yang dirancang untuk kemandirian desa bagi pelaksanaan ekowisata yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan di Bali sebagai destinasi pariwisata Internasional. Menyajikan makanan dan minuman khas bagi para tetamu di acara 6 tahun program JED nanti merupakan bagian eksplorasi program akan kekayaan local indigenous.

Masyarakat desa anggota JED sebelumnya telah mendata makanan dan minuman khas yang masing-masing mereka miliki lalu menuliskan bahan-bahan serta resepnya dan ternyata ketika didata dari 4 desa tersebut terkumpul 300-an resep makanan dan minuman aseli yang secara turun temurun dijadikan menu sehari-hari atau pada saat acara khusus, namun tidak jarang beberapa diantaranya sudah jarang dimasak lagi. Yang menjadikan kekaguman dan surprise adalah semua makanan tersebut kategorinya organic food, sesuatu yang saat ini oleh Barat dijadikan kampanye makanan yang dikategorikan “sehat” ternyata bagi penduduk desa bukan lagi barang baru. Bahan makanan yang mereka pakai adalah apa yang ada di sekitar mereka bahkan sesuai dengan kekhasan desa mereka. Mereka mengolah bahan makanan dan minuman yang didapat dari kebun atau hutan, dari pantai atau laut di areal yang menjadi tempat tinggalnya.

Antusias perwakilan masyarakat desa yang tengah melakukan uji coba resep-resepnya ini berubah makin menjadi optimisme dan semangat demi melihat sentuhan akhir pada presentasi makanan yang dikemas demikian indah dan mengundang selera. Mereka takjub melihat makanan sehari-harinya menjadi sangat “cantik”. Ternyata kolaborasi chef restaurant dan “chef kampung” ini membuat surprise bagi keduanya.

Ketika sesi uji rasa dilakukan, semua berkesempatan mencicipi masakan yang disajikan dan ditengah nikmatnya waktu bersantap, kelakar masyarakat terlontar menggunjingkan kedahsyatan “kolaborasi” yang baru saja mereka lakukan serta rasanya yang semakin “mak nyoss”. Bahkan demi melihat persiapan, proses dapur mengolah bahan dan memasak serta presentasi makanan yang diujicoba resepnya, sudah terasa prasyarat kebersihan dan kesehatan makanan bagi makanan untuk dikonsumsi di sebuah “restaurant” telah terpenuhi.

Sore itu, di jalan pulang seusai food test yang saya alami saya berkhayal tentang desa-desa di Bali yang menggali kembali resep-resep khas desanya masing-masing lalu dipresentasikan dalam sebuah acara, program dan publikasi memadai dan menarik bagi khalayak. Biar semua tahu kekayaan kuliner Bali dan kedahsyatan koleksi organic food Bali lalu menjadi sebuah keyakinan baru peluang kuliner Bali menjadi “majikan di rumahnya sendiri”. Untuk membuktikan cerita ini, berdoalah Anda diundang di acara 6 tahun JED 4 Juni 2008 atau bagi press, diundang pada tanggal 2 Juni 2008 untuk turut “mencicipi” kehebatannya. This is “Ajeg”, isn’t it?

I SEE INDONESIA DI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA

May 19th, 2008

I See Indonesia
350 tahun (konon) Indonesia dijajah Belanda, dan 100 tahun usia Kebangkitan Nasional Indonesia. Apakah secara matematis kita perlu 150 tahun lagi untuk “murni” merdeka dan mengimpaskannya? Bicara Indonesia sebetulnya bagi saya “menakutkan” apalagi bicara nasionalisme atau patriotisme. Seakan kata itu menjadi barang langka bahkan cenderung elitis dan sakral. Atau malah kamuflase karena banyak yang memanipulasi artinya? Wallahualam.

Saya hanya mau menawarkan sesuatu yang soft & light untuk menyudahi “kengerian” membicarakan Indonesia, patriotisme dan nasionalisme. Ada 50-an visual yang saya buat semenjak 2002 mengenai Indonesia yang dibukukan dan diluncurkan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia 20 Mei 2008. Dan buat melaunchingnya, situs Desain Grafis Indonesia adalah virtual venue yang menjadi tuan rumahnya. Selamat menikmati…dan menjadi Merdeka

Salam,
Ayip
Ayip I see Indonesia

SOME OF I SEE INDONESIA

May 19th, 2008

Do It Right Mendung Tapi Gagah
For Lease 100 YearsMerdeka 100 Km If These All Larger

See more at I See Indonesia