LAND UNDER THE RAINBOW ITU THE DIFFERENT INDONESIA
Satu lagi dari Indonesia, karya anak Indonesia aseli yang bermimpi melihat Indonesia (begitu penuturannya) dari angle seekor Rajawali (yang sedang terbang pastinya): The Different Indonesia!
Koleksi karya hebat yang menantang kegelisahan -demi mengobati rasa harkat martabat bangsa yang “dipecundangi”- menjadi sebuah kreatifitas.
Carut marutnya Imaji Indonesia di dunia internasional seakan hal yang melekat pada bangsa kita. Teroris, Keamanan Terbang, tidak ramah lingkungan, kacau balau, dst adalah isu yang beredar bak jamur di musim hujan. Sejujurnya ada dua hal yang menjadi inti dari permasalahannya: Satu, Kita memang sangat lemah mempraktekan faktor-faktor penting menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Dua, tiadanya perlawanan yang berimbang membangun pencitraan atau “bela diri” yang “cantik” dimana semua bahasa dunia tengah memasuki era kampanye branding yang kreatif dan strategik.
Mencermati karya M. Arief Budiman, seorang teman yang lebih beruntung dari saya (karena nama kita sama namun dia memiliki M didepan namanya yang jelas lebih meaningful) sangat menarik. Seorang pemikir kreatif yang bersama timnya, Petakumpet menjadi Best Agency beberapa kali di Pinasthika Ad Festival, Seorang kandidat IYDEY-ajang pemilihan creative entepreneur muda Indonesia dan kini ketua ADGI Chapter Jogja. Karya The Different Indonesia-nya menggabungkan fungsi PR dengan kreatif dengan berani dan lantang. Sangat PD gitu!. Mengajak kita juga menjadi PD.

Sebagai inisiatif saya sependapat dengannya, personal work bagi seorang desainer memang harus dibuat. Tidak perlu menunggu klien jika ingin berkarya. Menunggu pemerintah dengan pemahaman global dan visi yang kuat membangun Branding Indonesia yang hebat masih memerlukan waktu. (Terima kasih kepada pemerintah yang tengah bergiat membangun gerakan ekonomi kreatif yang realistis). Personal works, seperti juga yang saya buat dalam I See Indonesia, adalah karya yang berpeluang memberikan inspirasi sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya membangun imaji bangsa secara serius. Dan selaku unofficial works, ke-casual-an karya-karya ini ekspresinya sangat penting. Ia merefleksikan kebebasan bereksplorasi.
Omong-omong soal pencitraan Indonesia, Hal menarik dalam penggalian official branding negeri kita, esensinya seringkali tak nampak. Bias atau samar, entah karena bingung mulai dari mana atau disorientasi. Study + Research yang menjadi prasyarat utama hanya di permukaan saja dan bukan kebutuhan. Pada akhirnya biaya menjadi kambing hitam karena kita lantas mengaku tak punya uang. Uang tak ada untuk membangun bangsa dan negara?
Memahami Pencitraan Indonesia saya menganjurkan membaca terlebih dahulu karya Mochtar Lubis, Indonesia:Land Under The Rainbow:
Originally written in Dutch, Indonesia: Land Under the Rainbow is the first popular history of Indonesia to appear in English. Written in an extremely accessible style, the book offers a narration of the highlights of Indonesian history through Indonesian eyes. 1991 by Oxford University Press, USA
Sebagai brief dasar tentang Indonesia buku ini ditulis dengan penjiwaan Indonesia, kita bukan saja akan hanyut tapi menjadi gelisah tak berkesudahan. Betapa Indonesia bukan hanya narasi tetapi sebuah jiwa yang kaya. Pada proses ini akan timbul upaya yang kuat menggali kata “bangkit”.
Mas Arief Petakumpet-begitu saja saya memanggilnya- menawarkan model pemikiran “bangkit”. Ia memang tidak menunggu “dipinang” oleh Indonesia. Tetapi dia “meminang” Indonesia dengan “The Different Indonesia”nya. Dan Indonesia memang menunggu dipinang oleh segenap bangsanya. Selamat Mas Arief !, saya bersedia bersekongkol.
Tulisan yang berhubungan:
1. Siapa Mendamba Indonesia yang Berbeda?
2. Kampanye Kreatif dan Perjuangan Kolektif
One Response to “LAND UNDER THE RAINBOW ITU THE DIFFERENT INDONESIA”
Leave a Reply










saya tepuk tangan saja. saya baru itu bisanya.
ayo bangkit. lawan FPI!!!
*lalu tepuk tangan..