KREATIFITAS, AKAN(kah) MENJADI MOMEN KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA (?)

June 27th, 2008

“Tidak akan berubah nasib sebuah bangsa tanpa upaya perubahan dari bangsa itu. Petikan bebas dari sebuah kitab suci yang dapat memotivasi keyakinan kita”

Handicraft design from Asia Line BaliRecycled product become fashion creationAlunalun Indonesia

1. Handicraft kreasi Asia Line Bali
2. Kreasi Fashion dari materi daur ulang pada Bali Fashion Week
3. Alun-alun Indonesia, model pemasaran kreatifitas Indonesia

Kita Sudah Melakukannya, Kini Lebih Menggairahkan
Saya ada kabar baik. Seorang teman, penggiat bidang kreatif seperti saya sangat takjub dan terkejut ketika diingatkan bahwa dunia yang ditekuninya selama ini menjadi seorang arsitek berpotensi mendorong peningkatan perekonomian Indonesia secara nyata. Lebih jauh lagi hal ini menjadikannya terharu dan memiliki insight untuk bekerja dan berkreasi lebih baik lagi. Hal serupa saya share juga dengan teman-teman lain yang perupa, pesastra, musisi, penulis, penerbit, designer dan teman serta klien betapa melalui bidang kreatifitas secara nyata mampu mencetak nilai yang signifikan baik bagi dunia mikro yaitu dirinya dan lingkungannya maupun dunia makro yaitu bangsa dan negaranya. Dan bayangkan jika semakin banyak insan Indonesia berdinamika dalam bidang kreatif membuat mata rantai kreatif yang mampu menginspirasi dan menggerakan banyak insan Indonesia lainnya melalui budaya kreatif. Knowledge economy, adalah sesuatu yang telah dilakukan oleh teman-teman saya itu. Dengan pengetahuan dan kreatifitasnya mereka membuat nilai yang berdampak ekonomi. Namun untuk lebih spesifik lagi adalah creative economy yang dapat lebih memfokuskan lagi menjadi sebuah gerakan moral membangun ekonomi Indonesia melalui industri kreatif.

New architecture of BaliUWRF 2008Sura, contemporary dancer & coreographer

1. Arsitektur Kontemporer di Bali : The Legacy, Kulkul Green School, The Campuan
2. Ubud Writers & Readers Festival, model acara profesi kreatif
3. Nyoman Sura, penari dan koreografer kontemporer

Bayi Ajaib Bernama Creative Economy
Tapi, tunggu dulu. Sebetulnya apa creative economy ini ? Salah satu penggagasnya, John Howkins mengungkapkan dalam judul bukunya yang best seller “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas”. Respon dunia pun menggelora. Salah satunya Marubeni Research Institute, Tokyo atas pembacaan buku itu memprediksi “Shows how the creative economy will be the dominant economic form for the 21st century.” Lalu dalam sekejap istilah ini bagai bayi ajaib. Pemerintah Inggris secara serius memulai program creative economy-nya pada tahun 1995. Lalu diikuti serangkaian aktifitas diantaranya pemetaan industri kreatif yang dilakukan tahun 1998 dan 2003 oleh Department of Culture, Media and Sport di Inggris. dan segera setelah itu menjadi program penting karena industri kreatif menyumbang begitu besar bagi devisa Inggris. Bahkan lewat program International Young Creative Entrepreneur of the Year, Inggris mengkampanyekan kreatif ekonomi ke seluruh dunia dengan mencari talenta muda terbaik dalam bidang kreatif yang memiliki jiwa kewirausahaan. Indonesia adalah salah satu negara yang dipacu setiap tahunnya melalui British Council, dan yang terpilih akan dikirim ke Inggris untuk mengikuti kualifikasi tingkat dunia sekaligus berkiprah dalam acara 100% Design. Tujuannya membagi pengalaman terbaik Inggris di bidang ekonomi kreatif, pendidikan seni dan kewirausahaan. Negara-negara lain tentu saja bergegas membuat tunggangan baru lewat creative economy ini. Di Asia, Negara Jepang, Korea, India, Hong Kong, Singapura bahkan Thailand secara tegas pemerintahnya memprioritaskan program ini untuk digulirkan segera. Menggaris bawahi Thailand yang hampir mirip tipikalnya dengan Indonesia, coba simak statementnya: “In order to maintain competitiveness in the global market, Thailand can no longer expect to compete with other countries merely in terms of lower labour costs. Thailand needs to capitalize on its creativity in designing products and services to better meet market requirements.” Nah lo. Bagaimana dengan Indonesia ?

Creative Activities mapping by British Council

Program Pemetaan Aktifitas Kreatif oleh British Council

Untuk Kemajuan Bangsa, Tidak Ada Kata Terlambat
Di Indonesia sendiri gagasan creative economy digulirkan Indonesia Design Power melalui beberapa aktifitas dan perencanaan program yang akhirnya melalui Departemen Perindustrian bermitra dengan pemerintah. Tak heran jika SBY menyuarakannya pada Pekan Produk Budaya Nusantara 2007 dan istilahnya disebut Ekonomi Gelombang Ke-4. “Saya secara khusus mengajak untuk mengembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni dan teknologi,” Katanya. Karena secara rangkaian, Gelombang pertama adalah Ekonomi Agraris, Gelombang Kedua adalah Ekonomi Industri, Gelombang Ketiga adalah Ekonomi Informasi dan Komunikasi dan Gelombang Keempat sendiri adalah Ekonomi Kreatif.


Semenjak awal diperkenalkan dengan istilah creative economy pada tahun 2005 melalui Indonesia Design Power langsung menjadi sebuah bahan permenungan yang membawa saya kepada sebuah perjalanan mengeksplorasi untuk mengenal istilah itu secara mendalam dan mendapatkan esensinya. Istilah ”ekonomi” seringkali menjebak kita kepada dunia asing yang berat dan luput dari minat untuk dijadikan referensi menarik. Ekonomi itu urusan ekonom. Begitu kira-kira pandangan saya sebelumnya. Namun aneh bin ajaib setelah membaca dan mengamati, lalu memperbandingkannya dengan program ekonomi kreatif di negara lain dan melihat situasi dan kondisi Indonesia, aha!, inilah sebetulnya mutiara bangsa kita. Harapan itu ada disana…

Knowing Creative Economy EraMengapa Kreatif Ekonomi penting?Profil kontribusi PDB industri kreatif Indonesia

1. Skema Era Kreatif Ekonomi, Presentasi BUDPAR
2. Skema Mengapa Kreatif Ekonomi Penting, Presentasi Konvensi Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
3. Profil Kontribusi Industri Kreatif di Indonesia, idem

Setidaknya ada 3 hal mendasar yang menjadikan alasan dari kekuatan ekonomi kreatif bagi Indonesia ini:
1. Ekonomi kreatif sangat bergantung kepada pembangunan sumber daya insani. Membangun insan lebih murah dan mudah ketimbang membangun infrastruktur fisik seperti pada industri lainnya yang mahal dan berdampak lingkungan.
2. Kreatifitas bukan barang baru bagi masyarakat Indonesia dan telah dibuktikan dengan perkembangan yang terjadi sebelum kita mengenal istilah creative economy. Dari peninggalan nenek moyang kita dalam varian yang beragam berbentuk seni dan budaya seantero Nusantara sampai kreatifitas terkini dalam musik, pertunjukan, film, desain dan banyak lagi yang kini merubah peta minat terhadap profesi berbasis kreatifitas.
3. Potensi kreatif negara Indonesia yang ada sangat besar: jumlah penduduk Indonesia, keragaman seni dan budaya Indonesia serta akses dan jaringan internasional yang sudah semakin mudah akan menjadi asset penting

Namun Harus diwaspadai bagaimana follow up memadukan peran pemangku kepentingan agar terjalin jejaring yang efektif dan produktif mendayagunakan potensi ini menjadi nyata. Disebut-sebut sinergi birokrat, swasta dan cendikiawan adalah triple helix yang harus membuat rangkaian yang tepat menuju sukses itu. Tidak kalah pentingnya adalah pembangunan internal bagi para pelaku bidang dan profesi kreatif untuk terus melakukan pembangunan dan eksplorasi. Membangun mentalitas, kewirausahaan, manajemen, komunikasi, pemasaran hingga inovasi dalam berkarya. Sehingga semua jalan menuju kesempurnaan dijadikan prasyarat sebuah keberhasilan.

Pemetaan dan Pengelompokan Bidang Kreatif
Secara nyata, bidang kreatifitas yang menjadi perhatian adalah yang selama ini telah dilakukan oleh bangsa kita sebagai profesi. Pada data yang dibuat berdasarkan data statistik BPS, penyumbang terbesar devisa negara Indonesia selama ini adalah bidang fashion dan tekstil, kerajinan serta periklanan. Melalui gerakan ekonomi kreatif di Indonesia akan didorong bidang-bidang kreatif lain yang kategorinya adalah:
1. Arsitektur
2. Interior
3. Landscape
4. Grafis/Komunikasi Visual
5. Penerbit
6. Penulis/sastrawan/penyair
7. Musik
8. Seni pertunjukan (tari, drama, dll)
9. Kemasan
10. Brand/produk
11. Perhiasan/Jewelry
12. Visual Art (lukis, patung, dll)
13. Movie
14. Fashion & Aksesori
15. Handicraft
16. Web/Games/Interactive Media
17. Kuliner
Artinya, jika hal ini bekerja dengan baik maka akan terjadi peningkatan yang signifikan bagi perekonomian Indonesia disebabkan motor sektor kreatifnya yang di”tune up” dengan baik.

Bali Creative Power, sebuah event oleh Bali Creative Community
Komunitas Kreatif Dituntut Membentuk Budaya Kreatif
Baru saja sekitar 3 tahun berlalu, namun aktifitas kreatif kian marak dibuat dan diadakan. Selain kegiatan lama yang dibuat dengan spirit baru, banyak juga kegiatan baru yang sangat strategis. Sebut saja Trade Expo Indonesia, Pekan Produk Budaya Indonesia kemudian conference dan seminar baik yang generik maupun spesifik. Kinerja antar departemen dan kementrian juga dirapatkan demi merespon creative economy. Jakarta memang masih mendominasi, tapi kota lain memiliki ”local indigenous”nya sendiri. Bandung bangkit lewat distro dan musik, Jogjakarta dan Bali lewat handicraft dan fashion. Lalu atas kesadaran dan inisiatif terbentuk pula komunitas-komunitas kreatif. Di Bandung ada Bandung Creative City Forum, di Bali ada Bali Creative Community, kehadiran Indonesia Young Designers, 1001 Inspiration Design Festival dan banyak lagi aktifitas di Jakarta, Jogjakarta dan kota lain yang sedang bergiat membentuk komunitas kreatif yang bertujuan membuat klaster kreatif dan membentuk budaya kreatif. Pertanyaannya, apakah ini semua mengindikasikan creative economy itu si mutiara harapan atau hanya euforia sesaat? Buat menjawabnya yang paling nyata adalah dengan melakukan terus menerus sosialisasi, promosi dan mengamankannya dengan membuat blue print creative economy Indonesia.

Mempertanyakan Kembali Kesejatian Creative Economy
Apakah sesuatu yang kebetulan jika momen ini bertepatan dengan saat dimana Bangsa Indonesia tengah memasuki 100 tahun Kebangkitan Nasionalnya ? Akankah creative economy menjadi trigger terbentuknya martabat dan citra bangsa yang lebih baik ? Dapatkah creative economy menjadi praktek berjuta bangsa Indonesia untuk lebih baik ?
(Diberi pertanyaan semacam ini teman saya protes. Katanya, Mas nanya melulu jadi kapan mulai kerjanya ?) Sebuah pertanyaan yang baik untuk menutup tulisan ini. Membagi semua apa yang tengah terjadi dengan gerakan ekonomi kreatif di Indonesia dalam satu waktu memang tidak mungkin. Semoga gerakan ekonomi kreatif adalah anugerah sekaligus penggugah dari tidur kita yang tidak nyaman. Selamat mengeksplorasi dunia creative economy.

Diolah dari berbagai sumber:
1. Presentasi Indonesia Design Power
2. Presentasi Kreatif Industri Indonesia, BUDPAR
3. Hasil Konvensi Pengembangan Industri Kreatif Indonesia
4. Situs British Council Indonesia
5. Presentasi Bali Creative Community


13 Responses to “KREATIFITAS, AKAN(kah) MENJADI MOMEN KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA (?)”

  1. anton on June 30, 2008 2:39 pm

    dengan budaya yg sangat beragam, negara ini memang bisa besar kalau serius pada creative industry. jd gabungkan antara lokalitas dg tuntutan global. hasilnya pasti keren.

    masalahnya, ini justru belum banyak dilirik. jd ayo, kang ayip. hajar terus. :)

  2. Jeany Yanuar on July 1, 2008 7:10 am

    Menurut saya desainer grafis di Indonesia saat ini telah sadar akan adanya kekuatan dari local contents dari budaya indonesia yang sangat beragam, dan jelas itu merupakan potensi yang besar bagi kebangkitan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal indonesia. Namun, HATI-HATI dengan euforia kecintaan terhadap budaya lokal yang dapat disalah artikan dan disimpelkan dengan sedemikian rupa sehingga akan jadi budaya asal tempel saja, bila dianggal “Oh, asal local contents, pasti menarik.” Butuh penghayatan dan usaha ekstra keras untuk melestraikan budaya dengan menyelaraskannya agar ia dapat masuk ke dalam kehidupan budaya modern saat ini.

    Budaya fusion di beberapa tempat di Indonesia, sebut saja Bali yang strong dengan kultur budayanya namun saat ini justru mampu berkembang (bukan budaya yang diam di tempat) mengikuti zaman, dan beberapa kota besar yaitu Bandung dan Jakarta menunjukkan perkembangan signifikan dalam interaksi manusia yang datang dari berbagai latar belakang budaya baik etnis-etnis dalam negeri yang bergaul dengan masyarakat mancanegara dan diharapkan kelak melalui industri-industri desain grafis yang berkembang di kota-kota besar itulah yang melahirkan keberadaan Indonesia sebagai *melting pot* dalam industri kreatifnya.

    Salam,
    Jeany Yanuar

  3. susi on July 1, 2008 9:58 am

    setuju banget dengan konsep itu, apalagi kalau orang indonesia sendiri memiliki jiwa nasionalisme alias bangga dengan dan memakai produk sendiri jadinya ekonomi kita ga akan kemana2, oleh indonesia dan untuk indonesia.
    Saya soalnya suka iri sma orang korea yg nasionalismenya tinggi, produk dari negara lain sulit untuk survive d sana , orang-orang korea lebih memprioritaskan membeli produk dalam negeri ketimbang luar negeri, tp memang terbukti sih disaat asia kena imbas krisis global thn 1998, kini korea sudah berhasil keluar dari kemiskinan, mantap dengan tingkat perekonomiannya.
    Ya engga usah muluk2 se sejahtera itu sih, tp kloe kita mulai dengan cinta produk sendiri mudah2an creative economy juga bisa berjalan dengan baik dannnnn roda ekonomi berputar semakin kencang di dalam negeri…mudah2an ya…

  4. koko harsoe on July 3, 2008 1:01 am

    sekaranglah saatnya kita berbuat sesuatu yg usefull buat the next generation for our nation,cuman emang kita tdk perlu terlalu banyak mengharapkan pemerintah utk menciptakan infrastruktur creative economy (regulasi dan political will)tp marilah kita ciptakan ,sharing,dan campaign ke lingkungan terdekat kita dulu sehingga kesadaran akan kekuatan creative sbg perbaikan kwalitas bangsa bisa meluas,seperti yg sudah mas Ayip lakukan.salut pak Ayip!! have a nice art day..

  5. Hendra W Saputro on July 3, 2008 5:06 pm

    Ekonomi kreatif. Humm, saya mencoba untuk melihat ke belakang arah kreatif yang terjadi pada diri pribadi. Saya akan menggambar sebuah obyek jika diperintah guru. Tetapi, saya akan otomatis menggambar bus dengan berbagai bentuk jika suasana hati menginginkannya. Setelah itu, saya kuliah di ilmu pasti (jauh dari bidang kreatif spt tertulis diatas).

    Ketika krisis ekonomi memporakporandakan bangsa Indonesia beberapa tahun yg lalu, yang terpikir adalah harus kerja. Apapun untuk menghasilkan uang. Akhirnya diterima di sebuah internet cafe sebagai penjaganya. Disanalah saya terkesima dgn dunia website. Awalnya adalah sebuah pertanyaan, kok bisa sih foto-foto itu nempel di sebuah website?. Suasana hatipun mendukung utk belajar dan belajar. Pada akhirnya, hidup saya sekarang tidak bisa lepas dari dunia desain website yang (ternyata) mampu untuk memenuhi kebutuhan dapur.

    Nah, apa hubungannya dengan konsep ekonomi kreatif yang tertuang dalam blog Mas Ayip ini?. Saya (atau kita) tidak akan pernah bergairah kembali akan kreatifitas diri ini jika tidak membaca dan memahami arti ekonomi kreatif tersebut diatas. Dulu, para tetua kita bangga akan kekuatan ekonomi industrialisasi, karena wujud mereka nyata, benda dan tahta. Kreatifitas berawal dari sesuatu yang tak nampak pada dirikita. Jadi, isme baru dalam dunia ekonomi ini perlu untuk disebar luaskan mas. Biar cara pandang manusia skr ini tidak hanya tahta. Meski tidak menyandang tahta tp klo kreatif, bisa menguasai dunia kok.

    Saya mendukung model ekonomi kreatif ini, meski kreatif yang timbul saat ini karena nasib hehehe. Ya, sadar, sadar dan faham. Kreatif bisa menjadi bekal menguasai dunia. Amin.

  6. adit on July 4, 2008 7:09 am

    Ayo, kita mengkreatifkan lagi indonesia. Bukan dalam hal korupsinya, tapi dari sisi pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia tidak mendukung ekonomi kreatif - karena masih menggunakan paradigma orde baru. Ayo bung Ayip Bali.

  7. Robin on July 4, 2008 7:35 pm

    Sejujurnya saya pesimis kalo dibilang Industri Kreatif bisa menjadi kebangkitan bangsa Indonesia.

    Tapi saya sih semangat dengan fenomena industri kreatif dan saya seneng baca tulisan ini.

    You did your homework before you write.

    Awesome.

  8. Robin on July 5, 2008 3:48 am

    Saya pribadi merasa ikut bertanggung jawab atas kesuksesan industri kreatif di Indonesia, makanya yah… ikut-ikut deh bikin projek-projek yang memper-memper area kreatifitas. Meski, sejujurnya saya ngga berharap apa-apa akan gerakan ini. Saya hanya ingin memelihara semangat dan hasratnya aja agar tetap hidup.

    Mungkin mirip seperti yang disampaikan @Hendra. Nasib. Memang nasib sih, meski sebenarnya ada bahasa akademis yang namanya triggering event. Kebetulan bernasib baik untuk menemukan momentum dan akhirnya jadi pekerja kreatif.

    Terimakasih sudah menulis, sukses selalu buat Ayip.

  9. da cunka on July 6, 2008 5:17 pm

    alhamdulillah bisa ketemu bapak lagi hehe, kita baru aja take off pak…menuju creative community, mohon bimbingannya pak -seno-

  10. georgie tri kadarusman on July 7, 2008 1:22 pm

    ‘Creative Economy.’ Saat saya diperbolehkan mengintip presentasi aa Ayip mengenai hal ini(kira2 2 bln yang lalu, yang terlintas pertama dibenak saya adalah ‘eureka..!’batin dan pikiran saya bergejolak, karena ini seperti jawaban rasional untuk mengangkat keterpurukan ekonomi yang secara makro melanda negara kita. Menurut hemat saya, prinsip ekonomi kreatif menembus seluruh lapisan seperti usia, formalitas intelektual (baca; orang2 produk sekolahan, golangan (have or not the have), bahkan wilayah2 sensitif seperti gender atau religiusitas. Tinggal kita2nya ini yang mau atau ngga untuk berpikir sedikit lebih keras untuk lebih kreatif diluar pakem2 yang udah ada.

    Jika kita cermati konsep kreatif ekonomi tersebut diatas bisa dikatakan paradigma mengubah nasib bangsa, apalagi jika dilakukan secara ‘integral’. Pemahaman lama tentang makna berbisnis, berhasil, sukses dengan UUD (ujung2nya duit) alias keberhasilan finansial hanya dapat dilakukan jika kita keturunan pebisnis juga atau dengan capital untuk infrastruktur yang besar, atau ikut menyelamatkan atau memikirkan negara menunggu untuk duduk secara formal di lembaga2 pemerintahan. Dengan bergerilya membentuk creative community dan up date dengan perkembangan tekhnologi dan memanfaatkan kehingar bingaran dunia maya, meskipun secara partial dilakukan berbagai tempat dengan bidang interesan masing-masing sesungguhnya secara integrated,perlahan2 akan melepaskan diri kita secara mikro untuk kemerdekaan finansial dan secara makro Indonesia akan terangkat sebagai salah satu negara yang berpenduduk kreatif bukan cuma terkenal sebagai negara pengekspor TKW, penghutang terbesar ataupun yang hobinya kisruh melulu.

    Saya berharap ‘isme’ baru ini bukan menjadi ‘euforia’ saja, tetapi memang kita2 ini yang berkecimpung di industri kreatif kudu meyakini dan mau ikut berpartisipasi menyebarluaskan atau menjaga kelanggengan semangatnya, karena saya yakin hanya dengan ‘kreatifitas’lah segala keterbatasan akan akan tereliminir.

    Anyway busway, bagi saya, untuk aa ayip sendiri adalah sosok yang tetap tapi berubah. Tetap dalam hal yang paling menentukan, pandangannya jernih dalam mengartikulasikan pendapat. Juga kematangan yang dihasilkan dari pengalaman lebih dari 18th berkecimpung di industri kreatif. Tetap di permukaan tapi berubah secara mendasar didalam,tetap terbuka dan jujur kepada pandangan, tetapi berubah pada aspek kedalaman dan keluasan.

    Bravo a!

  11. ayip on July 10, 2008 8:02 am

    Untuk semua comments, SERU!
    Mudah-mudahan semua berjalan dengan proses yang baik. Bagi saya, proses itu sendiri sangat indah. Di dalamnya terkandung “penemuan-penemuan” kecil yang sangat pribadi. Tentunya setiap individu akan beroleh “temuan” yang berbeda tapi saya percaya akan meyakinkan kita kepada what’s next-nya.
    Semua yang telah memberikan komentar disini telah memasuki dunia “creative economy” jauh sebelum gagasan ini dimunculkan, dan mudah-mudahan gerakan ini hanya semacam penegas saja buat kita untuk lebih kreatif dalam bidang masing-masing. Bravo!

  12. amirosady on July 10, 2008 8:03 am

    Sebagai insan kreatif, dua jempol buat konsep pemikiran yg demikian..
    kreatif, berpikir liar tanpa batas perlu d tunjang dgn rasa nasionalisme yg sebenar-benarnya, tanpa mengharapkan apapun bahkan dari siapapun..
    sekali lagi dua jempol sob..

  13. antown on July 25, 2008 4:28 pm

    mas ayip, sudah dapat konfirmasi dari grafos? saya juga pingin gabung nih, sedang cari info gimana caranya…

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word