MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA”

August 18th, 2008

Saya bagi sebuah kisah di hari Minggu, kisah nyata yang bukan karangan. Minggu pagi 17 Agustus 2008 hari itu mendung menyelimuti Bali hingga ke arah Bangli, sedari Gianyar sampai memasuki wilayah Bangli bahkan hujan rintik. Suasana ini mengingkari rasa merdeka yang seharusnya diiringi langit terang. Kendaraan beriringan menanjak jalan menuju Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Apakah cuaca ini menjadi sebuah pertanda ? Kegalauan hati akan makna kata merdeka yang kian hambar ? Berkali saya melihat dan merasakan banyak orang gundah. Katanya, ketika setiap orang mendefinisikan kata Merdeka dengan sangat pribadi justru menghadirkan arogansi yang malah menjadi penindasan atas orang lain dan orang banyak. Kemerdekaan bagi sebagian orang membuat benteng bagi dirinya sendiri sebagai dalih bebas melakukan apa saja yang dimauinya. Dalam 63 tahun kemerdekaan Indonesia justru masih banyak praktek kemerdekaan yang semu. Meniadakan orang lain, secara individu dan kolektif menghalangi hak orang lain, memonopoli untuk kepentingan pribadi dan yang paling gawat adalah mengabaikan makna kebangsaan padahal negeri ini tengah memerlukan persatuan bangsanya untuk lebih berprestasi dan bermartabat. Ungkapan-ungkapan ini saya kumpulkan dari beberapa obrolan. Ada benarnya tapi kata saya sih, do the simple thing but do it seriously. Memerdekakan orang lain dari “keterbelakangannya” mendefinisikan kata merdeka

Dan Minggu 17 Agustus itu saya mencoba memerdekakan diri saya. Adalah sesuatu yang serius saya memutuskan turut ke RSJ Bangli bersama Bali Blogger Community untuk berbagi dengan mereka yang menghuni RSJ dengan memberi buku, peralatan mandi, makanan, sedikit uang dan hiburan. Mendung memang mengantar kepergian rombongan menuju Bangli, tapi semangat merdeka nampak sangat nyata hingga akhir acara.

Setidaknya ada dua alasan yang membuat mengapa harus merayakan hari kemerdekaan Indonesia di rumah sakit jiwa. Pertama, Orang sakit jiwa adalah orang yang “dimerdekakan” dari segala tanggung jawab dunia akhirat. Kedua, Orang waras yang katanya merdeka ternyata malah banyak yang sakit jiwa. Sebagai early warning system bagi saya, penting untuk study banding ke RSJ ya terutama buat kasih tahu diri saya sendiri untuk “jangan kebablasan”. Dan memang menjadi sebuah perenungan baru ketika mengalami berada disana, berdialog, dan bermain untuk tahu esensi baru kata merdeka. Gotcha!

Take a look

Take a look






Lihat juga referensi lain:
1. Hendra.ws
2. Sakti Soediro
3. Bale Bengong
4. Animo
5. Rumah Tulisan


16 Responses to “MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA””

  1. » Sakit Jiwa (Gila) adalah penyakit, Mereka bukanlah Sampah » Hendra W Saputro & Shinta Dyan K on August 18, 2008 6:50 pm

    [...] keluarin saya dari sini …“. Tawaran itu terucap dari balik jeruji besi jendela kepada Kang Ayip (Blogger Bali). Kemudian, si Saylow (Blogger Bali) bertanya kepada salah satu pasien, “Kenapa [...]

  2. imcw on August 18, 2008 11:17 pm

    Akhirnya komunitas blogger Bali berbuat sesuatu yang berguna

  3. anton on August 19, 2008 1:04 am

    different perspective about BBC Goes to RSJ. that’s why i admire kang ayip very much. :)

  4. anton on August 19, 2008 1:05 am

    ah, baru sadar. posenya kang ayip sptnya belum merdeka dari ketakutan sama pasien tuh. :D

  5. ayip on August 19, 2008 1:24 am

    IMCW kemana kemarin? Iya ya mas Anton, keliatan masih takut…. Ha ha ha itu artinya saya belum dapet kemerdekaannya

  6. dipoetraz on August 19, 2008 3:04 am

    salute buat BBC, “jangan kebablasan” ini merupakan kata kunci yang sangat penting :D,,

  7. novan on August 19, 2008 4:34 am

    si pasien dalam ruang pasien selatan itu berkata dalam hati “BADAH…ada kang ayip noq, kweren dech” :D

  8. ayip on August 19, 2008 5:21 am

    Novan: Ha ha ha… Yang berdiri rada nervous sambil harap harap cemas….

  9. fenny on August 19, 2008 10:16 am

    mungkin pasiennya pada naksir sama kang ayip hihihihihi..
    wah saya pas di sal cewek termehek2, tersedu2, eh giliran liat sal cowok malah bawaannya ngakak mulu…

  10. saylow on August 19, 2008 4:06 pm

    BADAH! HAHAHAHA

  11. saylow on August 19, 2008 4:07 pm

    BADAH! :P

  12. sakti soe on August 20, 2008 5:12 am

    oh my…,baca tulisane kang ayip bikin jadi tambah banyak aja perbendaharaan rasa & pikiran yang masuk akibat dari sowan ke RSJ minggu kemarin…*speechless deh* — lagi yuks Kang, what’s next?!?

  13. ryna on August 20, 2008 6:58 am

    merdeka=equal.. ngga boleh takut sesama manusia..

  14. ayip on August 20, 2008 7:14 am

    Fenny: Naksir itu bagian kemerdekaan mereka. Harus dihargai dong… :)

    Saylow: Saking speechlessnya sampe harus badah dua kali. :)

    Sakti: The next kita kembali ke alam sakit jiwa yang notabene lebih banyak dari penghuni RSJ

    Ryna: setuju banget. Sama Tuhan tapi harus…

  15. Cerita Bali Blogger ke Rumah Sakit Jiwa Bangli | I Made Yanuarta DPY on August 21, 2008 2:35 am

    [...] 14. Kang Ayip [...]

  16. rusakparah on November 10, 2008 7:56 pm

    Kemerdekaanmu ada di hatimu..
    memaknainya tak harus dengan mengibarkan bendera
    Menghormat tanpa Menunduk, adalah sama dengan melihat tanpa merasa..

    Tunjukkan karya nyata, itu yang penting

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind