MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA”
Saya bagi sebuah kisah di hari Minggu, kisah nyata yang bukan karangan. Minggu pagi 17 Agustus 2008 hari itu mendung menyelimuti Bali hingga ke arah Bangli, sedari Gianyar sampai memasuki wilayah Bangli bahkan hujan rintik. Suasana ini mengingkari rasa merdeka yang seharusnya diiringi langit terang. Kendaraan beriringan menanjak jalan menuju Rumah Sakit Jiwa Bangli.
Apakah cuaca ini menjadi sebuah pertanda ? Kegalauan hati akan makna kata merdeka yang kian hambar ? Berkali saya melihat dan merasakan banyak orang gundah. Katanya, ketika setiap orang mendefinisikan kata Merdeka dengan sangat pribadi justru menghadirkan arogansi yang malah menjadi penindasan atas orang lain dan orang banyak. Kemerdekaan bagi sebagian orang membuat benteng bagi dirinya sendiri sebagai dalih bebas melakukan apa saja yang dimauinya. Dalam 63 tahun kemerdekaan Indonesia justru masih banyak praktek kemerdekaan yang semu. Meniadakan orang lain, secara individu dan kolektif menghalangi hak orang lain, memonopoli untuk kepentingan pribadi dan yang paling gawat adalah mengabaikan makna kebangsaan padahal negeri ini tengah memerlukan persatuan bangsanya untuk lebih berprestasi dan bermartabat. Ungkapan-ungkapan ini saya kumpulkan dari beberapa obrolan. Ada benarnya tapi kata saya sih, do the simple thing but do it seriously. Memerdekakan orang lain dari “keterbelakangannya” mendefinisikan kata merdeka
Dan Minggu 17 Agustus itu saya mencoba memerdekakan diri saya. Adalah sesuatu yang serius saya memutuskan turut ke RSJ Bangli bersama Bali Blogger Community untuk berbagi dengan mereka yang menghuni RSJ dengan memberi buku, peralatan mandi, makanan, sedikit uang dan hiburan. Mendung memang mengantar kepergian rombongan menuju Bangli, tapi semangat merdeka nampak sangat nyata hingga akhir acara.
Setidaknya ada dua alasan yang membuat mengapa harus merayakan hari kemerdekaan Indonesia di rumah sakit jiwa. Pertama, Orang sakit jiwa adalah orang yang “dimerdekakan” dari segala tanggung jawab dunia akhirat. Kedua, Orang waras yang katanya merdeka ternyata malah banyak yang sakit jiwa. Sebagai early warning system bagi saya, penting untuk study banding ke RSJ ya terutama buat kasih tahu diri saya sendiri untuk “jangan kebablasan”. Dan memang menjadi sebuah perenungan baru ketika mengalami berada disana, berdialog, dan bermain untuk tahu esensi baru kata merdeka. Gotcha!















Lihat juga referensi lain:
1. Hendra.ws
2. Sakti Soediro
3. Bale Bengong
4. Animo
5. Rumah Tulisan
16 Responses to “MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA””
Leave a Reply









[...] keluarin saya dari sini …“. Tawaran itu terucap dari balik jeruji besi jendela kepada Kang Ayip (Blogger Bali). Kemudian, si Saylow (Blogger Bali) bertanya kepada salah satu pasien, “Kenapa [...]
Akhirnya komunitas blogger Bali berbuat sesuatu yang berguna
different perspective about BBC Goes to RSJ. that’s why i admire kang ayip very much.
ah, baru sadar. posenya kang ayip sptnya belum merdeka dari ketakutan sama pasien tuh.
IMCW kemana kemarin? Iya ya mas Anton, keliatan masih takut…. Ha ha ha itu artinya saya belum dapet kemerdekaannya
salute buat BBC, “jangan kebablasan” ini merupakan kata kunci yang sangat penting
,,
si pasien dalam ruang pasien selatan itu berkata dalam hati “BADAH…ada kang ayip noq, kweren dech”
Novan: Ha ha ha… Yang berdiri rada nervous sambil harap harap cemas….
mungkin pasiennya pada naksir sama kang ayip hihihihihi..
wah saya pas di sal cewek termehek2, tersedu2, eh giliran liat sal cowok malah bawaannya ngakak mulu…
BADAH! HAHAHAHA
BADAH!
oh my…,baca tulisane kang ayip bikin jadi tambah banyak aja perbendaharaan rasa & pikiran yang masuk akibat dari sowan ke RSJ minggu kemarin…*speechless deh* — lagi yuks Kang, what’s next?!?
merdeka=equal.. ngga boleh takut sesama manusia..
Fenny: Naksir itu bagian kemerdekaan mereka. Harus dihargai dong…
Saylow: Saking speechlessnya sampe harus badah dua kali.
Sakti: The next kita kembali ke alam sakit jiwa yang notabene lebih banyak dari penghuni RSJ
Ryna: setuju banget. Sama Tuhan tapi harus…
[...] 14. Kang Ayip [...]
Kemerdekaanmu ada di hatimu..
memaknainya tak harus dengan mengibarkan bendera
Menghormat tanpa Menunduk, adalah sama dengan melihat tanpa merasa..
Tunjukkan karya nyata, itu yang penting