ANTARA MATAMERA DENGAN LOGO ULANG TAHUNNYA DAN HERACLITUS DENGAN PANTA REI-NYA
Entah kapan awalnya secara sadar menggunakan kebiasaan membuat tema dan logo bagi perjalanan Matamera Communications pada setiap hari jadinya. Bisa jadi saat ulang tahun ke 10 di tahun 2001 atau bahkan sebelumnya ketika berulang tahun ke 8.
Perjalanan dan waktu memang unik. Siapa nyana Matamera Communications yang pada awal gagasannya adalah sebuah studio desain mahasiswa Universitas Udayana ini hingga kini di tahun 2008 ini berusia 17 tahun. Padahal jika dipikir ulang tentang kejadian asal muasal, saat itu boro-boro otak bisnis, modal duit pun tak ada. Justru hal ini yang membuat kami selalu bersyukur dan mencoba konsisten dengan apa yang kami lakukan.
Jadi, kembali ke soal menandai setiap ulang tahun dengan logo dan tema, Matamera kini punya koleksi logo-logo ulang tahunnya yang menjadi signature bagi perjalanannya. Bukan soal bidangnya Matamera membuat hal-hal beginian, lebih dari itu lambang-lambang ini adalah dinamika yang merekatkan rasa. Brand Matamera bagi kami sendiri adalah symbol ekspresi dinamis yang harus memancarkan daya gagas. Logo ulang tahun awalnya dari kata atau kalimat yang menjadi tema. Wujudnya bukan kata bombastic yang ke-megalomania-mania-an. Kami meraciknya untuk memiliki rasa santun, deep tapi sesekali ingin membuat jengah (kami sendiri keluarga Matamera). Ciri khasnya ada di copy based yang memainkan kata dengan bilangan ulang tahunnya. Mari kita telisik satu persatu mulai dari ulang tahun ke 10.

ATTENTION! (2001)
Pada ulang tahun ke 10 mengandung makna peringatan keras dengan satu kata yang menjadi tema yaitu ATTENTION! Di dalam katanya terkandung kata “ten”. Maknanya adalah “Hey, inget… sekarang umurnya sudah 10 tahun. Harus lebih baik, harus lebih jeli, harus lebih dewasa”. Angka 10 pada saat itu adalah angka bulat yang mendorong Matamera harus membuat sesuatu yang sepadan dengan usianya. Maka dibuatlah sebuah art camp dengan mengundang 5 perupa, 2 fotografer, 3 film crew, 1 arsitek dan 2 penulis di sebuah desa di kaki gunung Agung nan terpencil. Selain semua berkarya menurut “agama”nya masing-masing kita juga berbagi dengan masyarakat disana terutama dengan anak-anak. Hasil karya mereka para peserta dan juga anak-anak dipamerkan pada acara Pasar Rakyat yang menampilkan aneka hiburan, makanan dan keramaian yang mengesankan. Hasilnya dari acara ini kami sumbangkan buat desa tersebut.

THERE’S NO SHORTCUT TO 11 (2002)
Kalimat yang menjadi tema ulang tahun Matamera ke 11 ini sifatnya mengingatkan juga bahwa untuk maju tidak harus melalui 11 tahun tapi juga 11 tahun tidak bisa dilalui begitu saja. You can’t skip years to be 11. Banyak pelajaran dan nilai-nilai yang ditemui dalam waktu 11 tahun yang jarang dimiliki oleh orang lain. Visualnya adalah sebuah labirin dimana angka sebelas ada ditengahnya. Sulit dicapai tapi jika mau bisa. Pada perayaannya saat itu Matamera mengadakan rangkaian kegiatan dengan membuat BALI SOMFET (Short Movie Festival) dan aneka lomba permainan antar relasi. Kami juga menerbitkan tabloid yang memorable.

DUABELAS (2003)
Entah mengapa tahun ini tak ada greget atau tak ada ide atau terlalu sibuk kami tak ingat betul.
Ternyata baru ketemu. Pernah dibuat tapi gak sempat dipublish. Iya betul, kali karena Bali sedang sibuk dan panik situasinya taun ini. Nikmatilah apa adanya.

BRAVO! (2004)
Mengapa harus Bravo ? Karena ada stereotype bahwa angka 13 adalah angka tidak beruntung jadi kami ekspresikan dalam nada sebaliknya yang bermakna positip atas sebuah keberhasilan atau kemenangan. Dalam “Bravo!” dipastikan tersembunyi angka 13

TIME IS XVENXIV (2005)
Lagi lagi tema tahun 2005 ini reminder yang menjadi alert untuk kita menghargai waktu dan perjalanan. Jangan sia-siakan umurmu dan waktumu. Secara kreatif menterjemahkan “Expensive” menjadi XPENXIV bukan perkara mudah. Dan juga bukan sesuatu yang dipaksakan. Ia adalah hasil eksplorasi yang mendalam untuk kita jadikan motivasi.

LIMABELAS (2006)
Tanpa tema dan kata. Simbolnya adalah angka 15 yang dibentuk dari gabungan potongan “fine art” karya Matamera dan teman-teman perupa. Gagasannya adalah “unlimited” dimana pada tahun itu kita banyak terinspirasi oleh karya-karya teman perupa yang kita libatkan dalam proyek-proyek Matamera.

IT’S NOT BRIGHT ENOUGH (2007)
Ulang tahun ke 16 yang tidak dirayakan dan hanya diingatkan oleh sepenggal kalimat “It’s Not Bright Enough!” juga sebuah peringatan untuk tetap menjaga kreatifitas agar tetap cemerlang. Tentu saja dalam kalimat itu ada angka 16nya.

SWEAT SEVENTEEN (2008)
Tahun 2008 kita membuat tema pelesetan dari Sweet Seventeen menjadi Sweat Seventeen. Artinya adalah perjalanan yang melelahkan. Punya makna pesimis ? Tentu saja tidak. Artinya perjalanan panjang dan melelahkan ini agar dapat dimaknai dengan seharusnya. Bahasa perjuangannya “Matamera ini dibangun dengan keringat dan darah” jadi tak boleh menyia-nyiakan usia tanpa karya nyata. Tujuh belas tahun juga identik dengan “pemberontakan” seorang yang memasuki usia remaja. Dalam pemaknaan kami, seventeen allow us to ‘break the rules’…
Semua logo itu menjadi motivasi untuk selalu berubah dan beroleh hal baru. Lalu apa rencana kedepan ? Pasang surut yang dialami sebuah bisnis dengan pelajaran pelajaran berharga yang ditemui di tengah perjalanan memberikan inspirasi yang akan menjadi platform Matamera ke depan. Yang pasti sebagai institusi kreatif Matamera akan menggunakan kematangannya untuk mengerjakan hal-hal penting bagi klien-klien penting.
Saya selalu membayangkan Heraclitus sang filsuf Yunani itu ketika menyuarakan kata “sakti”nya “Panta rei” apakah ia lakukan sambil lari terengah-engah atau sambil santai menyeruput kopi di sore hari. Karena tidak disangka bahwa maknanya menjadi demikian berkesan “everything is constantly changing, from the smallest grain of sand to the stars in the sky. Thus, every object ultimately is a figment of one’s imagination. Only change itself is real, constant and eternal flux, like the continuous flow of the river which always renews itself”. jadi, lets work, play and keep changing….. Ajakan kami untuk Anda semua
Posting terkait: Situs Desain Grafis Indonesia
PAMERAN POSTER INTERNASIONAL “ONE GLOBE ONE FLAG” MENUTUP RANGKAIAN ACARA BALI CREATIVE POWER 2008
Setelah sukses dengan rangkaian acara konferensi kreatif, seminar, talk show, expo dan workshop mulai tanggal 29 November 2008 akhirnya Bali Creative Power ditutup dengan acara Pameran Poster Internasional “One Globe One Flag” yang merupakan kerjasama Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (Adgi) Bali Chapter dengan Komunitas Kreatif Bali.


Pameran Poster yang akan menampilkan sekitar 40 poster bertema pesan persatuan global “One Globe One Flag” karya desainer grafis Indonesia dan mancanegara ini berttujuan untuk meningkatkan kesadaran atas pentingnya kebersamaan dalam menghadapi berbagai masalah multi-dimensi yang ada di dunia.
Globe (bola dunia) dan flag (bendera) adalah atribut fisik dalam simbolisme universal yang mempunyai pengertian implisit. ‘One Globe One Flag’ adalah sebuah konsep yang menghargai perbedaan internasional baik sosial, budaya maupun geografi, dalam rangka melahirkan sejumlah pemahaman yang berujung pada antusiasme, aspirasi dan kesadaran bersama demi menciptakan dunia yang lebih baik.
Selengkapnya di situs Warta Komunitas Kreatif Bali
DUKA YANG MENDALAM ATAS KEPERGIAN BOBBY

Doa dan perhatian semua pihak baik musisi, penikmat musik Bali maupun keluarga memang tak henti dipanjatkan bagi kesehatan Bobby semenjak kejadian kecelakaan yang menimpanya. Namun Yang Maha Kuasa telah berkehendak untuk memberikan yang terbaik bagi Bobby, Pada sore di hari Minggu 14 Desember ini Bobby menghembuskan nafasnya meninggalkan kita semua. Mari sekali lagi panjatkan doa untuk Bobby agar dimaafkan segala kesalahannya dan diterima amal baiknya oleh yang Maha Kuasa. Dan bagi keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan. Amin
Bali kehilangan salah satu musisi penyanyi terbaiknya. Semoga muncul Bobby-Bobby lain yang menggantikan dan meneruskan semangatnya.
Berita sebelumnya: http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/
Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati



Bagi penikmat kopi tentunya paham kopi yang terbaik kriterianya harus bagaimana. Di tengah maraknya gempuran instant coffee dan brand kopi asing masih banyak diantara kita yang mencari kopi sejati produksi dalam negeri. Salah satunya yang sangat legendaris adalah kopi AROMA di Bandung. Bukan karena masih mempertahankan keberadaannya hingga saat ini dengan setting “vintage”-nya di Jl.Banceuy no.51 Bandung berupa toko lawas dengan aksesori toples kopi, poster, timbangan dan showcase display yang lawas pula, namun konsistensinya menyajikan kopi dengan resep turun temurun dengan menjaga mutu dan rasa. (more…)
Nikmati Streamline Art Deco Savoy Homann Bandung
I was born in Bandung, dan saya tahu apa yang menjadi bagian khas yang melekat di kota ini. Hampir 30 tahun meninggalkan Bandung dan 7 tahun lalu sempat singgah sebentar selalu saja bagian-bagian kota ini begitu mengesankan buat dikenang. Kuliner dari yang kaki lima hingga kelas restoran dan bangunan tua bergaya modern di era Art Deco memenuhi hampir sepanjang jalan di tengah kota sampai ke utara. Barangkali kota Malanglah yang setting kotanya menyerupai Bandung ini. (more…)


