rss search

INSPIRASI DAN HARAPAN DARI JIMLY DAN YUYUN

line INSPIRASI DAN HARAPAN DARI JIMLY DAN YUYUN

Budaya instan sudah merasuk ke denyut jantung dan tarikan nafas sebagian besar kita. Betapa tidak, setiap urusan harus bisa diselesaikan detik ini juga, hasilnya harus segera dirasakan sekarang juga. Demikian hingga buat urusan pribadi begitu pula adanya. Setiap orang seakan berupaya untuk “menyelamatkan” dirinya dan tentu saja abai terhadap kepentingan umum dan masa depan. Hal ini terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan.

Demikian pula dengan urusan lingkungan hidup yang notabene menaungi hayat manusia di dunia. Setiap orang tak segera menyadari pentingnya menjaga lingkungan karena barangkali hasilnya tidak secara instan dapat dirasakan.

JIMLY ASSHIDDIQIE

Nah, di tengah hingar bingar koalisi yang gempita namun menggelikan, di sela perubahan status Antasari menjadi tersangka yang memilukan, saya berjumpa dua kabar menarik untuk jadi referensi baru. Yang pertama soal Jimly Asshiddiqie menyuarakan “Green Constitution” dalam buku yang diluncurkannya: “Green Constitution: Nuansa Hijau UUD 1945”. Istilah Green Constitution barangkali “aneh” bagi politisi dan birokrat kita dan buku ini seharusnya wajib baca dan dipahami agar kesewenangan dalam mengelola ekologi tak serampangan, gampangan dan sembarangan.

jimly-book1

Melalui gagasan dan pemikiran yang terdapat dalam buku ini seharusnya menjadi salah satu upaya yang efektif untuk mendorong pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan ke dalam arus politik pembangunan nasional. Soal Green Constitution ini, tujuan lainnya mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan sosial masyarakat untuk tetap senantiasa meletakkan dan memperkuat kembali dasar-dasar konseptual mengenai persoalan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan dengan berwawasan lingkungan.

Jimly bisa jadi ingin menghembuskan semangat ini bagi mereka yang tengah sibuk mengurus soal kursi RI 1 dan 2 juga buat para calon legislatif yang akan segera bertugas di Senayan. Namun sayang barangkali pesan ini tak akan sampai pada mereka karena bobot kontribusi kepada dukungan untuk kemenangan mereka (lagi lagi secara instan) tak ada (baca: secara short term nggak ngefek). Tak apalah Pak Jimly, tak usah patah semangat dan kehilangan selera melanjutkan siar ini.

jimly-kartun

Siapakah Jimly? Ia adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2003-2008, pengajar dan pernah menjadi penasihat ahli beberapa menteri dan wakil presiden. Gelar Doktor Ilmu Hukum disandangnya dan hingga kini masih aktif menulis. Ia juga peraih Man of The Year 2008 dari Majalah Globe Asia. Di situsnya http://www.jimly.com kita dapat mengenalnya lebih jauh lagi. Koran Jakarta menyebutnya sebagai ” Penggemar “Facebook” yang Peduli Kontitusi ”

Yakin apa yang disampaikan Jimly dalam bukunya sesuatu yang penting? Ya tentu saja harus didorong oleh upaya lain mensosialisasikannya lewat berbagai media. Namun sepertinya media konvensional lebih berminat pada warta yang kategorinya “Breaking News”.

Yang menggembirakan adalah pada saat diskusi peluncuran buku ini muncul usulan pembentukan Komisi Nasional Perlindungan Lingkungan dimana keberadaannya diharapkan seperti sepak terjang Komisi Pemberantasan Korupsi. Mudah-mudahan gagasan ini segera diikuti realisasi yang mampu membenahi persoalan lingkungan yang demikian kompleks di republik ini. Dan kerja independennya kelak tanpa direcoki dengan upaya-upaya mengkerdilkan cita-citanya.


YUYUN ISMAWATI

Soal kedua masih tentang lingkungan hidup dan tak kalah menariknya, bukan karena ini tentang teman sendiri tapi prestasi yang diukirnya sangat penting menginspirasi kita. Ini soal srikandi Indonesia Yuyun Ismawati yang menerima penghargaan The Goldman Environmental Prize 2009 yang disebut sebut sebagai The ‘Green Nobel Prize’ pada akhir April lalu di USA. Setiap tahun, Goldman memilih orang-orang yang dianggap sebagai pahlawan bagi lingkungan dan kehidupan rakyat. Media dunia merilis penganugerahan bergengsi ini dengan judul judul yang heboh “Goldman Prize Names World’s Most Amazing Grassroots Environmental Leaders”, “World Changers: The 2009 Goldman Environmental Prize Winners”, “Saluting the unsung local heroes”, atau Six global campaigners win “environmental Nobels”. Betapa pentingnya acara ini sehingga demikian besarnya media melansir hal ini sebagai berita.

yuyun-awarded1

Apapun sebutannya dan predikat yang dilekatkan pada pemenang penghargaan ini termasuk Yuyun Ismawati, saya begitu yakin bukan soal itu yang menjadi tujuannya. Ibaratnya pohon, award ini hanya buah dari ketekunan memelihara apa yang menjadi ketekunan dan keyakinan yang dilakukannya untuk lingkungan dan masyarakat.

Apa sebenarnya yang mengantar Yuyun mendapat penghargaan ini ? Sebuah perjalanan panjang Yuyun Ismawati sejak 1996, dibantu oleh jaringan LSM, ia membagi keahlian teknik lingkungannya untuk membantu warga miskin dalam merancang fasilitas pengelolaan sampah yang terkoordinasi dengan baik dengan prioritas utama kesehatan lingkungan dan manfaat ekonomi bagi warga setempat. Juni 2000, Ismawati mendirikan Bali Fokus, untuk menyebarluaskan program pengelolaan lingkungan perkotaan berbasis masyarakat hingga mencapai taraf yang dapat diterapkan di seluruh Indonesia. Pada bagian ini syukur saya dapat terlibat dengan membuat brand identity Bali Fokus dan membuat desain mural di proyek sanitasi berbasis masyarakatnya yang pertama di kawasan Ubung, Denpasar.

balifokus-sanimas

Pada tahun 2003, Yuyun dan Bali Fokus, bekerjasama dengan Rotary Club setempat, memprakarsai program pengelolaan limbah padat bersama Desa Temesi di Gianyar, Bali. Yang terdiri atas fasilitas pengelolaan limbah yang dimiliki dan dioperasikan oleh desa. Belajar dari pengalamannya dengan fasilitas pemulihan limbah pariwisata di Jimbaran, Bali, Ismawati dan organisasinya merekrut dan melatih warga setempat dalam mengoperasikan fasilitas dan lokasi pembuangan akhir. Para pekerja kini memilah sampah daur ulang, kompos dan residu sebelum diangkut ke tempat pembuangan. Pendapatan dari penjualan bahan daur ulang dan kompos menguntungkan bagi petani setempat. Fasilitas tersebut kini mempekerjakan 40 warga lokal dan menerima bantuan kredit sukarela untuk mendukung keberlangsungan proyek.

Sejak tahun 2004, Ia mengembangkan “desentralisasi inisiatif solusi,” dengan fokus keluarga pedesaan di wilayah urban Bali maupun kota-kota lain di Indonesia. Ismawati menggandeng ibu rumah tangga sebagai mitranya. Tujuannya adalaah untuk mengembangkan program masyarakat untuk mengurangi volume sampah yang diangkut ke tempat pembuangan kota dengan cara meminimalkan limbah di tingkat rumah tangga. Tim inti melatih para ibu melaksanakan praktik sehari-hari yang mudah dipelajari seperti pemisahan sampah dan pengomposan, dilakukan di rumah dengan memanfaatkan perabot seadanya. Program ini kini melibatkan 500 rumah. Bali Fokus memprediksi bahwa limbah rumah tangga di desa yang mengikuti program ini berkurang hingga 50 persen. Beberapa ibu menjual kompos mereka ke pasar setempat, sehingga menciptakan praktik yang menghasilkan uang bagi masyarakat. Limbah daur ulang seringkali dikreasi menjadi barang-barang layak jual, juga menciptakan ladang pendapatan baru bagi masyarakat sekitar.

Untuk pengembangan lebih lanjut atas dasar hasil positif program tersebut, Ismawati dilibatkan dalam pengembangan SANIMAS pada tahun 2001-2003. SANIMAS (sanitasi oleh masyarakat), merupakan fokusnya yakni serangkaian replika opsi-opsi pengelolaan limbah dan sanitasi bagi permukiman miskin perkotaan. Sesuai dengan kebutuhan setempat, sumber daya dan prioritas masyarakat, Bali Fokus, dan tiga LSM mitra lain memberikan pendidikan dan peningkatan kemampuan tentang pengelolaan limbah serta program sanitasi berkelanjutan. Dukungan infrastruktur pun mengalir dari pemerintah setempat maupun pusat. Kontribusi dan partisipasi masyarakat, walaupun kecil dibanding dukungan pemerintah, menjadi intisari dari keberlangsungan program dalam jangka panjang. Pada tahun 2008, SANIMAS menjadi program skala nasional yang mencakup ratusan daerah di seluruh Indonesia, dengan sedikitnya 75 kota kecil dan menengah mengikuti program ini setiap tahunnya.

Sepanjang tahun 2008, Yuyun dilibatkan oleh badan nasional dalam merancang undang-undang Indonesia pertama tentang pengelolaan limbah dan strategi pengelolaan limbah yang terkait dengan isu perubahan iklim. Selama proses pengelolaan, Ia berhasil mencegah adanya praktik merusak lingkungan, seperti pembakaran sampah sebagaimana yang terdapat dalam undang-undang.

Pada tahun 2008 pula bersama jaringan LSM dan masyarakat lainnya melebarkan sayap dengan mendirikan Jaringan Bebas Racun Indonesia. Ia berniat menjalin hubungan dengan lebih banyak LSM dan masyarakat Indonesia lainnya untuk bahu membahu mencegah penyebaran bahan-bahan beracun dari pembakaran sampah, pestisida dan logam berat seperti merkuri. Pada tahun 2009 ini Yuyun Ismawati berencana memperluas program Bali Fokus ke desa, kota dan wilayah perkotaan lain di seluruh Indonesia.

yuyun-speech

Berbahagialah kita di Bali, juga di Indonesia terutama kaum wanita. Seorang Yuyun telah memberikan motivasi dan inspirasi.

Saya amat senang dengan model dan praktek yang langsung memberi manfaat dengan disertai upaya sebagai barang bukti dari kedua orang ini. Yang satu sebagai mantan birokrat dan satunya lagi sebagai social entrepreneur. Saya teringat Mas Imam Prasodjo dalam berbagai kesempatan forum menyampaikan pentingnya Indonesia dibangun oleh lebih banyak social entrepreneur yang membuat dirinya dan lingkungannya menjadi mandiri.

Dalam sebuah kesempatan Erbe Sentanu menyampaikan sebuah hal yang menggembirakan: “Saya meyakini bahwa Indonesia dapat membangun dan bersaing dengan bangsa lainnya memajukan kesejahteraan negara dan bangsa hanya dengan 1500 orang yang memiliki komitmen dan konsentrasi baik yang dimulai dengan pembangunan dirinya” Dan saya percaya begitu saja karena semakin hari terbukti semakin banyak anak negeri yang memiliki semangat dan komitmen dalam bidangnya masing-masing. Terinspirasilah….

Demi kebaikan orang banyak, sumber gambar dipinjam dari situs yang tercantum dalam foto

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon

1 comment

line
  1. nanang

    wah… bisa di contoh tu,… good jadi teladan yg baaaaik…

    line

Leave a Reply