Otokritik: Helvetica vs Air Mata
Siapa bilang orang Indonesia marah kalau dikritik? Ahem. Jikalau yang mengkritik diri sendiri pasti tak lah…
Sudah coba otokritik? barangkali ini salahsatu cara buat mawas. Sebuah otokritik gaya visual.
Helveteardrops
Sebagai seorang yg lekat dengan visual pertanyaan kiprah apa yang bisa dikontribusikan di tengah keprihatinan bencana terus terbayang.
Scenery air laut menerjang daratan, tanah mengubur rumah atau berlari dikejar awan panas hanya imaji yang didapat dari katanya dan penggalan berita TV yang dibuat mencekam. Rasa yang sebenarnya dialami oleh saudara kita yang secara live mengalaminya adalah deskripsi kata kata karangan kita yang jauh dari nyata. Para relawan berada di garis depan, yang punya uang segera menyumbang, apa yang dikontribusikan oleh sorang desainer. Atau ribuan desainer?
Helveterdrop adalah sebuah rekayasa visual yang memaknai sebuah pertanyaan pada diri sendiri (seorang desainer) tentang perannya dalam kehidupan majemuk. Helveteardrops datang dari kemapanan dan kedigdayaan Helvetica yang mewakili eksistensi desainer, melawan kegetiran para korban dan pengungsi yang berlinang air mata karena merasa hampa. Otokritik yang satire. Lalu selsaikah setelah lahir Helveteardrops? Kini biarkanlah rasa bersalah dan ingin bersama membantu menghantui. Biarlah pertanyaan pertanyaan dan kegelisahan itu membuat rasa bersalah yang terdalam dan semakin menggila. Biarlah muncul sesuatu yang menandingi kepiluan air mata
Ihwal Helveteardrops
Konsep huruf Helveteardrops pertamakali digagas di Bangkok 2008 lalu menjadi prototype. November 2010 storage Helveteardrops dibuka kembali ketika menghadapi kegundahan dikelilingi bencana.
Credit:
Foto: Self photograph by BB, except: suasana hujan debu dari dalam mobil oleh Andika YK.
2 comments












inspirasi sederhana utk tetap kreatif. nuhun kang
awsome….
biar bisa dipake bnyak orng….
file fontnya ada ga nih pa ayip…?