rss search

Circa Handmade, Boneka Perubahan Dari Cihanjuang

line Circa Handmade, Boneka Perubahan Dari Cihanjuang
“Less work big impact” jangan dipelesetkan jadi mimpi sang pemalas. Ini adalah tantangan cerdas yang memerlukan rencana jitu. Setidaknya itu yang saya tangkap ketika jumpa lagi dengan Ukke R. Kosasih setelah lebih 15 tahun menghilang bagai ditelan bumi. Ukke berkisah tentang perjalanan Circa Handmade yang diawali dengan dibentuknya komunitas Circa yang mengagendakan pemberdayaan perempuan berbasis komunitas untuk melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan kecil lewat kreasi produktif dengan semangat berbagi yang dikerjakan secara kolektif.
Rencana ini adalah mimpinya dan masih sangat relevan dengan sosoknya 15 tahun lalu sewaktu kami bersama intens membantu Enrico Halim di Aikon Media lewat penerbitan cuma-cuma dan ideologinya yang melegenda itu.
Memulai dari Lingkungan terdekat
Yang mendasari semangat sederhana Ukke mengembangkan Circa Handmade berawal saat memiliki rumah keluarga di kawasan Cihanjuang, Bandung Barat, sejak lebih dari 20 tahun lalu. Lingkungan tempatnya tinggal adalah kawasan pertanian sayur dan bunga. Pekerjaan utama tetangganya adalah petani, lebih banyak adalah buruh tani. Anak-anak mereka seringkali hanya mengenyam pendidikan SD atau SMP (di sekolah terbuka). Anak perempuan tak jarang dinikahkan di usia sangat muda, sekitar 15 tahun, itu dilakukan untuk mengurangi beban keluarga, tapi malah tidak jarang berbalik menjadi beban karena kembali dengan membawa cucu dan menantu tak bekerja atau dengan cucu yang tak lagi ber-ayah. Pekerjaan yang banyak dipilih oleh para perempuan muda itu adalah menjadi PRT atau buruh pabrik. Menjadi petani bukan lagi jadi pilihan sejalan dengan semakin menyempitnya lahan pertanian dari waktu ke waktu. Ironi ini yang menggugah Ukke untuk mendedikasikan waktu dan pemikirannya memulai membangun komunitas perempuan di Cihanjuang.
The “A Ha” moment
Tahun 2006, Ukke menjumpai anak pengurus kebun keluarganya yang tengah membuat boneka hiasan natal, pesanan sebuah lembaga. Lalu Ukke menawarinya untuk membuka usaha bersama; membuat boneka dan quilt. Setelahnya maka bergabunglah Ukke, Wati, Entin, May dan kakak perempuan Ukke, bersama-sama mereka mendirikan Circa. Sejak awal mereka bersepakat untuk berusaha sambil belajar dan yang paling penting untuk bisa berdaya.
Di komunitas Circa yang didirikannya, Ukke mencoba membangun self esteem bagi anggota komunitas melalui komunikasi yang casual dan membangun kedekatan sehingga anggota komunitas mampu memahami karakter temannya. Pembangunan self esteem ini yang membantu menggulirkan kreasi kerajinan tangan karya komunitas yang berkualitas unggul. Walau kerajinan tangan ini dilakukan dengan teknis yang sederhana tetapi karena dilakukan dengan senang maka kesungguhan dan kecintaan ini menjadikan setiap detil menjadi sangat berarti.
Ukke menciptakan iklim bercerita sambil bekerja. Hal itu ia yakini bisa membangkitkan self esteem seseorang. Dalam dunia modern, terdapat kecenderungan dimana seseorang bisa sangat berjarak dengan sesama rekan kerja. Dengan berbagi cerita sambil bekerja, satu sama lain bisa mengetahui kondisi masing-masing. Self esteem inilah yang coba dibangkitkan dalam lingkungan kerja di Komunitas Circa.
Perubahan lewat pemberdayaan perempuan dan craft
Dari proses yang digulirkan di komunitas Circa maka lahirlah gagasan craft for change. Sebuah program pemberdayaan Perempuan berbasis komunitas yang ia gagas dengan memulai kesederhanaan. Apa yang dilakukan Ukke bermula dari segala sesuatu yang dekat dengan dirinya, segala sesuatu yang paling mudah dipahami olehnya. Pun alasan menggunakan pemberdayaan Perempuan dipilihnya karena dirinya adalah Perempuan. Ukke merasa tahu betul persoalan-persoalan yang dialami Perempuan dalam kehidupan sosial. “Memberdayakan Perempuan itu sudah terbukti bisa meningkatkan produktivitas kesejahteraan ekonomi keluarga dan komunitas di sekitarnya.
Tujuan utama membangun gerakan pemberdayaan Perempuan justru mendorong Circa untuk menghasilkan karya-karya kerajinan tangan berkualitas unggul. Teknik yang digunakan boleh jadi hanya menggunakan teknik dasar jelujur. Hampir setiap orang yang bisa menjahit, pasti bisa mempraktekkan teknik ini. Namun ketika teknik itu bisa mencurahkan atensi yang sangat detil, dia bisa menghasilkan potensi yang luar biasa, dan inilah yang dihasilkan oleh Circa. Keunggulan kualitas Circa handmade terlihat dari detil-detil setiap produk yang dihasilkan. Komunitas Circa membuat boneka sederhana berbahan perca yang karakternya dibangun menjadi sosok yang mewakili etnik Nusantara.
Melalui Circa, Ukke bercita-cita membuat sebuah usaha yang tidak saja menguntungkan tapi juga memberdayakan perempuan. Sebuah usaha yang proses-proses pembelajarannya bisa diduplikasi oleh siapa pun yang berniat melakukan perubahan melalui jalan bisnis yang dijalankan untuk kemaslahatan perempuan dan komunitasnya.
Komunitas Circa dari Cihanjuang dan Ukke R. Kosasih

Boneka berkarakter dengan storytelling
Komunitas Circa mampu menjalani proses menggulirkan dinamika dan perubahan-perubahan kecil yang berarti sehingga melahirkan kualitas yang terus meningkat serta kreativitas yang berkembang melahirkan sosok boneka yang berkarakter. Eksplorasinya menghadirkan sosok boneka dengan ragam etnis Nusantara bahkan dunia diperkuat dengan tuntutan untuk mampu mempresentasikan tokoh boneka yang dibuat dengan cerita yang menarik bahkan memberikan nama. Inilah upaya Ukke melekatkan storytelling pada boneka-boneka buatan Circa Handmade. Melalui pencapaiannya itu Circa Handmade mampu menciptakan metodologi kerja yang dijadikan semacam etos kerja Circa Handmade.
Kini Circa Handmade memasuki usia 7 tahun dengan jumlah perajin yang masih aktif sebanyak 20 orang dan menghasilkan sekitar 250 boneka setiap bulan.  Pencapaian terbesar Circa, menurut Ukke, bukan terletak pada omzet penjualan yang semakin meningkat. Tapi pada kualitas produk yang semakin baik, pada pemahaman kerja yang semakin merata, dan yang paling penting pada peningkatan daya yang dimiliki oleh para perajin.
Anak “penjaga kebun” yang dulu Ukke temui sedang membuat boneka hiasan natal, saat ini sudah menjadi calon ibu yang sering menceritakan kembali karya-karya Pramudya dan Ahmad Tohari kepada rekan perajin lainnya. Dia pun sudah mampu membangkitkan kepercayaan diri teman-temanya.Dan inilah perubahan yang sesungguhnya, perubahan yang dimulai dengan sangat sederhana dan bersahaja.
Pertamakali dimuat di Do.Inc
Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon

4 comments

line
  1. Factor of success or failure is T = Talent, A = Attitude, S = Skills, K = Knowledge. Follow these business groups such as community TDA (tangandiatas). Congratulations successful … thank you.

    line
  2. Factor of success is T = Talent, A = Attitude, S = Skills, K = Knowledge. Congratulations successful…keep spirit..thaks you..,

    line
  3. I believe that is among the most info in my opinion. For joyful studying your content. Nonetheless ought to assertion on quite a few basic items, The internet site tastes is a plus, your articles or blog posts is really great : N. Great endeavor, cheers

    line
  4. makasih yah atas artikelnya,,menarik untuk dibaca

    line

Leave a Reply