“Island Of The God’s” Vs “God’s Own Country”
Awards are compliment and also guarantee: Award for Kerala
Pasaya Textile Factory: Beyond Architecture
One of the program on Creative Entrepreneurs Catalyst Bangkok 2009 by British Council is field trip to established creative industry in Thailand. One of the destination was to Pasaya factory in Ratchaburi, about 1,5 hours driving to Bangkok. PASAYA is the brand name of textile products created by world-award-winning Thai textile designers, with the state of the art in designing and manufacturing processes, thus (more…)
Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati



Bagi penikmat kopi tentunya paham kopi yang terbaik kriterianya harus bagaimana. Di tengah maraknya gempuran instant coffee dan brand kopi asing masih banyak diantara kita yang mencari kopi sejati produksi dalam negeri. Salah satunya yang sangat legendaris adalah kopi AROMA di Bandung. Bukan karena masih mempertahankan keberadaannya hingga saat ini dengan setting “vintage”-nya di Jl.Banceuy no.51 Bandung berupa toko lawas dengan aksesori toples kopi, poster, timbangan dan showcase display yang lawas pula, namun konsistensinya menyajikan kopi dengan resep turun temurun dengan menjaga mutu dan rasa. (more…)
LAND UNDER THE RAINBOW ITU THE DIFFERENT INDONESIA
Satu lagi dari Indonesia, karya anak Indonesia aseli yang bermimpi melihat Indonesia (begitu penuturannya) dari angle seekor Rajawali (yang sedang terbang pastinya): The Different Indonesia!
Koleksi karya hebat yang menantang kegelisahan -demi mengobati rasa harkat martabat bangsa yang “dipecundangi”- menjadi sebuah kreatifitas.
Carut marutnya Imaji Indonesia di dunia internasional seakan hal yang melekat pada bangsa kita. Teroris, Keamanan Terbang, tidak ramah lingkungan, kacau balau, dst adalah isu yang beredar bak jamur di musim hujan. Sejujurnya ada dua hal yang menjadi inti dari permasalahannya: Satu, Kita memang sangat lemah mempraktekan faktor-faktor penting menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Dua, tiadanya perlawanan yang berimbang membangun pencitraan atau “bela diri” yang “cantik” dimana semua bahasa dunia tengah memasuki era kampanye branding yang kreatif dan strategik.
Mencermati karya M. Arief Budiman, seorang teman yang lebih beruntung dari saya (karena nama kita sama namun dia memiliki M didepan namanya yang jelas lebih meaningful) sangat menarik. Seorang pemikir kreatif yang bersama timnya, Petakumpet menjadi Best Agency beberapa kali di Pinasthika Ad Festival, Seorang kandidat IYDEY-ajang pemilihan creative entepreneur muda Indonesia dan kini ketua ADGI Chapter Jogja. Karya The Different Indonesia-nya menggabungkan fungsi PR dengan kreatif dengan berani dan lantang. Sangat PD gitu!. Mengajak kita juga menjadi PD.

Sebagai inisiatif saya sependapat dengannya, personal work bagi seorang desainer memang harus dibuat. Tidak perlu menunggu klien jika ingin berkarya. Menunggu pemerintah dengan pemahaman global dan visi yang kuat membangun Branding Indonesia yang hebat masih memerlukan waktu. (Terima kasih kepada pemerintah yang tengah bergiat membangun gerakan ekonomi kreatif yang realistis). Personal works, seperti juga yang saya buat dalam I See Indonesia, adalah karya yang berpeluang memberikan inspirasi sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya membangun imaji bangsa secara serius. Dan selaku unofficial works, ke-casual-an karya-karya ini ekspresinya sangat penting. Ia merefleksikan kebebasan bereksplorasi.
Omong-omong soal pencitraan Indonesia, Hal menarik dalam penggalian official branding negeri kita, esensinya seringkali tak nampak. Bias atau samar, entah karena bingung mulai dari mana atau disorientasi. Study + Research yang menjadi prasyarat utama hanya di permukaan saja dan bukan kebutuhan. Pada akhirnya biaya menjadi kambing hitam karena kita lantas mengaku tak punya uang. Uang tak ada untuk membangun bangsa dan negara?
Memahami Pencitraan Indonesia saya menganjurkan membaca terlebih dahulu karya Mochtar Lubis, Indonesia:Land Under The Rainbow:
Originally written in Dutch, Indonesia: Land Under the Rainbow is the first popular history of Indonesia to appear in English. Written in an extremely accessible style, the book offers a narration of the highlights of Indonesian history through Indonesian eyes. 1991 by Oxford University Press, USA
Sebagai brief dasar tentang Indonesia buku ini ditulis dengan penjiwaan Indonesia, kita bukan saja akan hanyut tapi menjadi gelisah tak berkesudahan. Betapa Indonesia bukan hanya narasi tetapi sebuah jiwa yang kaya. Pada proses ini akan timbul upaya yang kuat menggali kata “bangkit”.
Mas Arief Petakumpet-begitu saja saya memanggilnya- menawarkan model pemikiran “bangkit”. Ia memang tidak menunggu “dipinang” oleh Indonesia. Tetapi dia “meminang” Indonesia dengan “The Different Indonesia”nya. Dan Indonesia memang menunggu dipinang oleh segenap bangsanya. Selamat Mas Arief !, saya bersedia bersekongkol.
Tulisan yang berhubungan:
1. Siapa Mendamba Indonesia yang Berbeda?
2. Kampanye Kreatif dan Perjuangan Kolektif
“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA
Tiba tiba malam ini saya membayangkan mentalitas macam apa yang dimiliki “vintage” friend saya Jeffrey Polnaja atawa kang Jeje atau JJ yang berkeliling dunia naik motor dan sendirian. Apakah kebanyakan orang akan berpikir “euweuh gawe” alias kagak ada kerjaan atau sebaliknya ?
Jangan keburu berpikiran macam macam, misi dia dengan aktifitas ini adalah „Ride for Peace“ misinya didefinisikan sebagai : “dedicated mission for Worldwide Peace. The road to recovery through the virtue of strengthening people to people ties between Indonesia and the world; touching the hearts and minds of the world societies.” Ia secara resmi menjadi duta Indonesia bagi perdamaian demikian Adhyaksa Dault ketika melepas anak muda asal Bandung ini pada 23 April 2006 di Jakarta. Saya memang merasa bersalah. Selepas start yang dilakukannya di Jakarta itu saya bilang saya akan menulisnya sebagai rasa simpati. Tapi entah kenapa hingga Oktober 2007 saya baru diingatkan lagi ketika serombongan teman dari Bandung datang bercerita tentang dia dan saat itu berusaha menelpon Kang Jeje lewat selularnya namun tidak aktif. Lalu saya pun tak ingat lagi selepas itu.
Kang Jeje saya kenal di klub VW sepuluh tahun lalu dan merupakan salah satu senior di klubnya Volkswagen Club Bandung. Jeje atau JJ yang menjadi nickname-nya adalah singkatan dari “Jurig Jalanan” atau “Phantom of the Road”, jiwa adventurnya memang sangat kental melekat pada dirinya. Jika kita bertemu muka dengannya segera kita akan tau karakter “ngoboy”-nya. Jauh sebelum menjalani “ride for Peace” ini ia telah mengalami banyak petualangan baik yang dilakukannya secara grup maupun sendiri dengan naik motor. Solo tripnya yang pertama dengan motor dilakukannya tahun 1978 dengan menggunakan motor CB 100 dari Bandung ke Bali return. Ia aktif dan berprestasi di olahraga berkuda dan bermotor mewakili Bandung dan Indonesia. Tahun 1996 terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Mantila Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.
Dengan menggunakan Motor BMW R1150GS `Adventure` bernomor polisi D 5010 JJ yang diberi nama Mahesa (bahasa Jawa yang artinya “kerbau”) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc dapat „digeber“ dengan kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram. Rute yang dilalui Kang Jeje terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Diprakirakan petualangan perdamaiannya ini akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.
![]()
![]()
![]()
Sekelumit kisahnya dapat kita lihat di situs resmi “Ride for Peace”. Dalam emailnya dia menulis: “Banyak yang menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” bahkan pernah nginap gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam yang menanggung adalah seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.
Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Kang Jeje yang ramah, gampang
bergaul, dan komunikatif. Walau hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, ia biasa menggunakan bahasa “tarzan”. Dan ternyata bisa dipahami. Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Kang Jeje adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Kang Jeje berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Kang Jeje lewat. Hebring Euy…
Makna misi perdamaian Kang Jeje makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Kang Jeje tak mengalami masalah.
![]()
![]()
![]()
Semua kisah dalam perjalanannya dituangkan dalam diary termasuk merasakan dingin menunggang Mahesa di wilayah pegunungan Himalaya dengan suhu minus 18 derajat celcius. Dalam perjalanannya yang edan ini Kang Jeje telah merekam lebih dari 30.000 gambar dan merusakkan 4 kamera. Kelak, katanya jika sudah usai perjalanan ini akan membagi pengalamannya yang lengkap dalam sebuah buku, agar banyak anak bangsa terinspirasi oleh perjalanannya.
Lalu dimanakah saat ini dia berada? Melihat update info di situs “Ride for Peace” sekarang ia berada di Rumania dan masih panjang perjalanannya untuk kembali ke negeri tercinta ini. Apa benar misinya ini efektif sebagai misi perdamaian dunia sekaligus duta pariwisata Indonesia? Kalo tidak percaya ketik namanya di search engine dan lihat satu persatu komentar dan berita tentangnya di Negara-negara yang dilaluinya. Yang ia lakukan menurut saya sesungguhnya adalah bagian dari program “Branding Indonesia” ke mancanegara yang dilakukan secara independent alias inisiatif sendiri. Bukan hanya untuk kebanggaan tapi juga untuk menunjukkan ketangguhan bangsa. Maka marilah kita doakan Kang Jeje semoga misinya tercapai, perjalanannya lancar dan kembali ke Indonesia dengan selamat. Dan semangatnya mampu memotivasi kita untuk berkarya menjadi duta Indonesia. Buat Kang Jeje, whatever people said, you are the one! Perahu dibuat bukan untuk ditambat di pelabuhan, Ia harus mengarungi samudera dan hanya singgah di pelabuhan….
Sabtu 15 Maret 2008
Diolah dari berbagai informasi





