rss search

next page next page close

Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati

Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati


Bagi penikmat kopi tentunya paham kopi yang terbaik kriterianya harus bagaimana. Di tengah maraknya gempuran instant coffee dan brand kopi asing masih banyak diantara kita yang mencari kopi sejati produksi dalam negeri. Salah satunya yang sangat legendaris adalah kopi AROMA di Bandung. Bukan karena masih mempertahankan keberadaannya hingga saat ini dengan setting “vintage”-nya di Jl.Banceuy no.51 Bandung berupa toko lawas dengan aksesori toples kopi, poster, timbangan dan showcase display yang lawas pula, namun konsistensinya menyajikan kopi dengan resep turun temurun dengan menjaga mutu dan rasa. (more…)

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA

“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA

Ayip JJ

Tiba tiba malam ini saya membayangkan mentalitas macam apa yang dimiliki “vintage” friend saya Jeffrey Polnaja atawa kang Jeje atau JJ yang berkeliling dunia naik motor dan sendirian. Apakah kebanyakan orang akan berpikir “euweuh gawe” alias kagak ada kerjaan atau sebaliknya ?

Jangan keburu berpikiran macam macam, misi dia dengan aktifitas ini adalah „Ride for Peace“ misinya didefinisikan sebagai : “dedicated mission for Worldwide Peace. The road to recovery through the virtue of strengthening people to people ties between Indonesia and the world; touching the hearts and minds of the world societies.” Ia secara resmi menjadi duta Indonesia bagi perdamaian demikian Adhyaksa Dault ketika melepas anak muda asal Bandung ini pada 23 April 2006 di Jakarta. Saya memang merasa bersalah. Selepas start yang dilakukannya di Jakarta itu saya bilang saya akan menulisnya sebagai rasa simpati. Tapi entah kenapa hingga Oktober 2007 saya baru diingatkan lagi ketika serombongan teman dari Bandung datang bercerita tentang dia dan saat itu berusaha menelpon Kang Jeje lewat selularnya namun tidak aktif. Lalu saya pun tak ingat lagi selepas itu.

Kang Jeje saya kenal di klub VW sepuluh tahun lalu dan merupakan salah satu senior di klubnya Volkswagen Club Bandung. Jeje atau JJ yang menjadi nickname-nya adalah singkatan dari “Jurig Jalanan” atau “Phantom of the Road”, jiwa adventurnya memang sangat kental melekat pada dirinya. Jika kita bertemu muka dengannya segera kita akan tau karakter “ngoboy”-nya. Jauh sebelum menjalani “ride for Peace” ini ia telah mengalami banyak petualangan baik yang dilakukannya secara grup maupun sendiri dengan naik motor. Solo tripnya yang pertama dengan motor dilakukannya tahun 1978 dengan menggunakan motor CB 100 dari Bandung ke Bali return. Ia aktif dan berprestasi di olahraga berkuda dan bermotor mewakili Bandung dan Indonesia. Tahun 1996 terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Mantila Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.

Dengan menggunakan Motor BMW R1150GS `Adventure` bernomor polisi D 5010 JJ yang diberi nama Mahesa (bahasa Jawa yang artinya “kerbau”) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc dapat „digeber“ dengan kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram. Rute yang dilalui Kang Jeje terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Diprakirakan petualangan perdamaiannya ini akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.

Ayip JJ 1Ayip JJ 2Ayip JJ 3
Sekelumit kisahnya dapat kita lihat di situs resmi “Ride for Peace”. Dalam emailnya dia menulis: “Banyak yang menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” bahkan pernah nginap gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam yang menanggung adalah seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Kang Jeje yang ramah, gampang
bergaul, dan komunikatif. Walau hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, ia biasa menggunakan bahasa “tarzan”. Dan ternyata bisa dipahami. Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Kang Jeje adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Kang Jeje berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Kang Jeje lewat. Hebring Euy…

Makna misi perdamaian Kang Jeje makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Kang Jeje tak mengalami masalah.

Ayip JJ 4Ayip JJ 5Ayip JJ 6
Semua kisah dalam perjalanannya dituangkan dalam diary termasuk merasakan dingin menunggang Mahesa di wilayah pegunungan Himalaya dengan suhu minus 18 derajat celcius. Dalam perjalanannya yang edan ini Kang Jeje telah merekam lebih dari 30.000 gambar dan merusakkan 4 kamera. Kelak, katanya jika sudah usai perjalanan ini akan membagi pengalamannya yang lengkap dalam sebuah buku, agar banyak anak bangsa terinspirasi oleh perjalanannya.

Lalu dimanakah saat ini dia berada? Melihat update info di situs “Ride for Peace” sekarang ia berada di Rumania dan masih panjang perjalanannya untuk kembali ke negeri tercinta ini. Apa benar misinya ini efektif sebagai misi perdamaian dunia sekaligus duta pariwisata Indonesia? Kalo tidak percaya ketik namanya di search engine dan lihat satu persatu komentar dan berita tentangnya di Negara-negara yang dilaluinya. Yang ia lakukan menurut saya sesungguhnya adalah bagian dari program “Branding Indonesia” ke mancanegara yang dilakukan secara independent alias inisiatif sendiri. Bukan hanya untuk kebanggaan tapi juga untuk menunjukkan ketangguhan bangsa. Maka marilah kita doakan Kang Jeje semoga misinya tercapai, perjalanannya lancar dan kembali ke Indonesia dengan selamat. Dan semangatnya mampu memotivasi kita untuk berkarya menjadi duta Indonesia. Buat Kang Jeje, whatever people said, you are the one! Perahu dibuat bukan untuk ditambat di pelabuhan, Ia harus mengarungi samudera dan hanya singgah di pelabuhan….

Sabtu 15 Maret 2008
Diolah dari berbagai informasi

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

INDONESIA BRANDING STRATEGY. A LEARNING PROCESS

INDONESIA BRANDING STRATEGY. A LEARNING PROCESS

Visit Indonesia 2008

Again, about branding and vision. And it’s about Visit Indonesia 2008, part of destination branding for Indonesia. And again it’s all about learning process.

Before I put my opinion, this Monday I have this article from Bali Discovery. Happy reading!

And Deliver Us from Amateurs…
Editorial: Is Someone Asleep at the Wheel When it Comes to Marketing Indonesian Tourism?

(12/23/2007)

Oops!
The Ministry of Culture and Tourism announced last week that the slogan “Visit Indonesia 2008 – Celebrating 100 Years of Nation’s Awakening” is going to be quickly revamped. No doubt, this decision is accompanied by no small amount of panic as airplane fuselages must repainted, letterheads reprinted, brochures reformatted and republished, and television adverts re-edited before January 1, 2008 when President Susilo Bambang Yudhoyono is scheduled to officially inaugurate the Visit Indonesia Year 2008 (VIY 2008) promotion.

Meanwhile, the international press, together with many members of Indonesia’s tourism industry, are wondering how Indonesia managed to find itself in such an embarrassing and potentially expensive position.

The current imbroglio of “bad advertising copy” traces back to a decision to link VIY 2008 with the 100th anniversary of Boedi Oetomo – a movement deemed by the program’s innovators as the start of Indonesia’s “national awakening.”.

While the sense of nationalism behind the current promotional program is laudable, the suggestion is that the creator’s of the VIY 2008 tourism promotion logo may be ill-informed and inexpert on matters both a grammatical and historical level.

Some Indonesian historicans point out that Boedi Oetomo was, in fact, an elitist movement restricted to East Javanese and Madurese aristocrats dedicated to seeking personal parity in educational rights and privileges then enjoyed by Dutch colonialists. With Boedi Oetomo judged not to be nationalistic in its platform and goals, these same historians point to the founding of Syarikat Islam (1905) and the Sumpah Pemuda movement (1928) as points in history more appropriately signaling nationalistic aspirations for a future Indonesian Republic.

Against this background, quckly announced plans by Thamrin Bachri, the Director General of Marketing for Indonesian tourism to change the sloppy slogan to “Celebrating 100 years of national awakening” is wrought with danger in failing to address the historical debate surrounding linking “national awakening” and the year 1908.

There is No Easy Fix
No less than former head of the Indonesian Tourism Promotion Board and a retired official of Ministry Tourism and Telecommunication, Wuryastuti Sunario, told Balidiscovery.com: “the term ‘national awakening’ is also wrong, because in 1908, the Boedi Oetomo movement was aimed at fighting for equal education for ethnic Indonesians as given to Dutch citizens. At that time there was no concept as yet to create the Indonesian nation…It was only in 1928 with the ‘Sumpah Pemuda’ that Indonesians envisaged the birth of the Indonesian ‘nation’ through the Youth pledge: ‘Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa’ : One Country, one nation, one language’”.

Given these historical and grammatical obstacles, it will be extremely problematical to “fix” the current VIY 2008 logo, also raising questions on how much of the Nation’s precious tourism promotion budget will have to be spent to correct this error.

Perhaps the most effective solution offered to date is to consider losing the by-line completely and going solely with “Visit Indonesia Year 2008.”

Ouch!
The current fiasco surrounding this poorly executed tourism marketing campaigns has drawn widespread criticism in the international and national media on how Indonesia promotes its tourism fortunes, including rebukes from the Financial Times (who broke the story), Associated Press, and International Herald Tribune.

Speaking to the Jakarta Press, Bachri defended the work of his team and advertising agency saying: “Our colleagues tried their best not to be reckless in creating the slogan, I’m sure. But we have been advised by several people to change the slogan.”

Because the historical link between “national awakening” and the 1908 Boedi Oetomo movement is, at very best, tenuous and that little fanfare or ceremony accompanies the commemoration of the movement’s founding; the linking of VIY 2008 to what is largely a little celebrated and largely not understood historical date is surprising.

TV Commercials Questioned
This latest faux pas in promoting national tourism has also given the press pause to question the wisdom of the country’s tourism TV marketing. The Financial Times said: “The accompanying television adverts are equally incomprehensible. They feature young men jumping over a stone altar on the island of Nias, horsemen riding through an unidentifiable quarry and a Papuan tribesman paddling down a jungle river at night: activities that 99 per cent of tourists are unlikely to experience.”

Does Indonesia Tourism Need a New Ad Agency?
These latest embarrassing chapters in tourism promotion comes on the heels of a series of full page display advertisements from the Ministry which have been placed in the international media that contained grammatical discrepancies and poorly conceived selling messages.

One ad carried an emotive message showing a picture of the earthquake-damaged Central Javanese Hindu temple of Prambanan, proclaiming a national commitment to “someday” rebuild the monument, no matter how many years it takes. That message prompted one foreign travel agent to quip: “Give me a call when you are once again open for business.”

Another full page advert in the Australian edition of Time Magazine tried to persuade surfers to come to Indonesia, saying surfers will encounter “the same wave everywhere,” cryptically tossing in the grammatically suspect non sequitur, “all the islands that have coastlines facing in those directions(sic) get waves.”

A more recent full-page advertisements used the device of asking a rhetorical question, but somehow omitted the mandatory question mark.

All of which prompts us to rhetorically ask: “Are we being too finicky?
In the private sector such glaring mistakes in product presentation, branding and campaign execution would almost certainly result in the advertising agency being shown the door. Given the fact that public funds and the nation’s reputation are at stake in the current instance, should the standards applied by Minister Wacik be any less rigorous?

The business of Indonesian tourism is too vitally important to the national economy to be left in the hands of bumblers and amateurs. Hopefully, Culture and Tourism Minister Jero Wacik will exercise his mandate and get the national tourism marketing house quickly back in order.

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

KERALA, AM I COMING?

KERALA, AM I COMING?

Kerala India
Ayo Bali tengok apa yang terjadi di belahan bumi yang lain. Sekarang saatnya studi banding yang beneran. Bali harus belajar dari Kerala, di India. Pasalnya economic development di Kerala diarahkan ke tourism yang „baik dan benar“. Aliran tourismnya mengarah ke eco tourism. Lebih dari itu dipertegas dengan kategori yang lebih mantap yaitu responsible tourism. Bali juga harus belajar dari Kerala karena dalam historis Kerala terdapat legenda raja Maha Bali yang masih diperingati dalam Festival Onam setahun sekali. Apakah nama Bali juga berasal dari sana ? Wallahu Alam…
Kerala Branding
Walau Kerala hanya sebuah state di India yang dipimpin oleh seorang gubernur namun promosi pariwisatanya (baca: branding destination) dikemas secara professional. Dengan taglinenya „God’s Own Country“ Kerala merancang kampanye branding destinationnya secara terstruktur bahkan berstatus superbrand. Print Ads-nya yang menyentuh membuat orang yang melihatnya menerawang mencoba membayangkan.
Kerala Print Ads
Kerala Print Ads
Kerala Print Ads
Maret 2008 nanti untuk kedua kalinya Kerala menjadi tuan rumah Responsible Tourism Conference. Hmm… pas banget sekarang ada 3 klien yang ideologinya “eco”. Ada cita-cita baiknya menengok kenyataan disana sambil melihat dan belajar. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri India… semoga…
Kerala Print Ads

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

DESTINATION BRANDING, NATION BRANDING, PLACE BRANDING DIMANA BRANDING BALI BERADA?

DESTINATION BRANDING, NATION BRANDING, PLACE BRANDING DIMANA BRANDING BALI BERADA?

Branding Bali Logo

Ketika membayangkan Bali memiliki sebuah branding, saya langsung membayangkan yang harus dilakukan Bali dalam brandingnya menggunakan benchmark “country branding”. Bukan city branding atau island branding. Visi branding Bali harus sama dengan cara sebuah Negara melakukan destination branding seperti Malaysia, Singapura, India dan Negara lainnya. Alasan yang mendasar bagi saya memikirkan hal tersebut adalah peluang Bali yang sangat memungkinkan untuk melakukan itu. Reputasi Bali selama ini, potensi yang dimilikinya, positioning Bali di masa datang juga sekaligus menjadi semacam inisiatif atas belum terselenggaranya branding Indonesia yang comprehensive. Namun untuk menentukan itu pun sebuah proses studi dan riset harus dilalui dulu.

Pengertian destination branding atau place branding seyogianya dipahami juga oleh kita secara utuh karena ia adalah sebuah strategi yang akan menghabiskan biaya dan waktu. Jika kurang tepat dan cermat mengeksekusinya maka kita akan kehilangan biaya dan waktu dengan sia-sia. Pijakan branding sebuah tempat atau destination branding juga dilakukan tidak hanya untuk atau melalui pariwisata saja. Dalam strategi destination branding di banyak tempat setidaknya ada enam elemen penting pembentuk destination branding atau prasyarat terciptanya destinasi yang baik dan pariwisata adalah salah satu komponennya. Komponen yang lainnya adalah people, governance, export, investment/immigration, culture & heritage.

Sebuah konsep destination branding, didasari oleh passion dan identitas yang menarik yang saling berhubungan dengan berbagai hal yang akan memudahkan orang memiliki asosiasi dengan tempat tersebut. Destination branding diyakini memiliki kekuatan untuk merubah presepsi dan merubah cara pandang seseorang terhadap suatu tempat atau tujuan termasuk melihat perbedaan sebuah tempat dengan tempat lainnya untuk dipilih sebagai tujuan.

Belum lama rasanya Bali memiliki branding dengan tagline “Bali is My Life” yang belum teruji kesuksesannya dan belum terasa benar dampak dari kampanye branding tersebut namun ketika membuka Festival Kesenian Bali ke XXIX beberapa waktu lalu, Bapak Yudhoyono Presiden RI telah melaunching branding Bali yang baru “Bali. Santhi Santhi Santhi”. Pijakan utama dari branding tersebut salah satunya adalah keinginan responden masyarakat Bali asli sejumlah 900 orang yang prosentase terbesarnya mengharapkan bahwa penggambaran Bali yang paling baik adalah paradise dengan pendekatan spiritual yang divisualkan dengan pura. Branding Bali yang baru divisualisasikan dengan gambar segi tiga bertuliskan Bali Shanti Shanti Shanti yang merupakan semangat dari Tri Murti dan Tri Hitakarana. Shanti yang berarti damai tertulis tiga kali berarti mengalir semangat kedamaian dan keharmonisan. Tapi jangan mencoba mengamati tulisan BALI yang digambarkan disana mengesankan tulisan Arab karena barangkali ada alasan lain yang melatarinya.

Saya kira merupakan hal yang tidak diragukan lagi bahwa Bali dalam sejarahnya memiliki karakteristik dan keunikan yang tiada duanya kombinasi antara alam, seni, budaya dan spiritualitas. Hingga muncul tagline “Island of the God” yang sangat legendaris. Namun pertanyaannya, haruskah gagasan spiritual yang disampaikan responden branding Bali ini dieksekusi secara vulgar menjadi icon Santhi Santhi Santhi? Yang menurut saya perlu extra effort bagi pihak eksternal memahami dan menangkap makna simbolik itu sebagai komunikasi pencitraan Bali sebagaimana sebuah simbol branding memiliki fungsi awareness.

Pentingnya branding yang dilambangkan dengan logo atau simbol adalah memvisualkan gagasan dan cita-cita menjadi sebuah icon yang mampu “mengimajinasikan” atau “menggambarkan” cita-cita tersebut. Simbol atau icon ini akan berfungsi sebagai “awareness campaign” yang memiliki asosiasi positip, imajinatif dan mudah dipahami. Sebagai contoh The Incredible India campaign yang dimulai December 2002 difokuskan pada gagasan yoga, Ayurveda dan konsep spiritual lain yang asli dari India.

Seperti disampaikan oleh Lavanya Anirudh, account director Ogilvy and Mather India pada Dow Jones & Company: “Yoga, we own it but have never flaunted it, Bali, and also other Asian country, are flaunting yoga and meditation with their spas. But we have had it for centuries and centuries. And the real Ayurveda is in India. We decided to showcase all of that and we layered the entire campaign with spirituality.”

Kata “Incredible” dipakai untuk mewakili spiritualitas dimaksud karena memiliki sound atau makna luas yang dipahami banyak pihak eksternal sebagai “sesuatu yang luar biasa”. Ketika dia bertanya kepada masyarakat apa yang mereka pikirkan dengan kampanye “Incredible India”, dia mengatakan, “I just keep hearing that ‘incredible’ is absolutely the apt word to describe India. The country isn’t perfect; everything isn’t laid out for you on a platter. Yes, we have cows on the narrow streets, but this is mixed with some amazing stuff.” A big reason is that India’s Ministry of Tourism, with its subtle and charming “Incredible India” campaign, is pushing the great Indian story effectively.

Setelah India secara konsisten membawakan kampanye “Incredible India” tersebut selama hampir 5 tahun resultnya sangat menggembirakan bagi perekonomian dan pariwisata India, termasuk juga komentar pakar branding dunia. “I’m surprised by India’s exclusion from the rising star category as perceptions are changing with the country moving up from a spiritual order to a new energy tech-oriented sphere,” kata Santosh Desai, seorang brand analyst di The Future Group. Dalam “10 Top Country Brand Ranking 2006” oleh Future Brand, India menempati urutan ke 10 dan merupakan Negara Asia satu-satunya yang masuk 10 terbaik.

Success story selalu menarik buat saya. Ia menjadi semacam cermin dan motivasi untuk menuju yang lebih baik. Maka ketika kita mengetahui begitu lazimnya kini destination branding dipakai sebagai strategi destination management, telah banyak success story yang dapat kita cermati sebagai benchmark. Keuntungan lain jika kita sukses dengan model destination branding yang kita implementasikan adalah kesempatan mempresentasikan konsepnya di berbagai Negara pada forum-forum mengenai destination branding ataupun sustainable tourism sebagai model yang sukses. Seperti yang dilakukan World Tourism Organization dengan mengundang Malaysia untuk mempresentasikan “Malaysia, Truly Asia” yang sukses itu di berbagai negara dan hal itu menjadi promosi sebuah tempat yang elegan.

Menjembatani identitas Bali yang telah sangat dikenal (alam, seni, budaya dan spiritualitas) dengan kekinian yang merupakan dinamika waktu menjadi sebuah visi dalam destination branding Bali memang bukan perkara mudah. Diperlukan studi mendalam dan pemikiran lintas sektoral dan perencanaan kampanye yang memiliki orientasi internal (untuk masyarakat di Bali sendiri) juga eksternal (untuk masyarakat luar) secara bersama serta proyeksi kedepan yang berkesinambungan. Sehingga terbentuk sebuah kesadaran bahwa peran setiap orang menjadi penting dalam kampanye branding Bali. Harus diingat pula arti “kampanye” itu sendiri yaitu untuk mendapat simpati dan “to win the heart” of people. Siapapun dia.

Tulisan ini ada karena sebuah proses memahami destination branding semenjak 4 tahun lalu yang sangat menarik dan ternyata terus berkembang secara dinamis. Dari hasil pengamatan jelas bahwa destination branding dari statusnya sebagai sebuah pilihan menjadi sebuah keharusan dikarenakan manfaatnya. Jika kita masih berpikir sulit dan mahal tentang destination branding diperbandingkan dengan dampaknya yang luar biasa seharusnya kita melakukan siasat dengan bersinergi. Bahwa destination branding harus dibaca bukan hanya tugas pemerintah saja namun private sector dan seluruh lapisan masyarakat sehingga keterlibatannya dalam membentuk dan menjadi bagian branding campaign sangat penting. Ketika Jogja pertamakali meluncurkan icon “Jogja Never Ending Asia” peran private sector melalui komunitas masyarkata non-Jogja yang disebut alumni Jogja yaitu mereka yang pernah bersekolah dan menjadi pejabat di Jogja sangat penting dengan turut memberikan funding bagi terciptanya destination branding Jogja.

Bagi saya, implementasi branding Bali yang ideal tidak harus tergesa, mungkin dua tahun lagi, mungkin lima tahun lagi, tetapi dipersiapkan secara matang dan terstruktur sehingga lebih mantap dan efektif setidaknya diproyeksikan untuk sepuluh tahun kedepan. AYIP

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

DESTINATION BRANDING, NATION BRANDING, PLACE BRANDING WHERE SHOULD BALI BRANDING TAKE A POSITION?

DESTINATION BRANDING, NATION BRANDING, PLACE BRANDING  WHERE SHOULD BALI BRANDING TAKE A POSITION?

When I imagined Bali having a branding, I directly imagine that Bali should do something to create its own branding by using benchmark “country branding”. It is not city branding or island branding. The vision of Bali branding must be similar to the way of a country making a destination branding like Malaysia, Singapore, India and other countries. In my opinion, the basic reason to think of it is an opportunity to enable Bali to do it. Nowadays, Bali reputation, its potential, positioning Bali in the future is also a certain kind of initiative that does not run comprehensively the branding of Indonesia.

Nevertheless, the destination branding or place branding should be advisable to understand completely because it is a strategy that will take cost and time. If it is not correct and accurate to execute then we will waste money and time.
For example, one of our understandings about branding a place or destination branding made only for or through tourism. In fact, in the destination branding strategy, at least, there are six significant element formed destination branding or as prerequisite to create good destination and tourism as one of component beside people, governance, export, investment or immigration, and culture & heritage.

A concept of destination branding, is based on passion and interesting identity that is related due to many things that will make everyone easier having association with the place. Destination branding is convinced to have a power to change a perception and the way of thinking to a place or destination including observing the difference between one place and other places to be chosen as a destination.
Not long before, Bali had a branding with tagline “Bali is My Life” which was unsuccessful and no impact at all from that branding campaign. Nonetheless, at the 29th of Bali Art Festival, Yudhoyono, The Indonesian President had launched new branding “Bali. Santhi Santhi Santhi”. One of the main foundations of the branding is a response from the native Balinese people amount to 900 people most of them expect that the best description of Bali is spiritually with temple visual. I think undoubtedly that Bali, on history, has a magnificent characteristic and uniqueness combine with nature, art, culture and spirituality. That was a tagline “Island of the God” which is very legendary. Yet, the question is should the idea of spirituality be executed as an icon Santhi Santhi Santhi? According to my point of view, international people need some extra effort to know and understand that symbolic meaning as a communication on Bali image in the same manner as a branding symbol with awareness.

The important branding that is symbolized with logo or symbol is to visualize idea and desires become an icon that is able “to picture” or “to describe” the desires. This symbol or icon will function as “awareness campaign” which has a positive association, imaginative and understandable. For example The Incredible India campaign that was held on December 2002 focused on the idea of Yoga, Ayurveda and other spiritual concept from India.

As Lavanya Anirudh, account director Ogilvy and Mather India said to Dow Jones & Company: “Yoga, we own it but have never flaunted it, Bali, and also other Asian country, are flaunting yoga and meditation with their spas. But we have had it for centuries and centuries. And the real Ayurveda is in India. We decided to showcase all of that and we layered the entire campaign with spirituality.” The word “Incredible” is used for representing the spirituality itself because it has sound and very wide meaning that is understood by many people as “great thing”. When she asked to the society about the campaign of “Incredible India”, she said, “I just keep hearing that ‘incredible’ is absolutely the apt word to describe India. The country isn’t perfect; everything isn’t laid out for you on a platter. Yes, we have cows on the narrow streets, but this is mixed with some amazing stuff.” A big reason is that India’s Ministry of Tourism, with its subtle and charming “Incredible India” campaign, is pushing the great Indian story effectively.

After India consistently presents the campaign “Incredible India” for almost 5 years, the result is very exciting for the economic and India tourism, added by the comment from the expert of world branding. “I’m surprised by India’s exclusion from the rising star category as perceptions are changing with the country moving up from a spiritual order to a new energy tech-oriented sphere,” said Santosh Desai, a brand analyst at The Future Group. On the “10 Top Country Brand Ranking 2006” by Future Brand, India is on the 10 and is the one and only from Asia.

Success story always makes me interested. It becomes a reflection and motivation to set out the better one. Thus, we usually know that destination branding is used as a destination management strategy. Moreover, there are many success stories that we can observe as a benchmark. Another advantage is if we are successful with destination branding, it becomes a great opportunity to present our concept to some countries on forum or seminar about destination branding or sustainable tourism. It is made by World Tourism Organization by inviting Malaysia to present “Malaysia, Truly Asia” which is very successful in some countries and becomes a luxurious place to visit. To build a bridge over the identity of Bali which is very famous (nature, art, culture and spirituality) and at the moment becomes a vision for Bali destination branding is not an easy matter. It is needed to study more in depth, a sectoral thinking, a plan of internal and external oriented campaign from all society, and also a forthcoming sustainable plan. Therefore, it is to instill awareness for every people getting involved on the Bali branding campaign. Please remember that the meaning of “campaign” is to get a sympathy and “to win the heart” of people. No matter what they are.

This writing is made because of a process to understand destination branding since 4 years ago which is very interesting and apparently keep growing dynamically. According to the observation, it is clear enough that destination branding as a must-to-do choice because of the benefit. If we still think that destination branding is a hard and expensive to do than we think about the extraordinarily uncommon impact, we must set out to make a continuous strategy. Moreover, destination branding must be read not only for the government but also private sector and all community. So, their involvement to form and as a part of branding campaign considers important. When Jogja, for the first time, launched an icon “Jogja Never Ending Asia”, the private sector through non-Jogja citizen community called Jogja alumnus who studied and became an official in Jogja by giving fund is really needed.
For me, the ideal implementation of branding Bali can be next 2 years, or next 5 years, but it must be well-prepared and structural. So, it becomes more stable and effective, at least for the next ten years. Let’s rule the strategy of destination branding. Because branding campaign is expensive, take time, so we must consistent, build an integrated link and always back it with quality. We will be success.

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page
Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati

Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati

Bagi penikmat kopi tentunya paham kopi yang terbaik kriterianya harus bagaimana. Di...
article post
“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA

“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA

Tiba tiba malam ini saya membayangkan mentalitas macam apa yang dimiliki “vintage”...
article post
INDONESIA BRANDING STRATEGY. A LEARNING PROCESS

INDONESIA BRANDING STRATEGY. A LEARNING PROCESS

Again, about branding and vision. And it’s about Visit Indonesia 2008, part of...
article post
KERALA, AM I COMING?

KERALA, AM I COMING?

Ayo Bali tengok apa yang terjadi di belahan bumi yang lain. Sekarang saatnya studi...
article post
DESTINATION BRANDING, NATION BRANDING, PLACE BRANDING DIMANA BRANDING BALI BERADA?

DESTINATION BRANDING, NATION BRANDING, PLACE BRANDING DIMANA BRANDING BALI BERADA?

Ketika membayangkan Bali memiliki sebuah branding, saya langsung membayangkan yang harus...
article post
DESTINATION BRANDING, NATION BRANDING, PLACE BRANDING  WHERE SHOULD BALI BRANDING TAKE A POSITION?

DESTINATION BRANDING, NATION BRANDING, PLACE BRANDING WHERE SHOULD BALI BRANDING TAKE A POSITION?

When I imagined Bali having a branding, I directly imagine that Bali should do something...
article post