rss search

next page next page close

Pen On Snack Box By Jango Pramartha

Pen On Snack Box By Jango Pramartha

JOP

During boring meeting after snack time, cartoonist Jango Pramartha compile some of meeting attendees in the used snack box, one of them must be me-lah

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

Dominasi Indonesia di Asia’s Best Young Entrepreneurs 2009

Dominasi Indonesia di Asia’s Best Young Entrepreneurs 2009

Majalah Business Week menggelar Asia’s Best Young Entrepreneurs 2009 untuk memilih pengusaha-pengusaha muda kreatif di Asia. Walaupun tak menempati urutan pertama, sangat membanggakan bahwa Indonesia memiliki kandidat terbanyak dari 25 orang yang dinominasikan. Indonesia memiliki 9 nominator dan merupakan Negara terbanyak yang masuk dalam nominasi disamping Negara Asia lainnya Singapura (5 nominator), Hongkong (2 nominator), China (2 nominator), Korea Selatan (2 nominator), Thailand (2 nominator), India (1 nominator), Jepang (1 nominator), Taiwan (1 nominator) dan Hong Kong (1 nominator). (more…)

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

KADO KADO 2008 YANG MENCERAHKAN

KADO KADO 2008 YANG MENCERAHKAN

Akhir tahun selalu dihiasi kaleidoskop mengenai rangkaian kejadian apa yang menarik dalam tahun yang akan berlalu. Banyak kejadian menarik yang saya lalui di tahun 2008 tapi memilih yang berkesan harus memilah-milah memori kembali. Syukur saya teringat semenjak Juli 2008 tiba-tiba saja koleksi buku meningkat dan teristimewa buku-buku itu didapat langsung dari teman teman si pembuatnya sebagai kado.

Dan kaleidoskop 2008 saya yang teristimewa adalah soal buku-buku pemberian itu. Buku adalah buah pemikiran yang menarik dan penting bagi referensi dan pengetahuan kita.

Ingin tahu buku apa saja yang menjadi kado saya dan menjadi koleksi pribadi karena rata-rata semua berisi author’s signature, ayo kita lihat dibawah ini :


DYAN ANGGRAINI
Buku tentang kumpulan tulisan dan essay mengenai artis perupa Dyan Anggraini dari Yogyakarta yang kini menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Yogyakarta. Buku ini berisi tulisan I Wayan Sukra, M. Agus Burhan, Toety Heraty, Wahyudin dan editornya adalah Landung Simatupang.

Buku ini menggambarkan perjalanan kesenian Dyan Anggraini yang juga banyak dikaitkan dengan eksistensinya sebagai wanita yang memiliki perjuangan dan prestasi. Buku ini saya dapatkan dari Mbak Dyan, demikian saya memanggilnya, sewaktu meluncurkan buku Frans Nadjira berjudul Curriculum Vitae yang diterbitkan oleh MatameraBook di Taman Budaya Yogyakarta bulan Juli 2008. Dengan jamuan ala Yogyakarta kami berbanyak orang termasuk Frans Nadjira dan Kaka, Saut Situmorang, Mba Dyan dan suami serta teman-teman sastrawan Yogya menikmati soto dan Alun alun Yogyakarta.

ALIA
Ini komik baru keluaran Concept Media selaku publisher yang menerbitkan cergam asli karya anak bangsa “ALIA” sebagai bentuk dukungan nyata anak bangsa untuk kebangkitan komik Indonesia. Sekitar 30 cergamis yang merindukan lahirnya tokoh-tokoh superhero lokal yang bisa dibanggakan dan diteladani oleh generasi muda Indonesia bergabung dalam penggarapan cergam ALIA. Alia edisi perdana terdiri dari dua buku yang jika disandingkan nampak merah putih menjadi symbol dari sosok tokoh dalam cerita yang mewakili spirit Indonesia.

Djoko sang pemilik dan produser memberikannya kepada saya di ruang tungu Mega Blitz di Grand Indonesia saat kami voting menentukan logo Wartajazz yang baru bersama Agus S. Basuni, Andi S. Boediman, dan Irvan Noe’man.


THE SKETCHBOOK SOLICHIN.
Dalam buku ini berisi 26 sketsa pensil Solichin mengenai Losari Coffee Plantation, sebuah resort di Jawa Tengah dengan setting rumah tua di tengah perkebunan kopi Losari. Tempat ini adalah impian pemiliknya Gabriella Teggia yang juga membuat konsep untuk butique resort Amanjiwo di Magelang. Yang menarik ketika saya mengunjungi Losari awal tahun ini adalah sebuah tempat bernama Mayong reception yang merupakan bangunan stasiun kereta api yang dibuat tahun 1873.

Buku ini diberikan oleh Ratna Amatsarie sebagai koordinator dan editornya ketika mengunjungi Bali. Ratna adalah sahabat lama yang dulu menetap di Bali dan terakhir sebelum pindah ke Yogyakarta menjadi representatif Edition Didier Milet, penerbit terkemuka coffee table book dengan subyek Asia yang berkantor di Bali.


FRAGRANT RICE
Buku yang menceritakan pengalaman seorang Janet De Neefe jatuh cinta kepada Bali termasuk kisahnya menikah dengan Pak Ketut dan mencintai budaya serta kulinari Bali. Selain mengupas kisah jatuh cintanya kepada Bali semenjak 1974, di dalamnya termuat juga resep-resep kuliner yang lezat berbagai masakan Bali. Buku ini diterbitkan Periplus tahun 2003.

Buku ini diberikan Janet ketika Matamera dimintanya menangani visual design untuk Ubud Writers & Readers Festival 2008 dimana dia adalah penggagasnya.


KAIN UNTUK SUAMI
Buku kolaborasi Poriaman Sitanggang sebagai fotografer dan Fenny Purnawan sebagai penulis yang sejatinya adalah suami istri. Buku ini adalah buku mengenai Tenun Tradisional Nusa Tenggara Timur yang dikupas menarik lewat geografi dan sosial budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur sehingga kita mengenal kain tersebut adalah representasi dan symbol kehidupan masyarakat disana. Buku ini diterbitkan oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Natayu.

Bung Por dan Mbak Fenny memberikannya kepada saya ketika ada acara talkshow mengenai Buku I See Indonesia dan semangat kebangsaan di Senayan City Jakarta.


JUALAN IDE SEGAR
Buku yang sangat luar biasa memberikan know how tentang modal kreatifitas yang dapat menjadi nilai bagi kehidupan. Kisah nyata yang dituliskan dan dipraktekan M. Arief Budiman sang pendiri Petakumpet di Yogyakarta. Selain buku, disertai juga CD berisi trick n tips, presentasi dan portfolio Petakumpet.

Jauh sebelum buku ini diterbitkan saya diminta memberikan komentar yang dimuat dalam pengantar buku ini. Bukan hanya itu, dalam sebuah kesempatan casual di depan forum Adgi Bali Chapter sempat mempresentasikan gagasannya tentang Jualan Ide Segar ini. Buku ini diterbitkan oleh Galang Press Jogjakarta.


THINGS I HAVE LEARNED IN MY LIFE SO FAR
Ini buku paling unik yang saya peroleh tahun ini. Bukan karena dibuat oleh seorang desainer grafis terkemuka abad ini Stefan Sagmeister tetapi desain bukunya serta isinya memang sangat mencerahkan terutama dari sudut gagasan dan eksekusi dalam berkarya. Karya-karya pada buku “Things I Have Learned In My Life So Far” memang menuangkan kata-kata bijak yang dibuat dalam buku hariannya ke dalam visual yang eksploratif dan memiliki nilai kreatifitas tinggi. Baginya pesan visual melalui desain grafis memiliki dimensi nilai lebih luas dibandingkan dengan menuangkannya dalam kata.

Perkenalan saya dengan Stefan Sagmeister di Jakarta tahun 2007 diawali dengan menginterview dia soal cover Pat Metheny untuk Wartajazz. Saat itu dia bilang “tunggu saya di Bali”. Setahun kemudian dia memenuhi janjinya dan dalam undangan makan malamnya di Sayan dia mengatakan akan tinggal di Bali selama satu tahun untuk proyek pribadinya.


KAMUS BRAND
Sebagai referensi bagi peminat brand, buku ini memuat kosa kata dalam brand yang cukup lengkap. Dikemas dalam buku yang handy dengan warna kuning mencolok dan tercetak diatas kertas yang mewah. Diterbitkan oleh Red & White publishing yang banyak menerbit coffee table book karya fotografer Indonesia.

Mendiola B. Wiryawan sang penyusun adalah salah seorang desainer grafis muda Indonesia terkemuka pemilik Mendiola Design Associates yang juga pendiri dan aktifis FDGI (Forum Desainer Grafis Indonesia) sebuah forum nirlaba yang mengkhusus kepada studi dan edukasi desain grafis.


HAK CIPTA DALAM DESAIN GRAFIS
Buku ini adalah kolaborasi antara penulis dan desainer grafis. Agus Sardjono, penulis yang guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia menyelsaikan program doktornya dengan disertasi tentang Hak Kekayaan Intelektual. Dalam buku ini nampak sekali bagaimana kemasan desain membuat soal hak cipta menjadi sangat menarik untuk dibaca dan diketahui oleh para desainer grafis .

Buku ini diterbitkan oleh Yellow Dot Publishing tahun 2008 bekerjasama dengan FDGI


PARKIR+ PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN
Buku ini diperoleh dengan kejadian yang tak disengaja pada Desember 2008 ketika mengantar seorang sahabat menemui seorang penasihat hukum untuk berkonsultasi soal kekecewaannya pada sebuah maskapai penerbangan. Sang penasihat hukum David M. L. Tobing, SH adalah segelintir orang yang mendedikasikan profesinya bagi perlindungan hukum konsumen dengan mencoba memberikan public education melalui gugatan konsumen yang dirugikan oleh kesewenangan sepihak dari jasa atau produk yang dipakainya.

Dalam bukunya adalah sekumpulan gugatan yang dimenangkannya di lembaga pengadilan atas beberapa kasus konsumen dengan pengelola parkir terbesar di Jakarta. Mulai dari kehilangan mobil dan motor di area parkir, kelebihan membayar serta kasus-kasus lain yang memberatkan konsumen. Dalam prinsipnya gugatan bukan untuk mempermalukan dan mengupayakan penggantian dengan nilai yang signifikan tetapi untuk membuat public education bahwa konsumen berhak untuk dilindungi dan produsen tidak berhak melakukan kesewenangan dengan membuat klausal sepihak dalam aturan bisnisnya dengan konsumen. Perawakannya yang tinggi besar dan bicaranya yang energik namun dengan pembawaan yang hangat sangat meyakinkan menjadi pembela konsumen yang tertindas.


ORANG KALAH
Adalah novel karya I Wayan Suardika yang pernah dimuat di media suratkabar sekitar tahun 90-an. Dan memperoleh Penghargaan “Widya Pataka” Tahun 2008. Orang kalah mengisahkan perjalanan lika liku laki laki dalam romantika hidup yang dibawakan dengan cair dengan gaya tutur Wayan Suardika. Buku ini diluncurkan di Neka Museum Desember 2008.

Suardika adalah salah seorang sahabat semenjak 1990 yang hingga kini secara konsisten dan intens tetap berkarya. Keteguhannya dalam berprinsip membuatnya mengambil jalan “sendiri” dengan menerbitkan majalah seni Suardi. Dalam novelnya ini saya diminta membantu mendesain cover yang ilustrasinya dikerjakan pelukis Made Budhiana.

Lebih dari 10 buku yang langsung diberikan pembuatnya menjadi koleksi yang membanggakan, selamat atas prestasi dan penerbitan bukunya dan terima kasih telah berbagi. Semua penerbitan ini menunjukan kesadaran menuangkan karya dan buah pikiran dalam buku bukan saja semakin tinggi tapi juga semakin comprehensive. Desain dan tata letak harus bagus, kertas dan cetak harus prima, kemasannya harus mampu menunjukan isinya. Demikian pesatnya perkembangan pemikiran dan juga penerbitan menjadikan buku saat ini lebih dari sekadar karya dan perjalanan seseorang.

Paradigma baru akan membuat buku ketika telah menjadi empu atau mencapai masa keemasan tak lagi menjadi popular, membuat buku sebanyak-banyaknya dan mencerminkan sebuah perjalanan seseorang lebih menarik untuk dilakukan. Buku itu sendiri adalah sebuah proses. Mulailah dengan yang pertama dan yang berikut akan segera menyusul… Apakah di tahun 2009 gejala baik ini akan semakin meningkat ? Sebuah harapan dimana banyak teman yang dengan kapasitas dan keahliannya masing-masing menerbitkan buah pikiran dan karyanya dalam buku. Dan jangan lupa “Judge the book if it given to you”.

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA

“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA

Ayip JJ

Tiba tiba malam ini saya membayangkan mentalitas macam apa yang dimiliki “vintage” friend saya Jeffrey Polnaja atawa kang Jeje atau JJ yang berkeliling dunia naik motor dan sendirian. Apakah kebanyakan orang akan berpikir “euweuh gawe” alias kagak ada kerjaan atau sebaliknya ?

Jangan keburu berpikiran macam macam, misi dia dengan aktifitas ini adalah „Ride for Peace“ misinya didefinisikan sebagai : “dedicated mission for Worldwide Peace. The road to recovery through the virtue of strengthening people to people ties between Indonesia and the world; touching the hearts and minds of the world societies.” Ia secara resmi menjadi duta Indonesia bagi perdamaian demikian Adhyaksa Dault ketika melepas anak muda asal Bandung ini pada 23 April 2006 di Jakarta. Saya memang merasa bersalah. Selepas start yang dilakukannya di Jakarta itu saya bilang saya akan menulisnya sebagai rasa simpati. Tapi entah kenapa hingga Oktober 2007 saya baru diingatkan lagi ketika serombongan teman dari Bandung datang bercerita tentang dia dan saat itu berusaha menelpon Kang Jeje lewat selularnya namun tidak aktif. Lalu saya pun tak ingat lagi selepas itu.

Kang Jeje saya kenal di klub VW sepuluh tahun lalu dan merupakan salah satu senior di klubnya Volkswagen Club Bandung. Jeje atau JJ yang menjadi nickname-nya adalah singkatan dari “Jurig Jalanan” atau “Phantom of the Road”, jiwa adventurnya memang sangat kental melekat pada dirinya. Jika kita bertemu muka dengannya segera kita akan tau karakter “ngoboy”-nya. Jauh sebelum menjalani “ride for Peace” ini ia telah mengalami banyak petualangan baik yang dilakukannya secara grup maupun sendiri dengan naik motor. Solo tripnya yang pertama dengan motor dilakukannya tahun 1978 dengan menggunakan motor CB 100 dari Bandung ke Bali return. Ia aktif dan berprestasi di olahraga berkuda dan bermotor mewakili Bandung dan Indonesia. Tahun 1996 terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Mantila Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.

Dengan menggunakan Motor BMW R1150GS `Adventure` bernomor polisi D 5010 JJ yang diberi nama Mahesa (bahasa Jawa yang artinya “kerbau”) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc dapat „digeber“ dengan kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram. Rute yang dilalui Kang Jeje terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Diprakirakan petualangan perdamaiannya ini akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.

Ayip JJ 1Ayip JJ 2Ayip JJ 3
Sekelumit kisahnya dapat kita lihat di situs resmi “Ride for Peace”. Dalam emailnya dia menulis: “Banyak yang menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” bahkan pernah nginap gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam yang menanggung adalah seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Kang Jeje yang ramah, gampang
bergaul, dan komunikatif. Walau hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, ia biasa menggunakan bahasa “tarzan”. Dan ternyata bisa dipahami. Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Kang Jeje adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Kang Jeje berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Kang Jeje lewat. Hebring Euy…

Makna misi perdamaian Kang Jeje makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Kang Jeje tak mengalami masalah.

Ayip JJ 4Ayip JJ 5Ayip JJ 6
Semua kisah dalam perjalanannya dituangkan dalam diary termasuk merasakan dingin menunggang Mahesa di wilayah pegunungan Himalaya dengan suhu minus 18 derajat celcius. Dalam perjalanannya yang edan ini Kang Jeje telah merekam lebih dari 30.000 gambar dan merusakkan 4 kamera. Kelak, katanya jika sudah usai perjalanan ini akan membagi pengalamannya yang lengkap dalam sebuah buku, agar banyak anak bangsa terinspirasi oleh perjalanannya.

Lalu dimanakah saat ini dia berada? Melihat update info di situs “Ride for Peace” sekarang ia berada di Rumania dan masih panjang perjalanannya untuk kembali ke negeri tercinta ini. Apa benar misinya ini efektif sebagai misi perdamaian dunia sekaligus duta pariwisata Indonesia? Kalo tidak percaya ketik namanya di search engine dan lihat satu persatu komentar dan berita tentangnya di Negara-negara yang dilaluinya. Yang ia lakukan menurut saya sesungguhnya adalah bagian dari program “Branding Indonesia” ke mancanegara yang dilakukan secara independent alias inisiatif sendiri. Bukan hanya untuk kebanggaan tapi juga untuk menunjukkan ketangguhan bangsa. Maka marilah kita doakan Kang Jeje semoga misinya tercapai, perjalanannya lancar dan kembali ke Indonesia dengan selamat. Dan semangatnya mampu memotivasi kita untuk berkarya menjadi duta Indonesia. Buat Kang Jeje, whatever people said, you are the one! Perahu dibuat bukan untuk ditambat di pelabuhan, Ia harus mengarungi samudera dan hanya singgah di pelabuhan….

Sabtu 15 Maret 2008
Diolah dari berbagai informasi

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

THE MAN BEHIND THE CREATORS

THE MAN BEHIND THE CREATORS

 Rudy AO

Disela perhelatan fashion show malam pertama di 07 Bali Fashion Week di Pantai Kuta, saya ngopi di sebuah cafe ditemani Rudy AO dan Nelly. Rudy AO yang namanya telah sering saya dengar dan ternyata beberapa kali pernah jumpa ini ternyata baru sekitar 2 minggu lalu declare bahwa kita pernah ketemuan sebelumnya tapi “meneketehe” kalo Rudy yang sudah jumpa ini adalah Rudy AO yang illustrator itu.

AO, begitu dia biasanya dipanggil adalah seorang Sunda yang juga sama dengan saya kini menjadi orang Bali. Ketika bertemu gaya dan bahasanya masih “sunda pisan”. Membuat saya teringat tanah priangan. Kita ngobrol soal seni dan pekerjaan (yang notabene seni juga). Rudy AO yang seorang arsitek ini mengkhusus pada illustrasi architectural, landscape dan interior juga termasuk di dalamnya. Pertamakali karya dan namanya diperkenalkan oleh Yoka Sara ketika memperlihatkan salahsatu pekerjaannya di Canggu yang digambarkan oleh illustrasi Rudy AO. Dan malam itu saya diperlihatkan portfolio selengkapnya atas assignment beberapa biro arsitek maupun lanscape dan interior terkemuka. Ketekunannya dengan garis dan bidang yang dibuat pencil, watercolour, cat minyak maupun digital media membuat karya-karya yang dibuatnya sangat khas dan “hidup”. Itu barangkali mengapa jasanya sangat diminati oleh para kreator dalam memvisualkan rancangannya.

Dari sana saya nyeletuk kenapa ngga “berkesenian” saja. Maksudnya mengapa talentanya ini tidak dikembangkan juga di sisi yang lain menjadi semacam ekspresi “visual art” saja. Dan ternyata pancingan ini “mengena. Saya diperlihatkan juga “personal project”nya beberapa karya di atas bidang kanvas dengan tema wayang. Ini menjadi future visionnya juga untuk berekspresi. Seperti halnya realisme dalam seni lukis yang mudah untuk dinikmati oleh orang kebanyakan, karya Rudy AO berpotensi meramaikan khazanah seni lukis realis Indonesia. Bahkan, dengan jaringan yang telah dimilikinya sangat mungkin menyeberang ke negara lain pula. Hmm.. apakah saya sangat pretensius atau hanya “kompor gas” belaka ?

Malam itu kita berhenti bicara gara-gara “diusir” karena jam kerja kafe sudah selesai. Well, menarik bertemu dengan seorang kreator yang ada dibalik beberapa kreator. I hope soon will see his studio in Sanur. Gambar diatas adalah petikan dari komik yang juga dibuatnya. Wanna see more of his works? www.aoillustration.com

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
Pen On Snack Box By Jango Pramartha

Pen On Snack Box By Jango Pramartha

During boring meeting after snack time, cartoonist Jango Pramartha compile some of...
article post
Dominasi Indonesia di Asia’s Best Young Entrepreneurs 2009

Dominasi Indonesia di Asia’s Best Young Entrepreneurs 2009

Majalah Business Week menggelar Asia’s Best Young Entrepreneurs 2009 untuk memilih...
article post
KADO KADO 2008 YANG MENCERAHKAN

KADO KADO 2008 YANG MENCERAHKAN

Akhir tahun selalu dihiasi kaleidoskop mengenai rangkaian kejadian apa yang menarik dalam...
article post
“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA

“BRANDING INDONESIA” ALA JEFFREY POLNAJA

Tiba tiba malam ini saya membayangkan mentalitas macam apa yang dimiliki “vintage”...
article post
THE MAN BEHIND THE CREATORS

THE MAN BEHIND THE CREATORS

 Disela perhelatan fashion show malam pertama di 07 Bali Fashion Week di Pantai Kuta,...
article post