rss search

next page next page close

Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati

Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati


Bagi penikmat kopi tentunya paham kopi yang terbaik kriterianya harus bagaimana. Di tengah maraknya gempuran instant coffee dan brand kopi asing masih banyak diantara kita yang mencari kopi sejati produksi dalam negeri. Salah satunya yang sangat legendaris adalah kopi AROMA di Bandung. Bukan karena masih mempertahankan keberadaannya hingga saat ini dengan setting “vintage”-nya di Jl.Banceuy no.51 Bandung berupa toko lawas dengan aksesori toples kopi, poster, timbangan dan showcase display yang lawas pula, namun konsistensinya menyajikan kopi dengan resep turun temurun dengan menjaga mutu dan rasa. (more…)

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

KEMULIAAN TANGAN DI ATAS

KEMULIAAN TANGAN DI ATAS


Sangat cerdas menggunakan semiotika tangan di atas sebagai perlambang memberi dan diimplementasikan dalam sebuah komunitas yang saling mengasihi sesama anggotanya dengan cara membimbing, memfasilitasi dan membantu untuk sukses dalam pekerjaan dan bisnisnya.

Awal berdirinya Komunitas Tangan Di Atas (TDA) sangat unik namun sederhana, berawal dari sebuah blog yang ditulis oleh salah satu pendiri TDA, yaitu Badroni Yuzirman (http://www.roniyuzirman.blogspot.com/). Isi blog tersebut menurut sebagian orang cenderung memprovokasi pembacanya untuk menjadi pengusaha atau TDA. Kemudian, dari para pembaca blog tersebut tercetus ide untuk membuat pertemuan dalam bentuk talkshow dengan menghadirkan Haji Ali, salah satu tokoh sukses yang sering diceritakan di blog tersebut. Tanggal 12 Januari 2006 adalah tanggal diadakannya talkshow tersebut yang dihadiri oleh sekitar 40 orang bertempat di Restoran Sederhana Rawamangun, Jakarta Timur. (more…)

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA”

MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA”

Saya bagi sebuah kisah di hari Minggu, kisah nyata yang bukan karangan. Minggu pagi 17 Agustus 2008 hari itu mendung menyelimuti Bali hingga ke arah Bangli, sedari Gianyar sampai memasuki wilayah Bangli bahkan hujan rintik. Suasana ini mengingkari rasa merdeka yang seharusnya diiringi langit terang. Kendaraan beriringan menanjak jalan menuju Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Apakah cuaca ini menjadi sebuah pertanda ? Kegalauan hati akan makna kata merdeka yang kian hambar ? Berkali saya melihat dan merasakan banyak orang gundah. Katanya, ketika setiap orang mendefinisikan kata Merdeka dengan sangat pribadi justru menghadirkan arogansi yang malah menjadi penindasan atas orang lain dan orang banyak. Kemerdekaan bagi sebagian orang membuat benteng bagi dirinya sendiri sebagai dalih bebas melakukan apa saja yang dimauinya. Dalam 63 tahun kemerdekaan Indonesia justru masih banyak praktek kemerdekaan yang semu. Meniadakan orang lain, secara individu dan kolektif menghalangi hak orang lain, memonopoli untuk kepentingan pribadi dan yang paling gawat adalah mengabaikan makna kebangsaan padahal negeri ini tengah memerlukan persatuan bangsanya untuk lebih berprestasi dan bermartabat. Ungkapan-ungkapan ini saya kumpulkan dari beberapa obrolan. Ada benarnya tapi kata saya sih, do the simple thing but do it seriously. Memerdekakan orang lain dari “keterbelakangannya” mendefinisikan kata merdeka

Dan Minggu 17 Agustus itu saya mencoba memerdekakan diri saya. Adalah sesuatu yang serius saya memutuskan turut ke RSJ Bangli bersama Bali Blogger Community untuk berbagi dengan mereka yang menghuni RSJ dengan memberi buku, peralatan mandi, makanan, sedikit uang dan hiburan. Mendung memang mengantar kepergian rombongan menuju Bangli, tapi semangat merdeka nampak sangat nyata hingga akhir acara.

Setidaknya ada dua alasan yang membuat mengapa harus merayakan hari kemerdekaan Indonesia di rumah sakit jiwa. Pertama, Orang sakit jiwa adalah orang yang “dimerdekakan” dari segala tanggung jawab dunia akhirat. Kedua, Orang waras yang katanya merdeka ternyata malah banyak yang sakit jiwa. Sebagai early warning system bagi saya, penting untuk study banding ke RSJ ya terutama buat kasih tahu diri saya sendiri untuk “jangan kebablasan”. Dan memang menjadi sebuah perenungan baru ketika mengalami berada disana, berdialog, dan bermain untuk tahu esensi baru kata merdeka. Gotcha!

Take a look

Take a look






Lihat juga referensi lain:
1. Hendra.ws
2. Sakti Soediro
3. Bale Bengong
4. Animo
5. Rumah Tulisan

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

KREATIFITAS, AKAN(kah) MENJADI MOMEN KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA (?)

KREATIFITAS, AKAN(kah) MENJADI MOMEN KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA (?)

“Tidak akan berubah nasib sebuah bangsa tanpa upaya perubahan dari bangsa itu. Petikan bebas dari sebuah kitab suci yang dapat memotivasi keyakinan kita”

Handicraft design from Asia Line BaliRecycled product become fashion creationAlunalun Indonesia

1. Handicraft kreasi Asia Line Bali
2. Kreasi Fashion dari materi daur ulang pada Bali Fashion Week
3. Alun-alun Indonesia, model pemasaran kreatifitas Indonesia

Kita Sudah Melakukannya, Kini Lebih Menggairahkan
Saya ada kabar baik. Seorang teman, penggiat bidang kreatif seperti saya sangat takjub dan terkejut ketika diingatkan bahwa dunia yang ditekuninya selama ini menjadi seorang arsitek berpotensi mendorong peningkatan perekonomian Indonesia secara nyata. Lebih jauh lagi hal ini menjadikannya terharu dan memiliki insight untuk bekerja dan berkreasi lebih baik lagi. Hal serupa saya share juga dengan teman-teman lain yang perupa, pesastra, musisi, penulis, penerbit, designer dan teman serta klien betapa melalui bidang kreatifitas secara nyata mampu mencetak nilai yang signifikan baik bagi dunia mikro yaitu dirinya dan lingkungannya maupun dunia makro yaitu bangsa dan negaranya. Dan bayangkan jika semakin banyak insan Indonesia berdinamika dalam bidang kreatif membuat mata rantai kreatif yang mampu menginspirasi dan menggerakan banyak insan Indonesia lainnya melalui budaya kreatif. Knowledge economy, adalah sesuatu yang telah dilakukan oleh teman-teman saya itu. Dengan pengetahuan dan kreatifitasnya mereka membuat nilai yang berdampak ekonomi. Namun untuk lebih spesifik lagi adalah creative economy yang dapat lebih memfokuskan lagi menjadi sebuah gerakan moral membangun ekonomi Indonesia melalui industri kreatif.

New architecture of BaliUWRF 2008Sura, contemporary dancer & coreographer

1. Arsitektur Kontemporer di Bali : The Legacy, Kulkul Green School, The Campuan
2. Ubud Writers & Readers Festival, model acara profesi kreatif
3. Nyoman Sura, penari dan koreografer kontemporer

Bayi Ajaib Bernama Creative Economy
Tapi, tunggu dulu. Sebetulnya apa creative economy ini ? Salah satu penggagasnya, John Howkins mengungkapkan dalam judul bukunya yang best seller “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas”. Respon dunia pun menggelora. Salah satunya Marubeni Research Institute, Tokyo atas pembacaan buku itu memprediksi “Shows how the creative economy will be the dominant economic form for the 21st century.” Lalu dalam sekejap istilah ini bagai bayi ajaib. Pemerintah Inggris secara serius memulai program creative economy-nya pada tahun 1995. Lalu diikuti serangkaian aktifitas diantaranya pemetaan industri kreatif yang dilakukan tahun 1998 dan 2003 oleh Department of Culture, Media and Sport di Inggris. dan segera setelah itu menjadi program penting karena industri kreatif menyumbang begitu besar bagi devisa Inggris. Bahkan lewat program International Young Creative Entrepreneur of the Year, Inggris mengkampanyekan kreatif ekonomi ke seluruh dunia dengan mencari talenta muda terbaik dalam bidang kreatif yang memiliki jiwa kewirausahaan. Indonesia adalah salah satu negara yang dipacu setiap tahunnya melalui British Council, dan yang terpilih akan dikirim ke Inggris untuk mengikuti kualifikasi tingkat dunia sekaligus berkiprah dalam acara 100% Design. Tujuannya membagi pengalaman terbaik Inggris di bidang ekonomi kreatif, pendidikan seni dan kewirausahaan. Negara-negara lain tentu saja bergegas membuat tunggangan baru lewat creative economy ini. Di Asia, Negara Jepang, Korea, India, Hong Kong, Singapura bahkan Thailand secara tegas pemerintahnya memprioritaskan program ini untuk digulirkan segera. Menggaris bawahi Thailand yang hampir mirip tipikalnya dengan Indonesia, coba simak statementnya: “In order to maintain competitiveness in the global market, Thailand can no longer expect to compete with other countries merely in terms of lower labour costs. Thailand needs to capitalize on its creativity in designing products and services to better meet market requirements.” Nah lo. Bagaimana dengan Indonesia ?

Creative Activities mapping by British Council

Program Pemetaan Aktifitas Kreatif oleh British Council

Untuk Kemajuan Bangsa, Tidak Ada Kata Terlambat
Di Indonesia sendiri gagasan creative economy digulirkan Indonesia Design Power melalui beberapa aktifitas dan perencanaan program yang akhirnya melalui Departemen Perindustrian bermitra dengan pemerintah. Tak heran jika SBY menyuarakannya pada Pekan Produk Budaya Nusantara 2007 dan istilahnya disebut Ekonomi Gelombang Ke-4. “Saya secara khusus mengajak untuk mengembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni dan teknologi,” Katanya. Karena secara rangkaian, Gelombang pertama adalah Ekonomi Agraris, Gelombang Kedua adalah Ekonomi Industri, Gelombang Ketiga adalah Ekonomi Informasi dan Komunikasi dan Gelombang Keempat sendiri adalah Ekonomi Kreatif.


Semenjak awal diperkenalkan dengan istilah creative economy pada tahun 2005 melalui Indonesia Design Power langsung menjadi sebuah bahan permenungan yang membawa saya kepada sebuah perjalanan mengeksplorasi untuk mengenal istilah itu secara mendalam dan mendapatkan esensinya. Istilah ”ekonomi” seringkali menjebak kita kepada dunia asing yang berat dan luput dari minat untuk dijadikan referensi menarik. Ekonomi itu urusan ekonom. Begitu kira-kira pandangan saya sebelumnya. Namun aneh bin ajaib setelah membaca dan mengamati, lalu memperbandingkannya dengan program ekonomi kreatif di negara lain dan melihat situasi dan kondisi Indonesia, aha!, inilah sebetulnya mutiara bangsa kita. Harapan itu ada disana…

Knowing Creative Economy EraMengapa Kreatif Ekonomi penting?Profil kontribusi PDB industri kreatif Indonesia

1. Skema Era Kreatif Ekonomi, Presentasi BUDPAR
2. Skema Mengapa Kreatif Ekonomi Penting, Presentasi Konvensi Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
3. Profil Kontribusi Industri Kreatif di Indonesia, idem

Setidaknya ada 3 hal mendasar yang menjadikan alasan dari kekuatan ekonomi kreatif bagi Indonesia ini:
1. Ekonomi kreatif sangat bergantung kepada pembangunan sumber daya insani. Membangun insan lebih murah dan mudah ketimbang membangun infrastruktur fisik seperti pada industri lainnya yang mahal dan berdampak lingkungan.
2. Kreatifitas bukan barang baru bagi masyarakat Indonesia dan telah dibuktikan dengan perkembangan yang terjadi sebelum kita mengenal istilah creative economy. Dari peninggalan nenek moyang kita dalam varian yang beragam berbentuk seni dan budaya seantero Nusantara sampai kreatifitas terkini dalam musik, pertunjukan, film, desain dan banyak lagi yang kini merubah peta minat terhadap profesi berbasis kreatifitas.
3. Potensi kreatif negara Indonesia yang ada sangat besar: jumlah penduduk Indonesia, keragaman seni dan budaya Indonesia serta akses dan jaringan internasional yang sudah semakin mudah akan menjadi asset penting

Namun Harus diwaspadai bagaimana follow up memadukan peran pemangku kepentingan agar terjalin jejaring yang efektif dan produktif mendayagunakan potensi ini menjadi nyata. Disebut-sebut sinergi birokrat, swasta dan cendikiawan adalah triple helix yang harus membuat rangkaian yang tepat menuju sukses itu. Tidak kalah pentingnya adalah pembangunan internal bagi para pelaku bidang dan profesi kreatif untuk terus melakukan pembangunan dan eksplorasi. Membangun mentalitas, kewirausahaan, manajemen, komunikasi, pemasaran hingga inovasi dalam berkarya. Sehingga semua jalan menuju kesempurnaan dijadikan prasyarat sebuah keberhasilan.

Pemetaan dan Pengelompokan Bidang Kreatif
Secara nyata, bidang kreatifitas yang menjadi perhatian adalah yang selama ini telah dilakukan oleh bangsa kita sebagai profesi. Pada data yang dibuat berdasarkan data statistik BPS, penyumbang terbesar devisa negara Indonesia selama ini adalah bidang fashion dan tekstil, kerajinan serta periklanan. Melalui gerakan ekonomi kreatif di Indonesia akan didorong bidang-bidang kreatif lain yang kategorinya adalah:
1. Arsitektur
2. Interior
3. Landscape
4. Grafis/Komunikasi Visual
5. Penerbit
6. Penulis/sastrawan/penyair
7. Musik
8. Seni pertunjukan (tari, drama, dll)
9. Kemasan
10. Brand/produk
11. Perhiasan/Jewelry
12. Visual Art (lukis, patung, dll)
13. Movie
14. Fashion & Aksesori
15. Handicraft
16. Web/Games/Interactive Media
17. Kuliner
Artinya, jika hal ini bekerja dengan baik maka akan terjadi peningkatan yang signifikan bagi perekonomian Indonesia disebabkan motor sektor kreatifnya yang di”tune up” dengan baik.

Bali Creative Power, sebuah event oleh Bali Creative Community
Komunitas Kreatif Dituntut Membentuk Budaya Kreatif
Baru saja sekitar 3 tahun berlalu, namun aktifitas kreatif kian marak dibuat dan diadakan. Selain kegiatan lama yang dibuat dengan spirit baru, banyak juga kegiatan baru yang sangat strategis. Sebut saja Trade Expo Indonesia, Pekan Produk Budaya Indonesia kemudian conference dan seminar baik yang generik maupun spesifik. Kinerja antar departemen dan kementrian juga dirapatkan demi merespon creative economy. Jakarta memang masih mendominasi, tapi kota lain memiliki ”local indigenous”nya sendiri. Bandung bangkit lewat distro dan musik, Jogjakarta dan Bali lewat handicraft dan fashion. Lalu atas kesadaran dan inisiatif terbentuk pula komunitas-komunitas kreatif. Di Bandung ada Bandung Creative City Forum, di Bali ada Bali Creative Community, kehadiran Indonesia Young Designers, 1001 Inspiration Design Festival dan banyak lagi aktifitas di Jakarta, Jogjakarta dan kota lain yang sedang bergiat membentuk komunitas kreatif yang bertujuan membuat klaster kreatif dan membentuk budaya kreatif. Pertanyaannya, apakah ini semua mengindikasikan creative economy itu si mutiara harapan atau hanya euforia sesaat? Buat menjawabnya yang paling nyata adalah dengan melakukan terus menerus sosialisasi, promosi dan mengamankannya dengan membuat blue print creative economy Indonesia.

Mempertanyakan Kembali Kesejatian Creative Economy
Apakah sesuatu yang kebetulan jika momen ini bertepatan dengan saat dimana Bangsa Indonesia tengah memasuki 100 tahun Kebangkitan Nasionalnya ? Akankah creative economy menjadi trigger terbentuknya martabat dan citra bangsa yang lebih baik ? Dapatkah creative economy menjadi praktek berjuta bangsa Indonesia untuk lebih baik ?
(Diberi pertanyaan semacam ini teman saya protes. Katanya, Mas nanya melulu jadi kapan mulai kerjanya ?) Sebuah pertanyaan yang baik untuk menutup tulisan ini. Membagi semua apa yang tengah terjadi dengan gerakan ekonomi kreatif di Indonesia dalam satu waktu memang tidak mungkin. Semoga gerakan ekonomi kreatif adalah anugerah sekaligus penggugah dari tidur kita yang tidak nyaman. Selamat mengeksplorasi dunia creative economy.

Diolah dari berbagai sumber:
1. Presentasi Indonesia Design Power
2. Presentasi Kreatif Industri Indonesia, BUDPAR
3. Hasil Konvensi Pengembangan Industri Kreatif Indonesia
4. Situs British Council Indonesia
5. Presentasi Bali Creative Community

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

Surprise! Organic Food From The Villages of Bali

Surprise! Organic Food From The Villages of Bali

Minggu, 24 Mei 2008 sangat beruntung saya mendapat kesempatan menyaksikan kesibukan masyarakat desa Sibetan-Karangasem, Tenganan-Karangasem, Plaga-Badung dan Nusa Ceningan mengolah makanan dan minuman khas desa mereka di Loloan Restaurant Seminyak. Para perwakilan masyarakat 4 desa tersebut tengah menguji dan membuat presentasi resep masakan khas desa masing-masing dengan dibantu chef dari Loloan restaurant untuk nantinya disajikan pada acara peringatan 6 tahun perjalanan program Jaringan Ekowisata Desa pada tanggal 4 Juni 2008 mendatang. Keempat desa tersebut adalah anggota Jaringan Ekowisata Desa Bali bersama Yayasan Wisnu sebagai fasilitatornya. (more…)

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page next page close

DICARI: “ANAK ANAK NAKAL” INDONESIA

DICARI: “ANAK ANAK NAKAL” INDONESIA

Hasil jalan jalan ke blog tetangga nyangkut juga di selasarnya pakde Totot. Ditengah kesibukannya di kantornya Satu Citra, sempat sempatnya menjadi juru kampanye untuk nge-blog. Bukan Cuma itu, blognya kini semakin ciamik dibenahi dan dipercantik (apa diperganteng) jadi makin nyaman dibaca. Dan bukan Cuma itu sodara-sodara, postingannya itu yang bikin geleng geleng kepala, ringkas, bernas tapi beringas (Singa kalee).

Tengok postingannya terakhir tentang tulisannya yang dimuat di De Filmkrant, majalah film Belanda berusia 26 tahun dengan oplah 35.000 eksemplar per bulan, membuat suplemen khusus “What’s going on in…?! Reports from Rotterdam and in the rest of the world.”

Suplemen yang diterbitkan dalam De Filmkrant edisi 289 ini memuat tulisan 11 kritikus film dari 11 negara (Belanda, Argentina, Afrika Utara, Afrika Selatan, Prancis, Austria, Russia, Indonesia, Jepang, China, dan Filipina) mengenai situasi mutakhir sinema di negara masing-masing. Dari Indonesia yang didaulat ya Pakde Totot (Yang dia bilang kebetulan dipilih…) dan tulisannya “Anak-anak Nakal” Sinema Indonesia. Isinya menggambarkan bagaimana sinema di Indonesia turut dibangun diantaranya oleh “anak anak nakal” itu. Dan ternyata keberadaan “anak anak nakal” ini penting bukan hanya di dunia sinema. Tapi di bidang kreatifitas apapun atau di bidang apapun. Apa “Anak anak nakal” itu ? Kata Pakde Totot: “Mereka yang berkarya diluar mainstream”. Saya tambahkan, yang di dalam karyanya termuat unsur kebaruan.

Jika Pakde hanya menulis “Anak anak Nakal” Sinema Indonesia itu semata karena ia mengakrabi sinema yang menjadi minatnya. (Baca juga postingannya yang lain di blognya atau di Kompas). Ini kajian menarik buat kita karena ada minat dan ada konsistensi. Dan bukan Cuma itu, dia sendiri sudah menunjukkan menjadi “Anak Nakal” di film review atawa kritik film. Ia akan selalu mencari inspirasi karena akan ia bagi lagi menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Suatu saat dalam chat dengannya ia menulis ” Tunggu gue 3 tahun lagi di Bali…”. Mau tau apa yang direncanakannya kelak 3 tahun lagi dari sekarang ? Ya tunggu aja kabar selanjutnya…

Kesimpulannya, Indonesia memang perlu lebih banyak “Anak-anak Nakal” yang mau menjadi lokomotif perubahan yang membawa pada kebesaran dan rasa bangga bangsanya. Terima kasih Pakde telah menunjukkan sebagian “Anak anak Nakal” Indonesia…

Twitter del.icio.us Digg Facebook linked-in Yahoo Buzz StumbleUpon
next page
Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati

Aroma Koffie Fabriek: Menjual Kopi Dengan Empati

Bagi penikmat kopi tentunya paham kopi yang terbaik kriterianya harus bagaimana. Di...
article post
KEMULIAAN TANGAN DI ATAS

KEMULIAAN TANGAN DI ATAS

Sangat cerdas menggunakan semiotika tangan di atas sebagai perlambang memberi dan...
article post
MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA”

MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA”

Saya bagi sebuah kisah di hari Minggu, kisah nyata yang bukan karangan. Minggu pagi 17...
article post
KREATIFITAS, AKAN(kah) MENJADI MOMEN KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA (?)

KREATIFITAS, AKAN(kah) MENJADI MOMEN KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA (?)

“Tidak akan berubah nasib sebuah bangsa tanpa upaya perubahan dari bangsa itu....
article post
Surprise! Organic Food From The Villages of Bali

Surprise! Organic Food From The Villages of Bali

Minggu, 24 Mei 2008 sangat beruntung saya mendapat kesempatan menyaksikan kesibukan...
article post
DICARI: “ANAK ANAK NAKAL” INDONESIA

DICARI: “ANAK ANAK NAKAL” INDONESIA

Hasil jalan jalan ke blog tetangga nyangkut juga di selasarnya pakde Totot. Ditengah...
article post