SURPRISE! ORGANIC FOOD FROM THE VILLAGES OF BALI









Minggu, 24 Mei 2008 sangat beruntung saya mendapat kesempatan menyaksikan kesibukan masyarakat desa Sibetan-Karangasem, Tenganan-Karangasem, Plaga-Badung dan Nusa Ceningan mengolah makanan dan minuman khas desa mereka di Loloan Restaurant Seminyak. Para perwakilan masyarakat 4 desa tersebut tengah menguji dan membuat presentasi resep masakan khas desa masing-masing dengan dibantu chef dari Loloan restaurant untuk nantinya disajikan pada acara peringatan 6 tahun perjalanan program Jaringan Ekowisata Desa pada tanggal 4 Juni 2008 mendatang. Keempat desa tersebut adalah anggota Jaringan Ekowisata Desa Bali bersama Yayasan Wisnu sebagai fasilitatornya.
Jaringan Ekowisata Desa (JED) adalah program yang dirancang untuk kemandirian desa bagi pelaksanaan ekowisata yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan di Bali sebagai destinasi pariwisata Internasional. Menyajikan makanan dan minuman khas bagi para tetamu di acara 6 tahun program JED nanti merupakan bagian eksplorasi program akan kekayaan local indigenous.
Masyarakat desa anggota JED sebelumnya telah mendata makanan dan minuman khas yang masing-masing mereka miliki lalu menuliskan bahan-bahan serta resepnya dan ternyata ketika didata dari 4 desa tersebut terkumpul 300-an resep makanan dan minuman aseli yang secara turun temurun dijadikan menu sehari-hari atau pada saat acara khusus, namun tidak jarang beberapa diantaranya sudah jarang dimasak lagi. Yang menjadikan kekaguman dan surprise adalah semua makanan tersebut kategorinya organic food, sesuatu yang saat ini oleh Barat dijadikan kampanye makanan yang dikategorikan “sehat” ternyata bagi penduduk desa bukan lagi barang baru. Bahan makanan yang mereka pakai adalah apa yang ada di sekitar mereka bahkan sesuai dengan kekhasan desa mereka. Mereka mengolah bahan makanan dan minuman yang didapat dari kebun atau hutan, dari pantai atau laut di areal yang menjadi tempat tinggalnya.
Antusias perwakilan masyarakat desa yang tengah melakukan uji coba resep-resepnya ini berubah makin menjadi optimisme dan semangat demi melihat sentuhan akhir pada presentasi makanan yang dikemas demikian indah dan mengundang selera. Mereka takjub melihat makanan sehari-harinya menjadi sangat “cantik”. Ternyata kolaborasi chef restaurant dan “chef kampung” ini membuat surprise bagi keduanya.
Ketika sesi uji rasa dilakukan, semua berkesempatan mencicipi masakan yang disajikan dan ditengah nikmatnya waktu bersantap, kelakar masyarakat terlontar menggunjingkan kedahsyatan “kolaborasi” yang baru saja mereka lakukan serta rasanya yang semakin “mak nyoss”. Bahkan demi melihat persiapan, proses dapur mengolah bahan dan memasak serta presentasi makanan yang diujicoba resepnya, sudah terasa prasyarat kebersihan dan kesehatan makanan bagi makanan untuk dikonsumsi di sebuah “restaurant” telah terpenuhi.
Sore itu, di jalan pulang seusai food test yang saya alami saya berkhayal tentang desa-desa di Bali yang menggali kembali resep-resep khas desanya masing-masing lalu dipresentasikan dalam sebuah acara, program dan publikasi memadai dan menarik bagi khalayak. Biar semua tahu kekayaan kuliner Bali dan kedahsyatan koleksi organic food Bali lalu menjadi sebuah keyakinan baru peluang kuliner Bali menjadi “majikan di rumahnya sendiri”. Untuk membuktikan cerita ini, berdoalah Anda diundang di acara 6 tahun JED 4 Juni 2008 atau bagi press, diundang pada tanggal 2 Juni 2008 untuk turut “mencicipi” kehebatannya. This is “Ajeg”, isn’t it?
Filed under Moment, Sharing, bali, events, inspiration, motivation, news | Comments (3)NEW TOURISM BRAND INVOKES BALI OF PEACE
(The Jakarta Post) Following six months of intensive research, which included direct interviews with hundreds of Balinese residents and foreign visitors, the local government has finally unveiled its new tourism brand for the resort island.
The new brand is expected to unite the tourism industry under a single flag and battle cry in an effort to elevate the vital economic sector, which had been paralyzed by two terrorist attacks, environmental degradation and the locals’ increasing resentment toward tourism development.
“We hope this brand will give us new energy in our struggle to recover the industry, which for decades has been the backbone of the island’s economy,†Bali Tourism Agency head Nurdjaya said.
The new brand — comprising a logo, a tagline and a series of strategic recommendations — centers around the vision of making Bali known as “The World’s Place of Harmonious Peaceâ€.
Teguh Mahasari, the engine behind the so-called Bali Reborn team responsible for preparing the new tourism brand, said the vision was the key, recurring message conveyed by a large majority of the research participants.
“It genuinely reflects the true aspiration of the Balinese people as well as the visitors’. Harmony, balance, peace and spirituality are several major themes that kept appearing in our interviews with people from a wide spectrum of society,†she said.
In the course of their research, the Bali Reborn team interviewed 900 Balinese individuals, from Hindu high priests to academic scholars, and from farmers to housewives in every regency of the island.
The results showed that over 50 percent believed “paradise†or “heaven†was the image that most correctly described Bali. This was followed by “balance†at 26.5 percent of respondents then by “harmony†at 21.9 percent. Curiously, “vacation†was only selected as the most suitable image by 16.5 percent of respondents.
Moreover, they also listed temple, culture, traditional customs and arts as the island’s most precious heritage. A staggering 73.5 percent majority viewed the temple as the perfect icon to represent Bali.
Meanwhile, 37.3 percent of 327 foreign visitors to Bali recalled “Island of the Gods†as the island’s most popular tagline. Only a minuscule 5.8 percent considered it to be Bali is My Lifeâ€, the most recent tagline, as popular.
“The team analyzed and interpreted the findings and then came up with this new brand,†Teguh said.
The brand concept was based on the ancient Balinese Hindu principle of Tri Hita Karana, the harmonious and balanced relationship between three primary elements: mankind, nature and God.
“That’s the philosophy behind our triangular-shaped logo. The triangle perfectly captures the stable relationship between the three elements,†Teguh said.
The spiritual nature of the brand is further reflected in the colors of the logo — red, black and white, the colors respectively associated with the Balinese Hindu trinity of Brahma, Wisnu (Vishnu) and Siwa (Shiva).
The final touch was the tagline “Shanti, Shanti, Shantiâ€, obviously taken from the daily Balinese Hindu prayer of Tri Sandhya. Literally meaning peace, shanti and its repetitive chant is a sacred invocation for a reign of peace in the three worlds — the under, middle and upper.
“Frankly, we want this brand to inspire the Balinese as much as the foreign visitors. With the increasing internal conflicts among Balinese, the people of this island needs peace as much as any other in this world,†Teguh stressed.
Filed under news | Comment (0)





