I SEE INDONESIA DI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA

350 tahun (konon) Indonesia dijajah Belanda, dan 100 tahun usia Kebangkitan Nasional Indonesia. Apakah secara matematis kita perlu 150 tahun lagi untuk “murni” merdeka dan mengimpaskannya? Bicara Indonesia sebetulnya bagi saya “menakutkan” apalagi bicara nasionalisme atau patriotisme. Seakan kata itu menjadi barang langka bahkan cenderung elitis dan sakral. Atau malah kamuflase karena banyak yang memanipulasi artinya? Wallahualam.
Saya hanya mau menawarkan sesuatu yang soft & light untuk menyudahi “kengerian” membicarakan Indonesia, patriotisme dan nasionalisme. Ada 50-an visual yang saya buat semenjak 2002 mengenai Indonesia yang dibukukan dan diluncurkan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia 20 Mei 2008. Dan buat melaunchingnya, situs Desain Grafis Indonesia adalah virtual venue yang menjadi tuan rumahnya. Selamat menikmati…dan menjadi Merdeka
Filed under Portfolio | Comment (0)SOME OF I SEE INDONESIA
See more at I See Indonesia
Filed under Portfolio | Comment (0)MEREKA EKSPRESI BUMI KITA DI HARI ISTIMEWANYA
Khaka (5 yo), my lovely boy saya ceritakan bahwa hari ini hari Bumi. Dalam alam pikirannya belum terbayang mengapa ada hari bumi dan saya pun tak terlalu hirau akan itu. Saya hanya cerita kalau bumi tempat kita berada ini pada hari ini merayakan ulang tahun supaya kita semua yang berada disana sayang kepadanya. Kenapa? Karena bumi perlu ditolong sebab banyak orang orang yang berlaku seenaknya dan barangkali kita diantaranya juga ikut buang sampah sembarangan, menebang pohon, mengotori udara dengan mobil dan motor dan banyak burung jadi hilang tempat hidupnya.
Matanya yang besar menerawang, tatapannya nanar mencoba membayangkan apa yang saya ceritakan. Lalu dia seperti hendak mengatakan sesuatu, mulutnya sudah menyimpan kata namun tertahan… Sejenak dia berdiam. Saya juga. “Kalau gitu kasian bumi ya Yah…? Dia sedih ya…?” katanya. Saya hanya mengangguk.
Lalu ditengah keheningan kita saya pancing dia dengan sebuah ajakan: “Kha, kita bisa bantu bumi supaya ngga sedih?” dia melongo, “Gimana caranya Yah…?” “Kita gambar dia lagi senyum…” Kataku.
Lalu dia mengambil kertasnya, mencoretkan beberapa garis membentuk lingkaran tak sempurna, di beberapa kertas beberapa kali, dengan beberapa ekspresi. Salah satunya saya pilih. Bukan yang tersenyum. Tapi yang sedih. Anak-anak memang kuat menyimpan ingatan di benaknya. Barangkali saya telah keliru menceritakan kesedihan bumi padanya. Sehingga tertanam dalam ingatannya…
Saya koleksi gambarnya. Saya usap usap kepalanya. Carilah sendiri kejelasannya nak… Dari mereka yang punya cinta. Gumamku penuh keraguan.














