DUKA YANG MENDALAM ATAS KEPERGIAN BOBBY

Doa dan perhatian semua pihak baik musisi, penikmat musik Bali maupun keluarga memang tak henti dipanjatkan bagi kesehatan Bobby semenjak kejadian kecelakaan yang menimpanya. Namun Yang Maha Kuasa telah berkehendak untuk memberikan yang terbaik bagi Bobby, Pada sore di hari Minggu 14 Desember ini Bobby menghembuskan nafasnya meninggalkan kita semua. Mari sekali lagi panjatkan doa untuk Bobby agar dimaafkan segala kesalahannya dan diterima amal baiknya oleh yang Maha Kuasa. Dan bagi keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan. Amin
Bali kehilangan salah satu musisi penyanyi terbaiknya. Semoga muncul Bobby-Bobby lain yang menggantikan dan meneruskan semangatnya.
Berita sebelumnya: http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/
BALI CREATIVE POWER QUICK PREVIEW
Komunitas Kreatif Bali baru saja mensosialisasikan keberadaannya melalui sebuah acara Bali Creative Power 2008 yang memiliki agenda acara Konferensi, Expo, Evening with Designer dengan menampilkan Stefan Sagmeister, Creative Presentation dan Creative Entertainment. Ada pula Creative Workshop yang diadakan tanggal 30 November 2008 yang menampilkan Video Jockey sebagai media grafis alternatif. Dan pada hari Sabtu jam 14.00 wita bertempat di Kampus B New Media akan diselenggarakan workshop mengenai ekspresi kreatif dengan blog yang terbuka untuk umum serta pada 22 Desember 2008 akan diadakan Pameran Poster Internasional “One Globe One Flag”. Berita event Bali Creative Power yang dilangsungkan pada hari Sabtu 29 November 2008 di Sanur dapat dilihat pada Event Quick Preview di situs berita Komunitas Kreatif Bali

KESETRUM JOHN HOWKINS DI NUSA DUA
Yang ini kisah “kesetrum” yang asik punya. Pokoknya kaya mimpi aja berjumpa John Howkins di Bali. Bukan soal mendewakan dia tapi soal excited aja. Memangnya siapa sih John Howkins itu ? Nah, untuk menjawabnya kita tengok dulu istilah “Creative Economy” yang 3 tahun belakangan ini demikian ngetopnya di Indonesia dan di belahan dunia lainnya. Istilah “Creative Economy” inilah yang pertamakali diperkenalkan oleh John Howkins. John Howkins adalah tokoh terkemuka global dalam pengembangan ekonomi kreatif, bukunya ‘The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” diterbitkan oleh Penguin tahun 2001 dan menjadi buku “best seller”. Creative Economy adalah analisis komprehensif mengenai ekonomi baru berdasarkan creative people, creative industry dan creative city. Jadi, John Howkins itu boleh juga kita sebut sebagai Bapak “Creative Economy”


Melihat presentasinya “Creative Ecology” langsung alias live demikian menyenangkan. Presentasinya dibawakan dengan sangat clear dengan intonasi yang jelas dan terkesan “nyantai”, maklum barangkali “jam terbang”nya sudah kebanyakan. Presentasinya ini ternyata adalah bagian dari isi bukunya teranyar “Creative Ecologies: Where Thinking is a Proper Job” yang akan diterbitkan di musim spring 2009.
John Howkins datang ke Bali untuk menjadi pembicara pada 2nd WIPO (The World Intellectual Property Organization ) on Intelectual Property and the Creative Industries di Nusa Dua 2-3 Desember 2008. Lucky me, bersama Dethu, Marlowe, Sarah dan Sugi bisa turut mendengarkan dan melihat langsung presentasi John Howkins disana. Acara ini bukan hanya menghadirkan John Howkins namun juga para pelaku di industri kreatif dunia untuk sharing soal bisnis industri kreatif dan intellectual property. Dari Bali, Obin pemilik Bin House juga mempresentasikan kisahnya menggeluti kain dan sutera batik hingga kini dibantu sekitar 2500-an pengerajin dan pekerja. Obin-yang mengaku hanya seorang tukang kain, bukan desainer ini- membawakn presentasinya dengan bahasa Inggris yang sangat memukau peserta konferensi.

Melihat langsung John Howkins mempresentasikan buah pikirannya dan bisa menyapa serta berfoto bersama ada perasaan “afdol”, seperti mendapat “restu” untuk berkiprah merealisasikan apa yang diperjuangkan dalam “Creative Economy” termasuk turut mengembangkan komunitas kreatif untuk bersama-sama “make money from ideas”.
KEMULIAAN TANGAN DI ATAS

Sangat cerdas menggunakan semiotika tangan di atas sebagai perlambang memberi dan diimplementasikan dalam sebuah komunitas yang saling mengasihi sesama anggotanya dengan cara membimbing, memfasilitasi dan membantu untuk sukses dalam pekerjaan dan bisnisnya.
Awal berdirinya Komunitas Tangan Di Atas (TDA) sangat unik namun sederhana, berawal dari sebuah blog yang ditulis oleh salah satu pendiri TDA, yaitu Badroni Yuzirman (http://www.roniyuzirman.blogspot.com/). Isi blog tersebut menurut sebagian orang cenderung memprovokasi pembacanya untuk menjadi pengusaha atau TDA. Kemudian, dari para pembaca blog tersebut tercetus ide untuk membuat pertemuan dalam bentuk talkshow dengan menghadirkan Haji Ali, salah satu tokoh sukses yang sering diceritakan di blog tersebut. Tanggal 12 Januari 2006 adalah tanggal diadakannya talkshow tersebut yang dihadiri oleh sekitar 40 orang bertempat di Restoran Sederhana Rawamangun, Jakarta Timur. (more…)
SAYA DIINGATKAN LAGI: TAK ADA YANG KEKAL
Hari ini terasa lemas ketika Riki Damparan memberitahu bahwa teman baik kita Yudhis yang tengah menempuh studi filsafat Hindu di Delhi University telah berpulang kepada yang Kuasa. Yudhis adalah sosok langka anak muda dengan minatnya yang besar terhadap filsafat. Walau saya tidak begitu saja percaya kabar dari Riki, tapi di blog persatuan Pelajar Indonesia di India beritanya menempati urutan terbaru seperti menegaskan. Petikannya :
BERITA DUKA
Posted on September 12, 2008 by ppiindiaInnalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Telah berpulang ke Rahmatullah teman kita Yudhis Muhammad Burhanuddin pada Rabu,10 September 2008 di kediamannya di Delhi. Yudhis merupakan Mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Delhi University, Jurusan MA Philosophy.
Saat ini Almarhum telah selesai dimandikan dan dishalatkan, dan akan bersiap untuk diantar kepada keluarganya di Indonesia oleh Bapak Satriyo Pringgodany (KBRI).
Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya bagi teman kita Yudhis, dan menerima segala amalan baik dari Almarhum. Semoga juga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan untuk menerima segalanya. Amin Yaa Robbal ‘Alamin
Yudhis kerap membantu saya dalam menterjemah juga menjadi volunteer di komunitas kreatif bali ketika dalam tahap gagasan banyak melakukan diskusi di tahun lalu. Bulan lalu ia masih berkirim email dan meminta tanggapan atas tulisan yang tengah didiskusikannya. Sangat menyesal saya tak dapat menanggapinya.
Rasa sesal, berganti sebuah renungan mendalam akan “perhatian yang tak boleh ditunda” menjadi momen berharga di bulan Ramadhan ini. Kita boleh menunda sesuatu tetapi belum tentu ada waktu untuk melaksanakannya. Selamat jalan sahabat, semoga amal baikmu menjadi bekalmu yang kekal. Kami semua berduka
satu tulisan terakhirnya seperti pertanda bagi perjalanan hidupnya:
Untuk semua…
Sabda Rajawali:
adalah luka batas kepal amarah
pada kata bisu tiada bergeming
semayamku di singgasana abadi
aku setebuhi wajah tuhan di pintu mati.yudhis mb




