MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA”
Saya bagi sebuah kisah di hari Minggu, kisah nyata yang bukan karangan. Minggu pagi 17 Agustus 2008 hari itu mendung menyelimuti Bali hingga ke arah Bangli, sedari Gianyar sampai memasuki wilayah Bangli bahkan hujan rintik. Suasana ini mengingkari rasa merdeka yang seharusnya diiringi langit terang. Kendaraan beriringan menanjak jalan menuju Rumah Sakit Jiwa Bangli.
Apakah cuaca ini menjadi sebuah pertanda ? Kegalauan hati akan makna kata merdeka yang kian hambar ? Berkali saya melihat dan merasakan banyak orang gundah. Katanya, ketika setiap orang mendefinisikan kata Merdeka dengan sangat pribadi justru menghadirkan arogansi yang malah menjadi penindasan atas orang lain dan orang banyak. Kemerdekaan bagi sebagian orang membuat benteng bagi dirinya sendiri sebagai dalih bebas melakukan apa saja yang dimauinya. Dalam 63 tahun kemerdekaan Indonesia justru masih banyak praktek kemerdekaan yang semu. Meniadakan orang lain, secara individu dan kolektif menghalangi hak orang lain, memonopoli untuk kepentingan pribadi dan yang paling gawat adalah mengabaikan makna kebangsaan padahal negeri ini tengah memerlukan persatuan bangsanya untuk lebih berprestasi dan bermartabat. Ungkapan-ungkapan ini saya kumpulkan dari beberapa obrolan. Ada benarnya tapi kata saya sih, do the simple thing but do it seriously. Memerdekakan orang lain dari “keterbelakangannya” mendefinisikan kata merdeka
Dan Minggu 17 Agustus itu saya mencoba memerdekakan diri saya. Adalah sesuatu yang serius saya memutuskan turut ke RSJ Bangli bersama Bali Blogger Community untuk berbagi dengan mereka yang menghuni RSJ dengan memberi buku, peralatan mandi, makanan, sedikit uang dan hiburan. Mendung memang mengantar kepergian rombongan menuju Bangli, tapi semangat merdeka nampak sangat nyata hingga akhir acara.
Setidaknya ada dua alasan yang membuat mengapa harus merayakan hari kemerdekaan Indonesia di rumah sakit jiwa. Pertama, Orang sakit jiwa adalah orang yang “dimerdekakan” dari segala tanggung jawab dunia akhirat. Kedua, Orang waras yang katanya merdeka ternyata malah banyak yang sakit jiwa. Sebagai early warning system bagi saya, penting untuk study banding ke RSJ ya terutama buat kasih tahu diri saya sendiri untuk “jangan kebablasan”. Dan memang menjadi sebuah perenungan baru ketika mengalami berada disana, berdialog, dan bermain untuk tahu esensi baru kata merdeka. Gotcha!















Lihat juga referensi lain:
1. Hendra.ws
2. Sakti Soediro
3. Bale Bengong
4. Animo
5. Rumah Tulisan
PROYEK KHUSUS DESAIN SERAGAM KORUPTOR
DATA PROYEK
- PROYEK : DESAIN SERAGAM KORUPTOR
- DESAINER: AYIP
- KLIEN : KPK
- JENIS SERAGAM : 1. SERAGAM SIDANG, 2. SERAGAM CASUAL, 3. SERAGAM OLAHRAGA
- MANDATORY : seragam tersebut harus mengakomodasi aspek kelayakan, kesopanan, dan efek jera.
- BRIEF :
Jakarta – Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) tidak main-main dengan usulannya soal seragam buat koruptor. Agar rencana tersebut segera terealisasi, KPK membuka peluang lebar bagi masyarakat untuk berperan serta membuat desain seragam yang diharapkan bisa menjerakan para koruptor tersebut.
“Itu bisa saja (peran masyarakat), tentunya kita tampung. Kita ambil kriteria dari aspek kesopanan saat sidang, dan aspek aspek lain yang bisa menimbulkan rasa jera,” ujar Wakil Ketua KPK bidang Pencegahan M Jasin di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (11/8/2008. Detik.com)
KONSEP DESAIN
Koruptor itu hina, tapi koruptor juga manusia
Untuk mengakomodasi konsep ini dituangkan dalam gaya fashion dan grafis yang trendy berupa motif atau pattern. Disinilah konsep memanusiakan koruptor dengan sentuhan desain, grafis dan gaya fashion dipersembahkan. Sedang tikus yang menjadi simbol pencuri dan perusak (dalam hal ini penekanan bukan pada binatangnya tetapi pada kelakuan binatangnya) menjadi motif utama sebagai simbolik sifat buruk yang diharapkan akan menyebabkan efek jera bagi pemakainya.
Tulisan KAPOK dengan highlight pada tulisan K-P-K berdimensi statement jera koruptor sekaligus KPK sebagai lembaga yang berwenang memberantas korupsi.
Pakaian dibuat dalam 3 model dan tipe dimana pada setiap jenisnya terdapat nama atau inisial koruptor di dada bagian atas sebelah kiri atau kanan. Konsep desain seragam ini diupayakan menjadi collector item atau memorabilia setelah masa pakai oleh sang koruptor usai. Hal ini sangat berguna sebagai awareness, pembelajaran dan efek jera bagi koruptor dan seluruh anak bangsa. (Dicontohkan misalnya orangtua yang mengajak anaknya ke museum dimana seragam koruptor ini di display sebagai memorabilia sang Ayah dapat mengatakan “Tuh nak liat baju belang-belang yang ada gambar tikus itu, itu baju buat orang jahat namanya koruptor yang merugikan orang banyak. Kalo kita juga jahat dan korupsi, kita akan disuruh memakai baju itu, hiii Ayah sih malu dan ngeri”)
1. SERAGAM SIDANG
Satu set baju lengan panjang dengan celana panjang bahan katun. Jika ditelisik idenya mengambil gagasan baju penjara yang motifnya sudah sohor dan biasa dipakai juga oleh gerombolan si berat yaitu baju bermotif garis hitam putih. Sangat sopan ketika dipakai dalam ruang sidang dan kontras dengan warna lain yang berada di ruang sidang sehingga tetap menjadi pusat perhatian.
2. SERAGAM CASUAL
Dipergunakan ketika menerima kunjungan keluarga, sahabat atau sesama koruptor yang belum tertangkap. Berupa Polo Shirt yang berisi motif tikus yang ukurannya lebih besar dan saling berhimpitan. Ada pilihan warna putih dan hitam. Jika masa penahanan selesai sang koruptor masih bisa menggunakannya untuk main golf.
3. SERAGAM OLAHRAGA
Dipergunakan ketika melakukan aktifitas dalam LP utamanya berolahraga. Motifnya hampir sama dengan baju sidang dan tulisan KAPOK lebih besar di dada.
KETERANGAN PRODUKSI:
- Bahan menggunakan katun medium quality dengan print warna hitam saja dengan demikian menghemat biaya.
- Tulisan nama atau inisial koruptor menggunakan bordir yang kontras dengan warna dasarnya.
- Proses produksi diberikan kepada Pengusaha kaos yang pengusaha kecil dengan syarat kualitas harus bagus. Agar tidak melalui tender produksi dapat dipecah diberikan ke beberapa pengusaha kaos secara merata sehingga ada dimensi pemerataan ekonomi bagi UKM.
DESAIN AKSESORI (ADDITIONAL)
1. BANTAL & SELIMUT
2. BUKU HARIAN
KREATIFITAS, AKAN(kah) MENJADI MOMEN KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA (?)
“Tidak akan berubah nasib sebuah bangsa tanpa upaya perubahan dari bangsa itu. Petikan bebas dari sebuah kitab suci yang dapat memotivasi keyakinan kita”
1. Handicraft kreasi Asia Line Bali
2. Kreasi Fashion dari materi daur ulang pada Bali Fashion Week
3. Alun-alun Indonesia, model pemasaran kreatifitas Indonesia
Kita Sudah Melakukannya, Kini Lebih Menggairahkan
Saya ada kabar baik. Seorang teman, penggiat bidang kreatif seperti saya sangat takjub dan terkejut ketika diingatkan bahwa dunia yang ditekuninya selama ini menjadi seorang arsitek berpotensi mendorong peningkatan perekonomian Indonesia secara nyata. Lebih jauh lagi hal ini menjadikannya terharu dan memiliki insight untuk bekerja dan berkreasi lebih baik lagi. Hal serupa saya share juga dengan teman-teman lain yang perupa, pesastra, musisi, penulis, penerbit, designer dan teman serta klien betapa melalui bidang kreatifitas secara nyata mampu mencetak nilai yang signifikan baik bagi dunia mikro yaitu dirinya dan lingkungannya maupun dunia makro yaitu bangsa dan negaranya. Dan bayangkan jika semakin banyak insan Indonesia berdinamika dalam bidang kreatif membuat mata rantai kreatif yang mampu menginspirasi dan menggerakan banyak insan Indonesia lainnya melalui budaya kreatif. Knowledge economy, adalah sesuatu yang telah dilakukan oleh teman-teman saya itu. Dengan pengetahuan dan kreatifitasnya mereka membuat nilai yang berdampak ekonomi. Namun untuk lebih spesifik lagi adalah creative economy yang dapat lebih memfokuskan lagi menjadi sebuah gerakan moral membangun ekonomi Indonesia melalui industri kreatif.
1. Arsitektur Kontemporer di Bali : The Legacy, Kulkul Green School, The Campuan
2. Ubud Writers & Readers Festival, model acara profesi kreatif
3. Nyoman Sura, penari dan koreografer kontemporer
Bayi Ajaib Bernama Creative Economy
Tapi, tunggu dulu. Sebetulnya apa creative economy ini ? Salah satu penggagasnya, John Howkins mengungkapkan dalam judul bukunya yang best seller “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas”. Respon dunia pun menggelora. Salah satunya Marubeni Research Institute, Tokyo atas pembacaan buku itu memprediksi “Shows how the creative economy will be the dominant economic form for the 21st century.” Lalu dalam sekejap istilah ini bagai bayi ajaib. Pemerintah Inggris secara serius memulai program creative economy-nya pada tahun 1995. Lalu diikuti serangkaian aktifitas diantaranya pemetaan industri kreatif yang dilakukan tahun 1998 dan 2003 oleh Department of Culture, Media and Sport di Inggris. dan segera setelah itu menjadi program penting karena industri kreatif menyumbang begitu besar bagi devisa Inggris. Bahkan lewat program International Young Creative Entrepreneur of the Year, Inggris mengkampanyekan kreatif ekonomi ke seluruh dunia dengan mencari talenta muda terbaik dalam bidang kreatif yang memiliki jiwa kewirausahaan. Indonesia adalah salah satu negara yang dipacu setiap tahunnya melalui British Council, dan yang terpilih akan dikirim ke Inggris untuk mengikuti kualifikasi tingkat dunia sekaligus berkiprah dalam acara 100% Design. Tujuannya membagi pengalaman terbaik Inggris di bidang ekonomi kreatif, pendidikan seni dan kewirausahaan. Negara-negara lain tentu saja bergegas membuat tunggangan baru lewat creative economy ini. Di Asia, Negara Jepang, Korea, India, Hong Kong, Singapura bahkan Thailand secara tegas pemerintahnya memprioritaskan program ini untuk digulirkan segera. Menggaris bawahi Thailand yang hampir mirip tipikalnya dengan Indonesia, coba simak statementnya: “In order to maintain competitiveness in the global market, Thailand can no longer expect to compete with other countries merely in terms of lower labour costs. Thailand needs to capitalize on its creativity in designing products and services to better meet market requirements.” Nah lo. Bagaimana dengan Indonesia ?
Program Pemetaan Aktifitas Kreatif oleh British Council
Untuk Kemajuan Bangsa, Tidak Ada Kata Terlambat
Di Indonesia sendiri gagasan creative economy digulirkan Indonesia Design Power melalui beberapa aktifitas dan perencanaan program yang akhirnya melalui Departemen Perindustrian bermitra dengan pemerintah. Tak heran jika SBY menyuarakannya pada Pekan Produk Budaya Nusantara 2007 dan istilahnya disebut Ekonomi Gelombang Ke-4. “Saya secara khusus mengajak untuk mengembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni dan teknologi,” Katanya. Karena secara rangkaian, Gelombang pertama adalah Ekonomi Agraris, Gelombang Kedua adalah Ekonomi Industri, Gelombang Ketiga adalah Ekonomi Informasi dan Komunikasi dan Gelombang Keempat sendiri adalah Ekonomi Kreatif.

Semenjak awal diperkenalkan dengan istilah creative economy pada tahun 2005 melalui Indonesia Design Power langsung menjadi sebuah bahan permenungan yang membawa saya kepada sebuah perjalanan mengeksplorasi untuk mengenal istilah itu secara mendalam dan mendapatkan esensinya. Istilah ”ekonomi” seringkali menjebak kita kepada dunia asing yang berat dan luput dari minat untuk dijadikan referensi menarik. Ekonomi itu urusan ekonom. Begitu kira-kira pandangan saya sebelumnya. Namun aneh bin ajaib setelah membaca dan mengamati, lalu memperbandingkannya dengan program ekonomi kreatif di negara lain dan melihat situasi dan kondisi Indonesia, aha!, inilah sebetulnya mutiara bangsa kita. Harapan itu ada disana…
1. Skema Era Kreatif Ekonomi, Presentasi BUDPAR
2. Skema Mengapa Kreatif Ekonomi Penting, Presentasi Konvensi Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
3. Profil Kontribusi Industri Kreatif di Indonesia, idem
Setidaknya ada 3 hal mendasar yang menjadikan alasan dari kekuatan ekonomi kreatif bagi Indonesia ini:
1. Ekonomi kreatif sangat bergantung kepada pembangunan sumber daya insani. Membangun insan lebih murah dan mudah ketimbang membangun infrastruktur fisik seperti pada industri lainnya yang mahal dan berdampak lingkungan.
2. Kreatifitas bukan barang baru bagi masyarakat Indonesia dan telah dibuktikan dengan perkembangan yang terjadi sebelum kita mengenal istilah creative economy. Dari peninggalan nenek moyang kita dalam varian yang beragam berbentuk seni dan budaya seantero Nusantara sampai kreatifitas terkini dalam musik, pertunjukan, film, desain dan banyak lagi yang kini merubah peta minat terhadap profesi berbasis kreatifitas.
3. Potensi kreatif negara Indonesia yang ada sangat besar: jumlah penduduk Indonesia, keragaman seni dan budaya Indonesia serta akses dan jaringan internasional yang sudah semakin mudah akan menjadi asset penting
Namun Harus diwaspadai bagaimana follow up memadukan peran pemangku kepentingan agar terjalin jejaring yang efektif dan produktif mendayagunakan potensi ini menjadi nyata. Disebut-sebut sinergi birokrat, swasta dan cendikiawan adalah triple helix yang harus membuat rangkaian yang tepat menuju sukses itu. Tidak kalah pentingnya adalah pembangunan internal bagi para pelaku bidang dan profesi kreatif untuk terus melakukan pembangunan dan eksplorasi. Membangun mentalitas, kewirausahaan, manajemen, komunikasi, pemasaran hingga inovasi dalam berkarya. Sehingga semua jalan menuju kesempurnaan dijadikan prasyarat sebuah keberhasilan.
Pemetaan dan Pengelompokan Bidang Kreatif
Secara nyata, bidang kreatifitas yang menjadi perhatian adalah yang selama ini telah dilakukan oleh bangsa kita sebagai profesi. Pada data yang dibuat berdasarkan data statistik BPS, penyumbang terbesar devisa negara Indonesia selama ini adalah bidang fashion dan tekstil, kerajinan serta periklanan. Melalui gerakan ekonomi kreatif di Indonesia akan didorong bidang-bidang kreatif lain yang kategorinya adalah:
1. Arsitektur
2. Interior
3. Landscape
4. Grafis/Komunikasi Visual
5. Penerbit
6. Penulis/sastrawan/penyair
7. Musik
8. Seni pertunjukan (tari, drama, dll)
9. Kemasan
10. Brand/produk
11. Perhiasan/Jewelry
12. Visual Art (lukis, patung, dll)
13. Movie
14. Fashion & Aksesori
15. Handicraft
16. Web/Games/Interactive Media
17. Kuliner
Artinya, jika hal ini bekerja dengan baik maka akan terjadi peningkatan yang signifikan bagi perekonomian Indonesia disebabkan motor sektor kreatifnya yang di”tune up” dengan baik.

Komunitas Kreatif Dituntut Membentuk Budaya Kreatif
Baru saja sekitar 3 tahun berlalu, namun aktifitas kreatif kian marak dibuat dan diadakan. Selain kegiatan lama yang dibuat dengan spirit baru, banyak juga kegiatan baru yang sangat strategis. Sebut saja Trade Expo Indonesia, Pekan Produk Budaya Indonesia kemudian conference dan seminar baik yang generik maupun spesifik. Kinerja antar departemen dan kementrian juga dirapatkan demi merespon creative economy. Jakarta memang masih mendominasi, tapi kota lain memiliki ”local indigenous”nya sendiri. Bandung bangkit lewat distro dan musik, Jogjakarta dan Bali lewat handicraft dan fashion. Lalu atas kesadaran dan inisiatif terbentuk pula komunitas-komunitas kreatif. Di Bandung ada Bandung Creative City Forum, di Bali ada Bali Creative Community, kehadiran Indonesia Young Designers, 1001 Inspiration Design Festival dan banyak lagi aktifitas di Jakarta, Jogjakarta dan kota lain yang sedang bergiat membentuk komunitas kreatif yang bertujuan membuat klaster kreatif dan membentuk budaya kreatif. Pertanyaannya, apakah ini semua mengindikasikan creative economy itu si mutiara harapan atau hanya euforia sesaat? Buat menjawabnya yang paling nyata adalah dengan melakukan terus menerus sosialisasi, promosi dan mengamankannya dengan membuat blue print creative economy Indonesia.
Mempertanyakan Kembali Kesejatian Creative Economy
Apakah sesuatu yang kebetulan jika momen ini bertepatan dengan saat dimana Bangsa Indonesia tengah memasuki 100 tahun Kebangkitan Nasionalnya ? Akankah creative economy menjadi trigger terbentuknya martabat dan citra bangsa yang lebih baik ? Dapatkah creative economy menjadi praktek berjuta bangsa Indonesia untuk lebih baik ?
(Diberi pertanyaan semacam ini teman saya protes. Katanya, Mas nanya melulu jadi kapan mulai kerjanya ?) Sebuah pertanyaan yang baik untuk menutup tulisan ini. Membagi semua apa yang tengah terjadi dengan gerakan ekonomi kreatif di Indonesia dalam satu waktu memang tidak mungkin. Semoga gerakan ekonomi kreatif adalah anugerah sekaligus penggugah dari tidur kita yang tidak nyaman. Selamat mengeksplorasi dunia creative economy.
Diolah dari berbagai sumber:
1. Presentasi Indonesia Design Power
2. Presentasi Kreatif Industri Indonesia, BUDPAR
3. Hasil Konvensi Pengembangan Industri Kreatif Indonesia
4. Situs British Council Indonesia
5. Presentasi Bali Creative Community
GIFTS COLLECTIONS FOR EARTHDAY

THE LAST TREE GONE by Jody Barton.

ARK ASSEMBLY INSTRUCTION by Unbranded.

MAN BELONGS TO EARTH by unknown
DICARI: “ANAK ANAK NAKAL” INDONESIA
Hasil jalan jalan ke blog tetangga nyangkut juga di selasarnya pakde Totot. Ditengah kesibukannya di kantornya Satu Citra, sempat sempatnya menjadi juru kampanye untuk nge-blog. Bukan Cuma itu, blognya kini semakin ciamik dibenahi dan dipercantik (apa diperganteng) jadi makin nyaman dibaca. Dan bukan Cuma itu sodara-sodara, postingannya itu yang bikin geleng geleng kepala, ringkas, bernas tapi beringas (Singa kalee).
Tengok postingannya terakhir tentang tulisannya yang dimuat di De Filmkrant, majalah film Belanda berusia 26 tahun dengan oplah 35.000 eksemplar per bulan, membuat suplemen khusus “What’s going on in…?! Reports from Rotterdam and in the rest of the world.”
Suplemen yang diterbitkan dalam De Filmkrant edisi 289 ini memuat tulisan 11 kritikus film dari 11 negara (Belanda, Argentina, Afrika Utara, Afrika Selatan, Prancis, Austria, Russia, Indonesia, Jepang, China, dan Filipina) mengenai situasi mutakhir sinema di negara masing-masing. Dari Indonesia yang didaulat ya Pakde Totot (Yang dia bilang kebetulan dipilih…) dan tulisannya “Anak-anak Nakal” Sinema Indonesia. Isinya menggambarkan bagaimana sinema di Indonesia turut dibangun diantaranya oleh “anak anak nakal” itu. Dan ternyata keberadaan “anak anak nakal” ini penting bukan hanya di dunia sinema. Tapi di bidang kreatifitas apapun atau di bidang apapun. Apa “Anak anak nakal” itu ? Kata Pakde Totot: “Mereka yang berkarya diluar mainstream”. Saya tambahkan, yang di dalam karyanya termuat unsur kebaruan.
Jika Pakde hanya menulis “Anak anak Nakal” Sinema Indonesia itu semata karena ia mengakrabi sinema yang menjadi minatnya. (Baca juga postingannya yang lain di blognya atau di Kompas). Ini kajian menarik buat kita karena ada minat dan ada konsistensi. Dan bukan Cuma itu, dia sendiri sudah menunjukkan menjadi “Anak Nakal” di film review atawa kritik film. Ia akan selalu mencari inspirasi karena akan ia bagi lagi menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Suatu saat dalam chat dengannya ia menulis ” Tunggu gue 3 tahun lagi di Bali…”. Mau tau apa yang direncanakannya kelak 3 tahun lagi dari sekarang ? Ya tunggu aja kabar selanjutnya…
Kesimpulannya, Indonesia memang perlu lebih banyak “Anak-anak Nakal” yang mau menjadi lokomotif perubahan yang membawa pada kebesaran dan rasa bangga bangsanya. Terima kasih Pakde telah menunjukkan sebagian “Anak anak Nakal” Indonesia…
MEMOAR Dr. DJELANTIK
Kita baru saja kehilangan salah satu orang terbaik negeri ini, Dr. A.A. Djelantik telah berpulang meninggalkan kita semua dengan begitu banyak nilai untuk kita teladani. Berikut saya sampaikan sebuah memoar dari Horst Jordt, presiden Walter Spies Society, Germany yang mengenal secara dekat sosok Dr. Djelantik. Saya sertakan juga foto Dr. Djelantik yang saya ambil dalam sebuah acara budaya di Danes Art Veranda beberapa tahun lalu. Selamat jalan pejuang sejati…
Denpasar, 5. September 2007
Para anggota dan sahabat-sahabat “Walter Spies Society Jerman” yang terhormat,
Pada malam antara tanggal 4 menuju tanggal 5 September yang lalu telah berpulang Dr. Anak Agung Made Djelantik dengan tenang di rumah sakit yang dahulu didirikan olehnya yaitu “Rumah Sakit Sanglah”. Direktur dari rumah sakit ini telah menyatakan kepada saya bahwa rumah sakit ini akan segera memakai nama Dr. A.A. Djelantik.
Di saat itu hanya para keluarga dan teman-teman yang paling akrab berada disisinya.
Beberapa hari yang lalu telah saya bawakan sekuncup bunga anggrek putih ke tempat tidur di kamar sakitnya. Saya telah membawa juga dan menunjukkan kepadanya dalam bentuk yang baru dicetak untuknya karya Spies yang paling disenanginya, yang berjudul ” Scherzo fuer Blechinstrumente ” dan menulis dibawahnya:
“Dear Dr. Djelantik!
Once it was You, who advised and encouraged us to found the ‘Walter-Spies-Society Germany’
Thanks for all Your support.
We admire You, we love You!”
Beliau sangat terharu dan mencoba tersendat-sendat berbicara mengenai ” Scherzo “. Setelah beliau sadar bahwa saya tidak bisa mengerti maksudnya, beliau merubah situasi menyedihkan ini dengan senyum dari kondisinya yang lemah sambil mengacungkan jempolnya ke saya.
Dr. AA Madé Djelantik adalah pendiri “Yayasan Walter Spies Bali” dan sejak itu dengan kerja keras beliau setiap tahun dan kemudian karena masalah dana setiap 2 tahun mengadakan “Walter-Spies-Festival” dengan menfokuskan tema musik dan tari-tarian. Beliau mengingatkan para guru tari Bali untuk mementaskan kembali tari-tarian yang hampir terlupakan. Demikian juga koreograpi-koreograpi modern. Salah satu acaranya yang luar biasa adalah “Walter-Spies-Festival 1995″.
Dr. Djelantik telah dipilih oleh Presiden Sukarno untuk mendirikan fakultas kedokteran di Universitas Udayana dan mengajar juga untuk beberapa tahun kemudian di situ. Selanjutnya beliau mengajar “Estetika ” di Akademi Seni Rupa ISI di Denpasar.
Setelah memutuskan untuk mempelajari kedokteran, maka beliau memulai studinya di Amsterdam. Pada tahun 1948 sebagai dokter muda bertugas di beberapa pulau di negeri Indonesia yang masih terbagi dua. Diantaranya di tempat pengasingan Pulau Buru yang diperintahkan oleh teman kecilnya Anak Agung Gede Agung, yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia Timur. Beliau dicurigai mempunyai hubungan yang meragukan dengan Ngurah Rai, teman sekolahnya yang melakukan perang gerilya di Bali. Kemudian setelah Belanda meninggalkan Indonesia, Dr. Djelantik baru mendapatkan kedudukannya sebagai dokter di Bali.
Tidak lama kemudian beliau diangkat menjadi kepala dokter yang bertanggung jawab untuk kebutuhan kedokteran seluruh provinsi Bali. Demikian juga tugas sebagai dokter pribadi Presiden Sukarno bila Proklamator ini datang dan berada di Tampaksiring.
ada saat itu beliau juga diberi tugas oleh Presiden Sukarno untuk membuka fakultas kedokteran di Universitas Udayana. Disamping itu Dr. Djelantik juga memegang jabatan sebagai Direktur Rumah Sakit Sanglah yang telah beliau membangun sebelumnya.
Setelah berpensiun Dr. Djelantik diberi tugas oleh WHO ke negara-negara Afghanistan, Irak, Somalia dan Nepal sebagai ahli penyakit Malaria.
Beliau adalah seorang Bali yang bersifat luar biasa, berpendidikan tinggi, sangat berakar pada budayanya, hebat dalam pemikirannya. Pada banyak situasi beliau telah terbukti bekerja dengan mengagumkan dan menunjukkan keberanian yang besar.
Disamping bersemangat terhadap pekerjaan kedokterannya, besar juga minatnya terhadap musik klasik Eropa, seni lukisan, sastra dan filosofi, dimana semua yang ditulis oleh filosof Jerman dalam bahasa aslinya telah dibacanya. Pada satu acara perpisahan kematian untuk seorang teman dari Belanda, Dr. Hans Rhodius, penulis biografi Spies, beliau menyampaikan sambutan sepontan dalam Bahasa Belanda kelas atas yg. bahkan tidak di kuasai lagi oleh orang-orang Belanda kebanyakan. Ini amat mengharukan para tamu yang lantas mengucapkan pujiannya. Mereka sudah sejak lama tidak pernah mendengar pembacaan kesustraan yang demikian bermutu.
Sudah tentu tantangan hidupnya tidak akan bisa dikuasainya bila dia tidak mengabungkan kemampuannya dengan humornya, ironi dan ironi terhadap dirinya. Beliau dengan piawai mampu menolak perintah-perintah yg. di anggapnya kurang masuk akal yg. berasal dari otoritas pemintahan tanpa menyebabkan semua pihak menjadi tersinggung.
Beliau menggabungkan kesederhanaan dan percaya diri sendirinya, dimana berkat pendidikan yang didapat di Puri Agung Karangasem, istana dari ayahnya, raja terakhir Bali Timur.
Dr. Djelantik menulis riwayat hidupnya dalam otobiografi “The Birthmark – The Memoirs of a Balinese Prince” dan buku ini juga sebagai peringatan untuk istrinya Astri Swart yang meninggal di tahun 1997. (‘Periplus’ Singapore 1997).
Setelah beliau di tahun 1999 siuman dari komanya dimana tubuhnya menjadi cacat, tetapi secara jasmani masih sehat, mulailah beliau melukiskan riwayat hidupnya dalam lukisan-lukisan. Lukisan tersebut yang diterjemahkan oleh Idanna Pucci, seorang penulis dari kebangsaan Itali yg. sangat briliant, berhasil menterjemahkan lukisan itu kedalam bahasa yg. mudah dimengerti dan amat berkelas dan diterbitkan dengan judul “Against All Odds – The Strange Destiny of a Balinese Prince” (‘Saritaksu’ Bali, 2005)
Pada tahun 1990 beliau mempublikasikan bukunya yang berjudul “Balinese Paintings” di Oxford University Press Singapore . Kemudian di tahun 1999 “Estetika – Sebuah Pengantar” diterbitkan oleh ‘Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia’, Bandung. Di tahun 1995 beliau telah menulis “The Magic Realism of Walter Spies” dihalaman muka untuk katalog pameran “Walter Spies di Indonesia” dan sering memberi ceramah didepan forum mengenai Walter Spies.
Banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat di Bali saat ini menundukkan kepala di hadapan Dr. AA Made Djelantik yang terbaring diatas bale dirumahnya di Denpasar. Beliau pada tanggal 12 September akan diantar ke Istana keluarganya “Puri Agung Karangasem” di Amlapura, dimana mayatnya sesuai adat Hindu Bali akan dikremasikan pada tanggal 13 September. Abunya akan dihanyutkan ke laut melalui pantai didepan Istana Air Ujung.
Dengan rasa duka dan hormat yang dalam untuk Dr. Anak Agung Made Djelantik, Presiden kehormatan kita, kami mengucapkan Selamat Jalan ke tempat yg. damai.
Horst Jordt


















