GREEN SCHOOL. MENJANGKAU MIMPI MENCETAK ORANG HEBAT

April 6th, 2008

Ayip Green School 1
Minggu 6 April sore yang mendung saya menelusuri jalan menuju Sangeh untuk melihat Green School yang digagas oleh John Hardy, seorang desainer dan pengusaha jewelry yang sukses. “The school is the brainchild of John and Cynthia Hardy who wanted to make a lasting gift to the people of Bali” itu kalimat terakhir yang menerangkan Green School di Wikipedia. Green School at Kul-kul Campus begitu namanya, berada di desa Sibang Kaja, sekitar 30 km dari pusat kota Denpasar. Memasuki areanya kita telah diberi suasana segar alam pedesaan dengan beragam bangunan dari bambu di beberapa area. Semua petugas baik security maupun petugas registrasi menyapa ramah tiap orang yang baru datang. Hari itu adalah hari “Open House” bagi sekolah ini. Yang datang 80% adalah ekspatriat dan orang asing yang berencana menyekolahkan anaknya di Green School tersebut. Dan mereka yang hadir dikelompokkan menurut grade sekolah yang akan diikuti oleh anak-anaknya, setiap kelompok dipimpin oleh seorang pemandu yang merupakan tenaga pengajar di sekolah itu.

Tour pun dimulai, pemandu menerangkan tiap detail dengan fasih pada setiap bagian sekolah seluas 6 hektar ini. Fasilitas sekolah sangat lengkap mulai dari kelas, perpustakaan, media center, arena olahraga dan yang membedakan adalah adanya learning village yaitu fasilitas dimana siswa dapat melihat , belajar dan menjadi bagian wirausaha kerajinan dan usaha kecil lainnya termasuk pengolahan coklat organic. Di Green School ini dikembangkan juga organic premaculture yang menjadi bagian dari kurikulumnya. Belum lagi tenaga listriknya akan digerakan oleh bio gas dan innovative hydro-power vortex generator. Sirkulasi udara pada beberapa bangunan bambu di area Green School menggunakan pengaturan angin memalui terowongan tanah. tersedia juga laboratorium alam berupa kolam tempat budidaya udang juga peternakan. Arsitektur bangunan bambu yang unik dan khas mendominasi tiap fasilitas termasuk sebuah jembatan yang menghubungkan area sekolah yang luas dimana dibawahnya mengalir sungai Ayung.

Wah, mengikuti tour hingga akhir benar-benar sangat melelahkan, tapi demi membayangkan bagaimana sekolah ini digagas dan direalisasikan seperti ini menjadikan lelah tak terasa. Benar-benar puas dan inspiring. Apalagi kita disuguhi air kunir yang segar setelahnya.

Ayip Green School
Sekolah Hijau ini memang mengadopsi banyak konsep hijau dalam operasionalnya, lebih dari itu, mereka memang bercita-cita mencetak manusia yang mampu secara lengkap memiliki bekal dalam menjalani kehidupan. Sekolah yang digagas oleh kelompok internasional dengan background pendidik, environmentalis dan pebisnis ini ingin mengkombinasikan keahliannya untuk mencetak pelajar yang menjadi inspired thinkers, creative problem solvers, mengerti tentang berbagai hal dalam kehidupan, dan mampu menjadi pemimpin di dunia yang selalu berubah dan menantang ini. Pendeknya, mereka-para pelajar-akan tahu segala hal dari organic gardening hingga mendesain website, dari menjalankan bisnis kecil hingga menekan emisi karbon, menjadi orang yang membanggakan dan dapat dipercaya mengelola kehidupan dengan lebih baik di dunia yang semakin kompleks ini. Wiiiih, panjang dan mulia sekali ya cita-citanya ini. Buat orang tua yang “berada”, tawaran ini serta merta menjadi “jawaban” bagi pendidikan untuk anak-anaknya tercinta. Orang tua mencari uang kesono kemari banting tulang buat kemajuan dan kebahagiaan anaknya bukan? Dan sudah dipastikan juga bahwa Green School akan menjadi sekolah elit yang hanya dapat dijangkau oleh mereka yang berduit saja atau yang sudah prioritas dalam hidupnya yang tertier menjadi sekunder. Orang tua mana yang mampu menyiapkan uang untuk registrasi $ 500, Uang bangunan tahunan $ 950 dan buat grade I-VI uang sekolahnya setahun $ 7.950. Itulah investasi yang diperlukan untuk jadi “hebat”.

Ayip Green School 2Ayip Green School 3Ayip Green School 4Ayip Green House 5
Memang itu semua tidak menjamin. Namun memperbandingkannya dengan sistem pendidikan dasar yang ada di indonesia (yang masih banyak kurangnya ditinjau dari beberapa aspek mendasar), maka Green School ini sebuah formula yang baik. Tapi sedikit catatan selain biaya yang sangat mahal biasanya sekolah khusus (internasional) minim mengakomodasi hal yang substansi dalam pendidikan dan kehidupan bermasyarakat yaitu pendidikan budi pekerti. Tak heran banyak anak-anak yang pinter tapi kelihatan arogan dan tidak paham sopan santun.

Di sisi yang lain seharusnya keberadaan Green School menginspirasi pemerintah dan swasta membuat sekolah yang mirip namun lebih affordable dalam biaya. Saya pasti ‘ikut satu’ buat anak saya !.

Senja mulai gelap dan saya meninggalkan Green School, hanya 200 meter saja dari sana masih di jalan yang sama berdiri sebuah sekolah, SD Negeri SibangKaja. Sebuah high contrast, seperti dalam potret.

Catatan:
Sesuai pemberitahuan yang kami terima dari pihak Green School atas komentar di blog ini, berikut saya sertakan petikannya:

Kami juga ingin berbagi mengenai hal-hal diatas kepada siswa/siswi lokal/Bali dengan menyiakan bea siswa bagi mereka, sehingga diharapkan mereka dapat mengenyam & memperoleh pendidikan yg lebih baik dibandingkan apa yg mereka telah peroleh sekarang ini.
Proses untuk penyeleksian tersebut telah kami mulai, dan kami juga akan melangkah ke tahap selanjutnya dengan mengadakan sesi pemotretan, penyusunan data-data mereka yg akan diadakan pada hari Sabtu esok.

Dengan terwujudnya hal tersebut Green School bukan hanya sekolah bagi pare ekspatriate yg berduit, tapi juga bagi semua orang di seluruh dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya.

Terima Kasih!

Purnami Lestari
Administrative & Enrollment Manager
atau
Meliana Salim
Marketing & PR Manager

Green School at the Kul-Kul Campus
Sibang Kaja, Banjar Saren
Abian Semal, Badung 80352
Bali, Indonesia
Mobile: +62 361 801 3793
Phone:+62 361 469 875
http://www.greenschool.org

TEMPORARY INSPIRING WORKSPACE

January 29th, 2008

Open Working space at Casabrina
Casabrina memang didesain bukan untuk kerja tetapi untuk refresh, rejuvenate dan contemplate yang justru disebabkan -salah satunya- rutinitas bekerja. Tapi toh siapa yang mau ignore jika inspirasi terus datang ketika ada disana?. Buat konsumennya nanti jika sudah operation tentu akan menjadi sebuah pengalaman berharga.

Kalo saya datang berkala ke Casabrina memang sedang bekerja. Kami sedang terus melakukan koordinasi dengan owner, developer, arsitek, marketing agent dan tim lainnya yang tengah mempersiapkan Casabrina sebagai World’s best kept secret. Wah, itulah tugasnya yang begitu berat untuk lead market dengan tepat.

Kembali ke Casabrina sebagai sumber inspirasi, saya bebas menentukan dimana saja tempat saya bekerja ataupun kita melakukan meeting koordinasi. Sesuai dengan cuaca dan moodnya. Tapi mostly outdoor area sangat menarik. Hijau pohon, suara burung aneka bunyi, gemericik air dan terpaan angin gunung membuat insert yang menakjubkan dalam bekerja. Wireless internet connection membuat hal itu juga sangat memungkinkan. Jadi, inilah kantor alam yang sangat ispiratif. Tengoklah salah satu “kantor alam” saya…. Hmmm

SEKEJAP DI CASABRINA

November 18th, 2007

CasabrinaÂ

Perlawatan ke Malaysia kali ini bukan untuk investigasi “Rasa Sayange”. Sekadar jalan jalan ke Casabrina, project yang telah setahun lalu usai. Sebuah second home resort di hutan Pahang, tepatnya desa Sang Lee, sekitar satu jam perjalanan dari KL. Casabrina adalah 11 home resort karya arsitek Bali Yoka Sara di atas tanah berkontur di ketinggian 200 m dari permukaan laut. Dari 11 yang direncanakan 2 telah rampung dan satu sedang dalam tahap pembangunan. Home resort ini dijual untuk umum dengan kepemilikan penuh. Suasananya sangat indah dan setiap saatnya memiliki karakter ambient yang berbeda bagi siapa saja yang berad disana. Lahan tempat Casabrina berada adalah perbukitan hijau bekas perkebunan karet yang dikelilingi hutan Negara.

Casabrina BrandÂ

Hal ini yang menginspirasi visual brand identity Casabrina yang kita buat setahun lalu dan copywriter kita Johnny menambahkan teks “Natural Selection. You’ve travelled far to come home…” untuk membuatnya lebih afdol.

Villa Aranya
Villa Aranya 2
Setiap ke Casabrina saya selalu tinggal di Villa Aranya, ini nama yang saya berikan untuk mengganti nama sebelumnya yaitu Forest House. Aranya berarti hutan dalam bahasa sansekerta. Disebut demikian karena letaknya tepat menghadap hutan dengan segala atributnya.Â

forest
Hari pertama perjalanan kali ini diisi dengan membuat jalan baru di hutan untuk menentukan peletakan fasilitas penunjag complex. Jadi kami membabat semak untuk dapat menjadi jalan setapak yang akan dilalui. Nafas lumayan tersengal juga karena jalan menanjak terlebih status sebagai perokok dan tak pernah berolahraga. Usai membelah hutan, sebagian dari kami kedapatan terkena hisapan lintah sehingga darah keluar dari tempat dimana lintah menghisap di bagian kaki.

forest2Â
Hari kedua sedari pagi hujan sudah rintik. Namun klien saya Felix Tee dia mengajak saya melihat hutan di daerah Fraser Hill sekitar 25km dari Casabrina. Dia ingin menunjukan waterfalls yang airnya bening namun karena semalam hujan lebat ternyata airnya keruh. Jadi perjalanan kita diisi dengan memasuki jalan tanah menuju hutan untuk memotret burung, monyet hutan dan pohon-pohon yang langka. Kita menemukan musang yang tengah berbaring di dahan pohon besar yang sebelumnya sempat kita perdebatkan binatang apakah gerangan ini karena besarnya yang diatas rata-rata musang.
 Sekembalinya dari hutan seharian kita berada di Casabrina diskusi menyusun strategi baru untuk promosi dan branding Casabrina pada masa mendatang sampai membicarakan rencana trip besoknya ke sebuah danau di Pahang untuk pengembangan ecotourism disana. Inilah yang agak disesali karena besok ternyata saya harus sudah berada di Bali lagi untuk pekerjaan lain yang juga penting. Artinya saya tidak dapat ikut dengan Felix dan rombongan arsitek bermalam di sekitar danau itu.  Malam itu bayangan danau terus muncul hingga di pesawat pulang menuju Bali keesokan harinya. I’ll be back.. I’ll be back…