OLEH OLEH DARI HK!
Apa istimewanya perjalanan ke sebuah tempat selain mengalami perbedaan ruang dan waktu sehingga kebaruan adalah apa yang belum pernah dilihat dan dirasakan sebelumnya ?
Banyak yang bertanya apa oleh-oleh dari Hong Kong (HK) ? Tadinya saya akan menyimpan saja semua ‘oleh-oleh’ itu. Namun atas desakan beberapa kawan supaya dikeluarkan ‘oleh-oleh’ yang unik saja.
Pengalaman kreatif. Adalah semua hal yang terutama dari apapun yang saya dapat. Bukan kaos I Love HK, Wing Wah’s cakes dengan kemasan buatan biro desain ‘top’ HK Kan and Lau, merchandise Alan Chan, jalan-jalan di Soho atau menerobos HK tunnel dibawah laut.
Creative sparkling, telah terasa ketika malam itu pesawat akan mendarat dengan gemerlap berjuta cahaya lampu kepulauan HK dibawah sana. Seketika tiba-tiba teringat keuntungan “memahami” saat Kan Tai Keung di Bali mempresentasikan karya-karya grafis spektakulernya yang sunyi di keramaian HK tanah airnya. Tai Keung saat hadir di Bali adalah sebuah alert bagi perjalanan saya sebagai seorang desainer grafis dan pekerja kreatif. Penggaliannya di kedalaman menemukan sunyi dan mempersembahkannya dengan segala kerendahan hati. Lalu teringat pula dongeng Ika tentang dinamika HK, eksplorasi berkarya dan penghargaan terhadap karya seperti yang nampak dalam pencapaian karya fashionnya selama bermukim di HK. Keduanya adalah desainer dan seniman sejati yang menjadi inspirasi dalam mencari. Keduanya berhasil meniupkan roh budayanya sebagai identitas karya. Dan jauh sebelum mereka adalah ayahanda sendiri bercerita bagaimana HK adalah naga yang tak pernah terlelap.
Apa yang sebenarnya saya “pahami” ketika “menyimak” pembicaraan orang-orang yang mengenalkan HK pada saya lewat cerita? Saya merasa telah mengenal HK sebelum saya ada disana.
Ketika pesawat mendarat dan pertamakali menginjakan kaki di bumi HK tak ada sedikit juga perasaan asing. Tak ada penjemput tak ada guiding yang jelas harus menuju kemana tapi tak membuat rasa takut dan khawatir. Seperti telah ada disana sebelumnya.
Yang berjejal di kepala adalah visual dan visual; Huruf latin berbaur dengan aksara Cina, kepak ekor naga, etos kerja, orang-orang yang khusuk dengan tujuannya sendiri, rasa percaya diri, passion, dinamika manusia juga kota dan gambaran rasa cemburu serta mempertanyakan nasib bangsa yang coba dibunuh lalu jadikan motivasi. Semua itu dipertegas dengan mengalami hari-hari disana.
Drawing Book kecil yang saya bawa dipenuhi coretan-coretan emosional saling berganti dengan laptop butut saya yang legend itu untuk mengupload gambar dari kamera digital, mendesain dan merekayasa gambar. Dorongan berkarya begitu dahsyat tak kenal lelah mengalahkan pengalaman berada di tempat manapun yang sebelumnya pernah didatangi. Apakah ini kekuatan dragon ketika mengucap salam selamat datang? Teman saya Sugi mempertegas, Inggris pun telah kepincut HK semenjak dulu kala. Jadi kekuatan macam apa yang dimilikinya ?
Dan Oleh-olehnya adalah karya visual yang jika dikumpulkan hampir berjumlah 100 buah. Saya sendiri tidak percaya tapi ini adalah kejadian yang sesungguhnya. Saya lebih senang menyebutnya sebagai visual study. Hal lain diluar itu adalah gagasan-gagasan yang belum sempat dituangkan serta semangat membangun kesetaraan. Hmm….
Sedikit menjelaskan beberapa gambar yang saya hadirkan sebagai “oleh-oleh” : HK buat saya sangat tipografis, ada puluhan study saya menggambarkan tipografis HK ala saya. Naga, naga dan naga adalah dominasi yang tidak saya habis pikir. Ia hadir begitu saja dengan berbagai ekspresi. Dinamika HK tergambar dalam cahaya neon yang bertebar sepanjang malam . Setiap malam fisik ingin memejam namun jiwa larut dalam irama kota yang tak pernah mati. Akhirnya, yang saya yakini adalah bagaimana jika kesempatan ini diberikan kepada banyak orang kita? Mungkinkah kekuatan dahsyatnya dapat menggerakan sesuatu yang mampu mengeksplorasi berjuta kekayaan Nusantara untuk identitas dan kebanggaan ?. Selamat “memahami”
Note : Jangan takut, kekuatan imajinasi toh juga bisa membuat kita berada dimana saja sesuai mau kita untuk memperoleh apa yang kita mau. Tapi… I’ll be back. Cause HK loves me.
Filed under inspiration, trip | Comments (3)NGOBROL DENGAN DIREKTUR FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA
Waktu mengunjungi Jogja Mei dan 12 Juni 2007 saya berkesempatan ngobrol dengan Aji Wartono (AW) yang tengah punya tanggung jawab menjadi direktur FKY atau Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX-2007 yang sedang berlangsung di Jogjakarta hingga 1 September 2007. Saya (S) ngobrol santai dengan Aji di sela-sela kesibukannya mempersiapkan FKY di Kedai Kebun dan Ngasem.
S: FKY yang sedang berlangsung hingga 1 September nanti sarat dengan menu seni kontemporer. Mengapa begitu?
AW: FKY berangkat dari basis ekonomi kota yaitu: industri kreatif, wisata, dan pendidikan. Sebagai sebuah festival tahunan, FKY selalu tampil dengan ciri yang berbeda setiap tahunnya. Perbedaan itu secara tidak langsung mencerminkan karakter Kota Yogyakarta yang sangat beragam baik etnis, tingkat sosial, maupun selera estetik. FKY yang diadakan tahun ini memang sebuah format berbeda. Dulu FKY banyak menyajikan kesenian tradisional, namun kesenian tradisional kini sudah banyak mengaktualisasikannya secara baik dalam wadah yang lebih spesifik. Ada festival Ketoprak, Festival gamelan, Festival Budaya Jogja dan lain-lainnya. Jadi kami memiliki satu pandangan bagaimana jika FKY lebih menampung kesenian yang kini banyak berkembang di kalangan seniman muda dan lebih modern. Agar menjadi semacam dialog dengan kesenian-kesenian yang sudah hadir terlebih dahulu. Untuk itu maka tema FKY tahun ini adalah „Anak Muda dan Keragaman“ Tema itu semakin menegaskan ciri utama kota multietnis dan multikultur, yang kemudian dipertautkan dengan stakeholder utama kota yaitu anak muda, the silent majority.
S: Jadi penegasannya lebih kepada kekinian?
AW: Kota cenderung melihat anak muda dengan curiga: sumber kerusuhan, seks bebas, dan stigma-stigma lainnya. Pendapat stereotype itu secara tidak langsung mengerdilkan potensi anak muda. FKY XIX - 2007 ingin menempatkan anak muda pada panggung yang lebih netral. Melalui seni—baik tradisi maupun kontemporer—potensi kreatif pemuda dapat disalurkan secara sehat. Seni sekaligus juga mampu memberi outlet terhadap kemarahan, frustrasi, tanpa harus melakukan destruksi sosial. Sebuah komunikasi antar generasi: the previous dan the next generation. Yang tua dengan anak muda.
S: Apakah nafas baru ini tidak mengundang semacam polemik?
AW: Pro kontra tentu pasti ada. Tapi ini juga merupakan sebuah proses dimana kepercayaan menjadi semacam amanat bahwa FKY bukan hanya asal berubah contents dan organisasi. Tapi nafas baru dengan berbagai kesenian yang disajikan ini memiliki sebuah tahapan perencanaan dan seleksi dengan melibatkan banyak seniman di berbagai bidang seni. Kuratorial kami jadikan salah satu pertanggung jawaban atas semua menu program kami.
S: Lalu apa yang menjadi hambatan utama FKY ketika dipersiapkan?
AW: Kami mencoba melakukan proses kerja ideal dimulai dengan melakukan studi terhadap penyelenggaraan FKY sebelumnya baik dengan cara melihat laporan FKY sebelumnya maupun interview dengan seniman dan masyarakat. Sayangnya pada pengumpulan data penyelenggaraan FKY yang lampau datanya sulit didapat. Sebetulnya studi ini sangat penting dijadikan sebuah evaluasi bagi penyelenggaraan FKY yang lebih baik dan lebih mwadahi dinamika Yogyakarta kedepannya. Studi adalah semacam “reason why†bagi keberadaan program yang kami sajikan.
S: Ok. Apakah FKY juga melibatkan pengisi acara baik dari kota lain di Indonesia maupun luar Indonesia?
AW: Tentu saja. Kami mengundang teman-teman seniman dari kota lain termasuk dari Bali ada Riki Dhamparan Putra, Bawa Samar Gantang dan Komunitas Kembang Lalang. Dari Negara lain ada beberapa kesenian Perancis kami jadikan menu. Ini semata untuk memberikan sebuah suasana keragaman yang diharapkan saling memperkaya kesenian kita.
Begitulah obrolan dengan Aji seputar FKY. Bersamaan dengan penyelenggaraan FKY juga di Bali segera diselenggarakan Pesta Kesenian Bali yang kini memasuki tahun ke XXIX. Tentu saja walaupun berangkatnya sama namun kini mengusung spirit yang berbeda.
Filed under Sharing, events, trip | Comments (2)














