KADO KADO 2008 YANG MENCERAHKAN
Akhir tahun selalu dihiasi kaleidoskop mengenai rangkaian kejadian apa yang menarik dalam tahun yang akan berlalu. Banyak kejadian menarik yang saya lalui di tahun 2008 tapi memilih yang berkesan harus memilah-milah memori kembali. Syukur saya teringat semenjak Juli 2008 tiba-tiba saja koleksi buku meningkat dan teristimewa buku-buku itu didapat langsung dari teman teman si pembuatnya sebagai kado.
Dan kaleidoskop 2008 saya yang teristimewa adalah soal buku-buku pemberian itu. Buku adalah buah pemikiran yang menarik dan penting bagi referensi dan pengetahuan kita.
Ingin tahu buku apa saja yang menjadi kado saya dan menjadi koleksi pribadi karena rata-rata semua berisi author’s signature, ayo kita lihat dibawah ini :

DYAN ANGGRAINI
Buku tentang kumpulan tulisan dan essay mengenai artis perupa Dyan Anggraini dari Yogyakarta yang kini menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Yogyakarta. Buku ini berisi tulisan I Wayan Sukra, M. Agus Burhan, Toety Heraty, Wahyudin dan editornya adalah Landung Simatupang.
Buku ini menggambarkan perjalanan kesenian Dyan Anggraini yang juga banyak dikaitkan dengan eksistensinya sebagai wanita yang memiliki perjuangan dan prestasi. Buku ini saya dapatkan dari Mbak Dyan, demikian saya memanggilnya, sewaktu meluncurkan buku Frans Nadjira berjudul Curriculum Vitae yang diterbitkan oleh MatameraBook di Taman Budaya Yogyakarta bulan Juli 2008. Dengan jamuan ala Yogyakarta kami berbanyak orang termasuk Frans Nadjira dan Kaka, Saut Situmorang, Mba Dyan dan suami serta teman-teman sastrawan Yogya menikmati soto dan Alun alun Yogyakarta.
ALIA
Ini komik baru keluaran Concept Media selaku publisher yang menerbitkan cergam asli karya anak bangsa “ALIA” sebagai bentuk dukungan nyata anak bangsa untuk kebangkitan komik Indonesia. Sekitar 30 cergamis yang merindukan lahirnya tokoh-tokoh superhero lokal yang bisa dibanggakan dan diteladani oleh generasi muda Indonesia bergabung dalam penggarapan cergam ALIA. Alia edisi perdana terdiri dari dua buku yang jika disandingkan nampak merah putih menjadi symbol dari sosok tokoh dalam cerita yang mewakili spirit Indonesia.
Djoko sang pemilik dan produser memberikannya kepada saya di ruang tungu Mega Blitz di Grand Indonesia saat kami voting menentukan logo Wartajazz yang baru bersama Agus S. Basuni, Andi S. Boediman, dan Irvan Noe’man.

THE SKETCHBOOK SOLICHIN.
Dalam buku ini berisi 26 sketsa pensil Solichin mengenai Losari Coffee Plantation, sebuah resort di Jawa Tengah dengan setting rumah tua di tengah perkebunan kopi Losari. Tempat ini adalah impian pemiliknya Gabriella Teggia yang juga membuat konsep untuk butique resort Amanjiwo di Magelang. Yang menarik ketika saya mengunjungi Losari awal tahun ini adalah sebuah tempat bernama Mayong reception yang merupakan bangunan stasiun kereta api yang dibuat tahun 1873.
Buku ini diberikan oleh Ratna Amatsarie sebagai koordinator dan editornya ketika mengunjungi Bali. Ratna adalah sahabat lama yang dulu menetap di Bali dan terakhir sebelum pindah ke Yogyakarta menjadi representatif Edition Didier Milet, penerbit terkemuka coffee table book dengan subyek Asia yang berkantor di Bali.

FRAGRANT RICE
Buku yang menceritakan pengalaman seorang Janet De Neefe jatuh cinta kepada Bali termasuk kisahnya menikah dengan Pak Ketut dan mencintai budaya serta kulinari Bali. Selain mengupas kisah jatuh cintanya kepada Bali semenjak 1974, di dalamnya termuat juga resep-resep kuliner yang lezat berbagai masakan Bali. Buku ini diterbitkan Periplus tahun 2003.
Buku ini diberikan Janet ketika Matamera dimintanya menangani visual design untuk Ubud Writers & Readers Festival 2008 dimana dia adalah penggagasnya.

KAIN UNTUK SUAMI
Buku kolaborasi Poriaman Sitanggang sebagai fotografer dan Fenny Purnawan sebagai penulis yang sejatinya adalah suami istri. Buku ini adalah buku mengenai Tenun Tradisional Nusa Tenggara Timur yang dikupas menarik lewat geografi dan sosial budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur sehingga kita mengenal kain tersebut adalah representasi dan symbol kehidupan masyarakat disana. Buku ini diterbitkan oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Natayu.
Bung Por dan Mbak Fenny memberikannya kepada saya ketika ada acara talkshow mengenai Buku I See Indonesia dan semangat kebangsaan di Senayan City Jakarta.

JUALAN IDE SEGAR
Buku yang sangat luar biasa memberikan know how tentang modal kreatifitas yang dapat menjadi nilai bagi kehidupan. Kisah nyata yang dituliskan dan dipraktekan M. Arief Budiman sang pendiri Petakumpet di Yogyakarta. Selain buku, disertai juga CD berisi trick n tips, presentasi dan portfolio Petakumpet.
Jauh sebelum buku ini diterbitkan saya diminta memberikan komentar yang dimuat dalam pengantar buku ini. Bukan hanya itu, dalam sebuah kesempatan casual di depan forum Adgi Bali Chapter sempat mempresentasikan gagasannya tentang Jualan Ide Segar ini. Buku ini diterbitkan oleh Galang Press Jogjakarta.

THINGS I HAVE LEARNED IN MY LIFE SO FAR
Ini buku paling unik yang saya peroleh tahun ini. Bukan karena dibuat oleh seorang desainer grafis terkemuka abad ini Stefan Sagmeister tetapi desain bukunya serta isinya memang sangat mencerahkan terutama dari sudut gagasan dan eksekusi dalam berkarya. Karya-karya pada buku “Things I Have Learned In My Life So Far” memang menuangkan kata-kata bijak yang dibuat dalam buku hariannya ke dalam visual yang eksploratif dan memiliki nilai kreatifitas tinggi. Baginya pesan visual melalui desain grafis memiliki dimensi nilai lebih luas dibandingkan dengan menuangkannya dalam kata.
Perkenalan saya dengan Stefan Sagmeister di Jakarta tahun 2007 diawali dengan menginterview dia soal cover Pat Metheny untuk Wartajazz. Saat itu dia bilang “tunggu saya di Bali”. Setahun kemudian dia memenuhi janjinya dan dalam undangan makan malamnya di Sayan dia mengatakan akan tinggal di Bali selama satu tahun untuk proyek pribadinya.

KAMUS BRAND
Sebagai referensi bagi peminat brand, buku ini memuat kosa kata dalam brand yang cukup lengkap. Dikemas dalam buku yang handy dengan warna kuning mencolok dan tercetak diatas kertas yang mewah. Diterbitkan oleh Red & White publishing yang banyak menerbit coffee table book karya fotografer Indonesia.
Mendiola B. Wiryawan sang penyusun adalah salah seorang desainer grafis muda Indonesia terkemuka pemilik Mendiola Design Associates yang juga pendiri dan aktifis FDGI (Forum Desainer Grafis Indonesia) sebuah forum nirlaba yang mengkhusus kepada studi dan edukasi desain grafis.

HAK CIPTA DALAM DESAIN GRAFIS
Buku ini adalah kolaborasi antara penulis dan desainer grafis. Agus Sardjono, penulis yang guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia menyelsaikan program doktornya dengan disertasi tentang Hak Kekayaan Intelektual. Dalam buku ini nampak sekali bagaimana kemasan desain membuat soal hak cipta menjadi sangat menarik untuk dibaca dan diketahui oleh para desainer grafis .
Buku ini diterbitkan oleh Yellow Dot Publishing tahun 2008 bekerjasama dengan FDGI

PARKIR+ PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN
Buku ini diperoleh dengan kejadian yang tak disengaja pada Desember 2008 ketika mengantar seorang sahabat menemui seorang penasihat hukum untuk berkonsultasi soal kekecewaannya pada sebuah maskapai penerbangan. Sang penasihat hukum David M. L. Tobing, SH adalah segelintir orang yang mendedikasikan profesinya bagi perlindungan hukum konsumen dengan mencoba memberikan public education melalui gugatan konsumen yang dirugikan oleh kesewenangan sepihak dari jasa atau produk yang dipakainya.
Dalam bukunya adalah sekumpulan gugatan yang dimenangkannya di lembaga pengadilan atas beberapa kasus konsumen dengan pengelola parkir terbesar di Jakarta. Mulai dari kehilangan mobil dan motor di area parkir, kelebihan membayar serta kasus-kasus lain yang memberatkan konsumen. Dalam prinsipnya gugatan bukan untuk mempermalukan dan mengupayakan penggantian dengan nilai yang signifikan tetapi untuk membuat public education bahwa konsumen berhak untuk dilindungi dan produsen tidak berhak melakukan kesewenangan dengan membuat klausal sepihak dalam aturan bisnisnya dengan konsumen. Perawakannya yang tinggi besar dan bicaranya yang energik namun dengan pembawaan yang hangat sangat meyakinkan menjadi pembela konsumen yang tertindas.

ORANG KALAH
Adalah novel karya I Wayan Suardika yang pernah dimuat di media suratkabar sekitar tahun 90-an. Dan memperoleh Penghargaan “Widya Pataka” Tahun 2008. Orang kalah mengisahkan perjalanan lika liku laki laki dalam romantika hidup yang dibawakan dengan cair dengan gaya tutur Wayan Suardika. Buku ini diluncurkan di Neka Museum Desember 2008.
Suardika adalah salah seorang sahabat semenjak 1990 yang hingga kini secara konsisten dan intens tetap berkarya. Keteguhannya dalam berprinsip membuatnya mengambil jalan “sendiri” dengan menerbitkan majalah seni Suardi. Dalam novelnya ini saya diminta membantu mendesain cover yang ilustrasinya dikerjakan pelukis Made Budhiana.
Lebih dari 10 buku yang langsung diberikan pembuatnya menjadi koleksi yang membanggakan, selamat atas prestasi dan penerbitan bukunya dan terima kasih telah berbagi. Semua penerbitan ini menunjukan kesadaran menuangkan karya dan buah pikiran dalam buku bukan saja semakin tinggi tapi juga semakin comprehensive. Desain dan tata letak harus bagus, kertas dan cetak harus prima, kemasannya harus mampu menunjukan isinya. Demikian pesatnya perkembangan pemikiran dan juga penerbitan menjadikan buku saat ini lebih dari sekadar karya dan perjalanan seseorang.
Paradigma baru akan membuat buku ketika telah menjadi empu atau mencapai masa keemasan tak lagi menjadi popular, membuat buku sebanyak-banyaknya dan mencerminkan sebuah perjalanan seseorang lebih menarik untuk dilakukan. Buku itu sendiri adalah sebuah proses. Mulailah dengan yang pertama dan yang berikut akan segera menyusul… Apakah di tahun 2009 gejala baik ini akan semakin meningkat ? Sebuah harapan dimana banyak teman yang dengan kapasitas dan keahliannya masing-masing menerbitkan buah pikiran dan karyanya dalam buku. Dan jangan lupa “Judge the book if it given to you”.
ANTARA MATAMERA DENGAN LOGO ULANG TAHUNNYA DAN HERACLITUS DENGAN PANTA REI-NYA
Entah kapan awalnya secara sadar menggunakan kebiasaan membuat tema dan logo bagi perjalanan Matamera Communications pada setiap hari jadinya. Bisa jadi saat ulang tahun ke 10 di tahun 2001 atau bahkan sebelumnya ketika berulang tahun ke 8.
Perjalanan dan waktu memang unik. Siapa nyana Matamera Communications yang pada awal gagasannya adalah sebuah studio desain mahasiswa Universitas Udayana ini hingga kini di tahun 2008 ini berusia 17 tahun. Padahal jika dipikir ulang tentang kejadian asal muasal, saat itu boro-boro otak bisnis, modal duit pun tak ada. Justru hal ini yang membuat kami selalu bersyukur dan mencoba konsisten dengan apa yang kami lakukan.
Jadi, kembali ke soal menandai setiap ulang tahun dengan logo dan tema, Matamera kini punya koleksi logo-logo ulang tahunnya yang menjadi signature bagi perjalanannya. Bukan soal bidangnya Matamera membuat hal-hal beginian, lebih dari itu lambang-lambang ini adalah dinamika yang merekatkan rasa. Brand Matamera bagi kami sendiri adalah symbol ekspresi dinamis yang harus memancarkan daya gagas. Logo ulang tahun awalnya dari kata atau kalimat yang menjadi tema. Wujudnya bukan kata bombastic yang ke-megalomania-mania-an. Kami meraciknya untuk memiliki rasa santun, deep tapi sesekali ingin membuat jengah (kami sendiri keluarga Matamera). Ciri khasnya ada di copy based yang memainkan kata dengan bilangan ulang tahunnya. Mari kita telisik satu persatu mulai dari ulang tahun ke 10.

ATTENTION! (2001)
Pada ulang tahun ke 10 mengandung makna peringatan keras dengan satu kata yang menjadi tema yaitu ATTENTION! Di dalam katanya terkandung kata “ten”. Maknanya adalah “Hey, inget… sekarang umurnya sudah 10 tahun. Harus lebih baik, harus lebih jeli, harus lebih dewasa”. Angka 10 pada saat itu adalah angka bulat yang mendorong Matamera harus membuat sesuatu yang sepadan dengan usianya. Maka dibuatlah sebuah art camp dengan mengundang 5 perupa, 2 fotografer, 3 film crew, 1 arsitek dan 2 penulis di sebuah desa di kaki gunung Agung nan terpencil. Selain semua berkarya menurut “agama”nya masing-masing kita juga berbagi dengan masyarakat disana terutama dengan anak-anak. Hasil karya mereka para peserta dan juga anak-anak dipamerkan pada acara Pasar Rakyat yang menampilkan aneka hiburan, makanan dan keramaian yang mengesankan. Hasilnya dari acara ini kami sumbangkan buat desa tersebut.

THERE’S NO SHORTCUT TO 11 (2002)
Kalimat yang menjadi tema ulang tahun Matamera ke 11 ini sifatnya mengingatkan juga bahwa untuk maju tidak harus melalui 11 tahun tapi juga 11 tahun tidak bisa dilalui begitu saja. You can’t skip years to be 11. Banyak pelajaran dan nilai-nilai yang ditemui dalam waktu 11 tahun yang jarang dimiliki oleh orang lain. Visualnya adalah sebuah labirin dimana angka sebelas ada ditengahnya. Sulit dicapai tapi jika mau bisa. Pada perayaannya saat itu Matamera mengadakan rangkaian kegiatan dengan membuat BALI SOMFET (Short Movie Festival) dan aneka lomba permainan antar relasi. Kami juga menerbitkan tabloid yang memorable.

DUABELAS (2003)
Entah mengapa tahun ini tak ada greget atau tak ada ide atau terlalu sibuk kami tak ingat betul.
Ternyata baru ketemu. Pernah dibuat tapi gak sempat dipublish. Iya betul, kali karena Bali sedang sibuk dan panik situasinya taun ini. Nikmatilah apa adanya.

BRAVO! (2004)
Mengapa harus Bravo ? Karena ada stereotype bahwa angka 13 adalah angka tidak beruntung jadi kami ekspresikan dalam nada sebaliknya yang bermakna positip atas sebuah keberhasilan atau kemenangan. Dalam “Bravo!” dipastikan tersembunyi angka 13

TIME IS XVENXIV (2005)
Lagi lagi tema tahun 2005 ini reminder yang menjadi alert untuk kita menghargai waktu dan perjalanan. Jangan sia-siakan umurmu dan waktumu. Secara kreatif menterjemahkan “Expensive” menjadi XPENXIV bukan perkara mudah. Dan juga bukan sesuatu yang dipaksakan. Ia adalah hasil eksplorasi yang mendalam untuk kita jadikan motivasi.

LIMABELAS (2006)
Tanpa tema dan kata. Simbolnya adalah angka 15 yang dibentuk dari gabungan potongan “fine art” karya Matamera dan teman-teman perupa. Gagasannya adalah “unlimited” dimana pada tahun itu kita banyak terinspirasi oleh karya-karya teman perupa yang kita libatkan dalam proyek-proyek Matamera.

IT’S NOT BRIGHT ENOUGH (2007)
Ulang tahun ke 16 yang tidak dirayakan dan hanya diingatkan oleh sepenggal kalimat “It’s Not Bright Enough!” juga sebuah peringatan untuk tetap menjaga kreatifitas agar tetap cemerlang. Tentu saja dalam kalimat itu ada angka 16nya.

SWEAT SEVENTEEN (2008)
Tahun 2008 kita membuat tema pelesetan dari Sweet Seventeen menjadi Sweat Seventeen. Artinya adalah perjalanan yang melelahkan. Punya makna pesimis ? Tentu saja tidak. Artinya perjalanan panjang dan melelahkan ini agar dapat dimaknai dengan seharusnya. Bahasa perjuangannya “Matamera ini dibangun dengan keringat dan darah” jadi tak boleh menyia-nyiakan usia tanpa karya nyata. Tujuh belas tahun juga identik dengan “pemberontakan” seorang yang memasuki usia remaja. Dalam pemaknaan kami, seventeen allow us to ‘break the rules’…
Semua logo itu menjadi motivasi untuk selalu berubah dan beroleh hal baru. Lalu apa rencana kedepan ? Pasang surut yang dialami sebuah bisnis dengan pelajaran pelajaran berharga yang ditemui di tengah perjalanan memberikan inspirasi yang akan menjadi platform Matamera ke depan. Yang pasti sebagai institusi kreatif Matamera akan menggunakan kematangannya untuk mengerjakan hal-hal penting bagi klien-klien penting.
Saya selalu membayangkan Heraclitus sang filsuf Yunani itu ketika menyuarakan kata “sakti”nya “Panta rei” apakah ia lakukan sambil lari terengah-engah atau sambil santai menyeruput kopi di sore hari. Karena tidak disangka bahwa maknanya menjadi demikian berkesan “everything is constantly changing, from the smallest grain of sand to the stars in the sky. Thus, every object ultimately is a figment of one’s imagination. Only change itself is real, constant and eternal flux, like the continuous flow of the river which always renews itself”. jadi, lets work, play and keep changing….. Ajakan kami untuk Anda semua
Posting terkait: Situs Desain Grafis Indonesia
KESETRUM JOHN HOWKINS DI NUSA DUA
Yang ini kisah “kesetrum” yang asik punya. Pokoknya kaya mimpi aja berjumpa John Howkins di Bali. Bukan soal mendewakan dia tapi soal excited aja. Memangnya siapa sih John Howkins itu ? Nah, untuk menjawabnya kita tengok dulu istilah “Creative Economy” yang 3 tahun belakangan ini demikian ngetopnya di Indonesia dan di belahan dunia lainnya. Istilah “Creative Economy” inilah yang pertamakali diperkenalkan oleh John Howkins. John Howkins adalah tokoh terkemuka global dalam pengembangan ekonomi kreatif, bukunya ‘The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” diterbitkan oleh Penguin tahun 2001 dan menjadi buku “best seller”. Creative Economy adalah analisis komprehensif mengenai ekonomi baru berdasarkan creative people, creative industry dan creative city. Jadi, John Howkins itu boleh juga kita sebut sebagai Bapak “Creative Economy”


Melihat presentasinya “Creative Ecology” langsung alias live demikian menyenangkan. Presentasinya dibawakan dengan sangat clear dengan intonasi yang jelas dan terkesan “nyantai”, maklum barangkali “jam terbang”nya sudah kebanyakan. Presentasinya ini ternyata adalah bagian dari isi bukunya teranyar “Creative Ecologies: Where Thinking is a Proper Job” yang akan diterbitkan di musim spring 2009.
John Howkins datang ke Bali untuk menjadi pembicara pada 2nd WIPO (The World Intellectual Property Organization ) on Intelectual Property and the Creative Industries di Nusa Dua 2-3 Desember 2008. Lucky me, bersama Dethu, Marlowe, Sarah dan Sugi bisa turut mendengarkan dan melihat langsung presentasi John Howkins disana. Acara ini bukan hanya menghadirkan John Howkins namun juga para pelaku di industri kreatif dunia untuk sharing soal bisnis industri kreatif dan intellectual property. Dari Bali, Obin pemilik Bin House juga mempresentasikan kisahnya menggeluti kain dan sutera batik hingga kini dibantu sekitar 2500-an pengerajin dan pekerja. Obin-yang mengaku hanya seorang tukang kain, bukan desainer ini- membawakn presentasinya dengan bahasa Inggris yang sangat memukau peserta konferensi.

Melihat langsung John Howkins mempresentasikan buah pikirannya dan bisa menyapa serta berfoto bersama ada perasaan “afdol”, seperti mendapat “restu” untuk berkiprah merealisasikan apa yang diperjuangkan dalam “Creative Economy” termasuk turut mengembangkan komunitas kreatif untuk bersama-sama “make money from ideas”.
KEMULIAAN TANGAN DI ATAS

Sangat cerdas menggunakan semiotika tangan di atas sebagai perlambang memberi dan diimplementasikan dalam sebuah komunitas yang saling mengasihi sesama anggotanya dengan cara membimbing, memfasilitasi dan membantu untuk sukses dalam pekerjaan dan bisnisnya.
Awal berdirinya Komunitas Tangan Di Atas (TDA) sangat unik namun sederhana, berawal dari sebuah blog yang ditulis oleh salah satu pendiri TDA, yaitu Badroni Yuzirman (http://www.roniyuzirman.blogspot.com/). Isi blog tersebut menurut sebagian orang cenderung memprovokasi pembacanya untuk menjadi pengusaha atau TDA. Kemudian, dari para pembaca blog tersebut tercetus ide untuk membuat pertemuan dalam bentuk talkshow dengan menghadirkan Haji Ali, salah satu tokoh sukses yang sering diceritakan di blog tersebut. Tanggal 12 Januari 2006 adalah tanggal diadakannya talkshow tersebut yang dihadiri oleh sekitar 40 orang bertempat di Restoran Sederhana Rawamangun, Jakarta Timur. (more…)
MENJUMPAI ESENSI BARU KATA “MERDEKA”
Saya bagi sebuah kisah di hari Minggu, kisah nyata yang bukan karangan. Minggu pagi 17 Agustus 2008 hari itu mendung menyelimuti Bali hingga ke arah Bangli, sedari Gianyar sampai memasuki wilayah Bangli bahkan hujan rintik. Suasana ini mengingkari rasa merdeka yang seharusnya diiringi langit terang. Kendaraan beriringan menanjak jalan menuju Rumah Sakit Jiwa Bangli.
Apakah cuaca ini menjadi sebuah pertanda ? Kegalauan hati akan makna kata merdeka yang kian hambar ? Berkali saya melihat dan merasakan banyak orang gundah. Katanya, ketika setiap orang mendefinisikan kata Merdeka dengan sangat pribadi justru menghadirkan arogansi yang malah menjadi penindasan atas orang lain dan orang banyak. Kemerdekaan bagi sebagian orang membuat benteng bagi dirinya sendiri sebagai dalih bebas melakukan apa saja yang dimauinya. Dalam 63 tahun kemerdekaan Indonesia justru masih banyak praktek kemerdekaan yang semu. Meniadakan orang lain, secara individu dan kolektif menghalangi hak orang lain, memonopoli untuk kepentingan pribadi dan yang paling gawat adalah mengabaikan makna kebangsaan padahal negeri ini tengah memerlukan persatuan bangsanya untuk lebih berprestasi dan bermartabat. Ungkapan-ungkapan ini saya kumpulkan dari beberapa obrolan. Ada benarnya tapi kata saya sih, do the simple thing but do it seriously. Memerdekakan orang lain dari “keterbelakangannya” mendefinisikan kata merdeka
Dan Minggu 17 Agustus itu saya mencoba memerdekakan diri saya. Adalah sesuatu yang serius saya memutuskan turut ke RSJ Bangli bersama Bali Blogger Community untuk berbagi dengan mereka yang menghuni RSJ dengan memberi buku, peralatan mandi, makanan, sedikit uang dan hiburan. Mendung memang mengantar kepergian rombongan menuju Bangli, tapi semangat merdeka nampak sangat nyata hingga akhir acara.
Setidaknya ada dua alasan yang membuat mengapa harus merayakan hari kemerdekaan Indonesia di rumah sakit jiwa. Pertama, Orang sakit jiwa adalah orang yang “dimerdekakan” dari segala tanggung jawab dunia akhirat. Kedua, Orang waras yang katanya merdeka ternyata malah banyak yang sakit jiwa. Sebagai early warning system bagi saya, penting untuk study banding ke RSJ ya terutama buat kasih tahu diri saya sendiri untuk “jangan kebablasan”. Dan memang menjadi sebuah perenungan baru ketika mengalami berada disana, berdialog, dan bermain untuk tahu esensi baru kata merdeka. Gotcha!















Lihat juga referensi lain:
1. Hendra.ws
2. Sakti Soediro
3. Bale Bengong
4. Animo
5. Rumah Tulisan
Correct Me If I’m Right

Related to what we will face this week about Bali Blogger Community (BBC) launching, Anton Muhajir, one of BBC’s activist remind me to use the slogan “Mai nge-blog Pang sing Belog”. That is creative term in bahasa Bali means “Go blog be smart.” It work! And I suddenly remember about one slogan for World Press Freedom Day 2007 made by Loesje. I found one slogan that really impress “Correct me if I’m right”. So deep… for the responsible of freedom.
For me, Loesje is really interesting. My Wiki reference mention (that) Loesje is an international free speech organisation started in Arnhem (Netherlands) in 1983. Loesje went international in 1989. Its charter is to spread creativity, positive criticism, ideas, philosophical ponderings and thoughts on current events by way of short slogans on posters, signed by a fictional character, Loesje (a Dutch female name).
Loesje is currently active in over 30 countries to some extent including Argentina, Armenia, Bosnia, Belgium, Catalonia, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Hungary, Iceland, Italy, Latvia, Lithuania, Mexico, the Netherlands, Nigeria, Poland, Portugal, Romania, Russia, Serbia, Slovenia, Sweden, Switzerland, and the United States of America. In September 2006, people from over 100 countries visited the international website according to the statistic on the site.
The total number of people spreading posters and writing texts is unknown and for sure posters have been distributed in other countries, according to Loesje’s newsletter; however, there are approximately 500 people who receive the Dutch version of the monthly bulletin, and around 200 people who receive the international version. It is however read on the website by around 1000 people according Loesje’s international office.
At the moment Loesje’s headquarters are located in Berlin (since September 2005) and from there Loesje implements and coordinates many diverse international projects around the world.
The overall topic is: freedom of expression (that includes freedom of speech, press freedom, opinion forming and making) and to work in every country with a main artistic mean such as: music, video, photography, theatre, creative writing, street art and painting, graphical and digital design and dance and movements
Last year Loesje also exhibit some of the posters in Erasmus Huis, Jakarta
About World Press Freedom Day
With the project Loesje wants to promote intercultural learning, communication and cooperation by creating a collective book and dvd. Next to that Loesje wants to promote freedom of expression and free speech as essential human rights and to empower people to make use of it, by giving creative writing workshops, writing and publishing on the topic and to promote World Press Freedom Day.
It’s clear for us that the social movement and campaign is important to communicate in some level of understanding and creativity. Bali Blogger let’s celebrate the freedom of expression. Mai nge-blog (na’e) Pang sing belog.
Visit http://www.1-day.org/ also http://www.loesje.org/



