KESETRUM JOHN HOWKINS DI NUSA DUA

December 2nd, 2008

Yang ini kisah “kesetrum” yang asik punya. Pokoknya kaya mimpi aja berjumpa John Howkins di Bali. Bukan soal mendewakan dia tapi soal excited aja. Memangnya siapa sih John Howkins itu ? Nah, untuk menjawabnya kita tengok dulu istilah “Creative Economy” yang 3 tahun belakangan ini demikian ngetopnya di Indonesia dan di belahan dunia lainnya. Istilah “Creative Economy” inilah yang pertamakali diperkenalkan oleh John Howkins. John Howkins adalah tokoh terkemuka global dalam pengembangan ekonomi kreatif, bukunya ‘The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” diterbitkan oleh Penguin tahun 2001 dan menjadi buku “best seller”. Creative Economy adalah analisis komprehensif mengenai ekonomi baru berdasarkan creative people, creative industry dan creative city. Jadi, John Howkins itu boleh juga kita sebut sebagai Bapak “Creative Economy”


Melihat presentasinya “Creative Ecology” langsung alias live demikian menyenangkan. Presentasinya dibawakan dengan sangat clear dengan intonasi yang jelas dan terkesan “nyantai”, maklum barangkali “jam terbang”nya sudah kebanyakan. Presentasinya ini ternyata adalah bagian dari isi bukunya teranyar “Creative Ecologies: Where Thinking is a Proper Job” yang akan diterbitkan di musim spring 2009.

John Howkins datang ke Bali untuk menjadi pembicara pada 2nd WIPO (The World Intellectual Property Organization ) on Intelectual Property and the Creative Industries di Nusa Dua 2-3 Desember 2008. Lucky me, bersama Dethu, Marlowe, Sarah dan Sugi bisa turut mendengarkan dan melihat langsung presentasi John Howkins disana. Acara ini bukan hanya menghadirkan John Howkins namun juga para pelaku di industri kreatif dunia untuk sharing soal bisnis industri kreatif dan intellectual property. Dari Bali, Obin pemilik Bin House juga mempresentasikan kisahnya menggeluti kain dan sutera batik hingga kini dibantu sekitar 2500-an pengerajin dan pekerja. Obin-yang mengaku hanya seorang tukang kain, bukan desainer ini- membawakn presentasinya dengan bahasa Inggris yang sangat memukau peserta konferensi.


Melihat langsung John Howkins mempresentasikan buah pikirannya dan bisa menyapa serta berfoto bersama ada perasaan “afdol”, seperti mendapat “restu” untuk berkiprah merealisasikan apa yang diperjuangkan dalam “Creative Economy” termasuk turut mengembangkan komunitas kreatif untuk bersama-sama “make money from ideas”.

KEMULIAAN TANGAN DI ATAS

November 2nd, 2008


Sangat cerdas menggunakan semiotika tangan di atas sebagai perlambang memberi dan diimplementasikan dalam sebuah komunitas yang saling mengasihi sesama anggotanya dengan cara membimbing, memfasilitasi dan membantu untuk sukses dalam pekerjaan dan bisnisnya.

Awal berdirinya Komunitas Tangan Di Atas (TDA) sangat unik namun sederhana, berawal dari sebuah blog yang ditulis oleh salah satu pendiri TDA, yaitu Badroni Yuzirman (http://www.roniyuzirman.blogspot.com/). Isi blog tersebut menurut sebagian orang cenderung memprovokasi pembacanya untuk menjadi pengusaha atau TDA. Kemudian, dari para pembaca blog tersebut tercetus ide untuk membuat pertemuan dalam bentuk talkshow dengan menghadirkan Haji Ali, salah satu tokoh sukses yang sering diceritakan di blog tersebut. Tanggal 12 Januari 2006 adalah tanggal diadakannya talkshow tersebut yang dihadiri oleh sekitar 40 orang bertempat di Restoran Sederhana Rawamangun, Jakarta Timur. Continue reading »

BAILOUT

October 25th, 2008